it’s about all word’s

orkestra komunikasi penjualan

Posted on: April 25, 2008

Judul: Marketing Communications Orchestra
Penulis: Hifni Alifahmi
Penerbit: Examedia Publishing, Februari 2008
Tebal: 262 Halaman

Dalam dunia pemasaran saat ini yang semakin ketat dan masif diperlukan komunikasi pemasaran yang efektif dan kreatif untuk mendukung produk yang akan ditawarkan kepada konsumen.

Saat ini dengan dukungan media komunikasi yang semakin instan makin dikenal konsep penerapan komunikasi pemasaran terpadu atau Integrated Marketing Communications (IMC).

Dengan sistem ini dikenal sinkronisasi komponen dan teknik penjualan seperti iklan, public relations, promosi penjualan, kegiatan (event), penjualan secara langsung (direct-marketing), internet, materi promosi di titik penjualan (point of sales), pelayanan konsumen (customer service), hingga pemasaran dengan sistem getok-tular (word-of-mouth).

Patron IMC diperlukan untuk mengenalkan (awareness), membangun citra baru produk (repositioning) dan diharapkan mendorong preferensi konsumen terhadap produk yang ditawarkan.

Buku karya Hifni Alifahmi bukan referensi IMC yang pertama kali ditulis. Jika dihitung-hitung malah masih ketinggalan dibandingkan Herman Kertadjaya atau Rhenal Kasali.

Namun buku ini menarik karena Hifni yang berlatar belakang pendidik dan praktisi komunikasi pemasaran dalam buku setebal 262 halaman ini mencoba membagikan konsep IMC dalam wadah yang lebih terstruktur dan praktis.

Pendekatan dalam buku ini tak terus menerus berkutat pada teori namun disajikan berimbang dengan contoh dan studi kasus komunikasi yang telah terjadi di pasar dalam dan luar negeri.

Beberapa strategi menjadi menarik dan sukses menciptakan brand awareness dan repositioning product karena berani keluar dari patron komunikasi dan kecenderungan yang ada di pasaran.

Sebagai penggemar jazz, Hifni menyebut spirit IMC adalah sinergi pesan dan harmonisasi komponen komunikasi pemasaran seperti orkestrasi musik yang menghasilkan keindahan irama.

Melalui strategi komunikasi yang terintegrasi IMC dijabarkan dalam tujuh dimensi orkestrasi yaitu reputasi, strategi pesan yang menghasilkan kesan tunggal, khalayak, keterpaduan media, harmonisasi insani, dukungan organisasi dan tentu saja integrasi pemasaran.

Agar beragam komponen IMC berada dalam satu komando dirijen orkestra, maka perlu diawali audit komunikasi pemasaran untuk mengetahui tingkat keterpaduan semua dimensi tersebut.

Beberapa studi kasus yang penulis coba kuliti adalah Avanza-Xenia, Lifebuoy, susu Anlene, Bank BCA, Bank Mega, Bank BNI, deterjen Rinso hingga pemasaran Metro TV dan Café Wien.

Tak hanya menggarap strategi pemasaran produk, Hifni juga mencoba menbahas BUMN yang sejak satu dasawarsa terakhir berubah arah dari pelari tambun yang lamban menjadi lebih enerjik mengimbangi kecepatan korporasi swasta di era persaingan bebas dan keterbukaan.

Menurut penulis untuk membangun citra dan reputasi BUMN ada empat lapis reputasi yang perlu dikelola secara cermat yaitu reputasi personal para eksekutif dan karyawan (personal branding), reputasi produk dan jasa yang ditawarkan (product branding), reputasi korporat atau instansi (corporate branding) dan reputasi industri BUMN (industrial branding) di mata publik.

Privatisasi dan restrukturisasi menjadi langkah jawaban BUMN terhadap tuntutan jaman. Tentu saja langkah ini mendapatkan banyak ganjalan terutama karena mengusik kenyamanan tradisi yang selama ini dinikmati individu di dalam BUMN.

Namun ganjalan mengubah persepsi dan kebiasaan juga menjadi masalah untuk memulihkan citra bangsa. Sampai saat ini pemerintah belum bisa menjadi dirigen yang baik. Komponen bangsa masih berjalan sendiri-sendiri dengan visi dan misinya masing-masing.

Yang menarik, buku ini memberikan harapan bahwa untuk menghasilkan orkestra komunikasi pemasaran tidak mesti dimulai dengan biaya tinggi. Pesatnya penetrasi internet membuat sistem getok-tular (word-of-mouth) kian menjadi pilihan.

Hanya saja dari beragamnya kasus yang sudah dikuliti Hanafi sejak halaman depan hingga terakhir, saya tak berhasil menemukan telaah kritisnya terhadap strategi komunikasi yang terjadi di lapangan.

Pendek kata buku ini hanya membahas hal-hal sukses saja. Penulis tak berusaha memanfaatkan keahliannya mengajak pembaca melihat kisah di balik orkestra komunikasi pemasaran yang sukses dan sering pula gagal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
%d bloggers like this: