it’s about all word’s

Jatuh bangun seabad perbioskopan Indonesia

Posted on: May 5, 2008

Seabad lebih usia perbioskopan di negeri ini. Namun proses panjang itu—di mulai dari gedung bioskop di Jl. Tanah Abang I (Kebon Jahe) Jakarta pada Desember 1900—ternyata belum mampu mendongkrak perfilman nasional. Termasuk sisi bisnis bioskop itu sendiri.

Film dan bioskop memang pernah mengalami zaman keemasan selama satu dasawarsa lebih, yakni mulai 1970 hingga 1986. Di mana jumlah gedung bioskop mencapai lebih dari 5000 layar, dan produksi film 200-an judul per tahun.

Tetapi, ketika teknologi pertelevisian dan video mulai merambah, film dan bioskop nasional terpukul. Belum lagi sistem peredaran yang nota bene saat itu dikuasai para booker kian menambah runyam situasi.

Buktinya, bioskop dan film nasional sejak 1986 dari tahun ke tahun terus melorot. Proses kematiannya begitu cepat. Jangankan di daerah-daerah, di kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya hampir tidak kuasa menahan musibah tersebut.

Puncak pelorotan itu pada 1992. Jumlah yang tersisa tidak kurang dari 200-an layar dan kuantitas produksi film dalam hitungan jari. Itu pun didominasi karya sineas-sineas muda, sementara para seniornya sebagian besar tiarap, kecuali Garin Nugroho masih terbilang tetap eksis.

Sistem peredaran

Menurut Ketua Gabungan Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) Noorca M. Massardi, sejak mulai melorot 1986 hingga 2003 bioskop yang masih bertahan adalah pemilik modal kuat seperti kelompok 21 Cineplex, PT Kharisma Jabar, Raam Punjabi dan segelintir investor daerah.

Sedangkan pemodal lemah terpaksa menggulung layar. Tidak mampu bertahan karena produksi lokal stagnan dan film impor dihambat kuota yang jumlahnya hanya 180 judul pertahun.

“Dapat dimengerti kenapa mereka gulung layar, biaya operasional tak sebanding dengan pendapatan karena minusnya pasokan film. Suka atau tidak suka bioskop pun ditutup,” kata Noorca kepada Bisnis baru-baru ini.

Dijelaskan, salah satu penyebab produk film lokal stagnan, selain akibat industri televisi dan video, adalah sistem peredaran yang dikangkangi pihak ke tiga. Dalam hal ini booker. Ketika itu mereka hampir menguasai seluruh peredaran produksi film lokal.

“Kalau yang jadi booker itu pemilik bioskop, masih dapat dimengerti. Tapi umumnya adalah pelaku yang hanya cari untung dari industri ini,” papar Noorca.

Ditambahkan, sepak terjang booker itulah dicurigai sebagai pemicu merosotnya jumlah produksi film dari tahun ke tahun. “Mereka membeli film secara putus (flat) dengan pembayaran berselang beberapa bulan.”

Itu pun, lanjutnya, jika film yang dibeli banyak ditonton. Jika tidak, ada di antara mereka ngemplang pembayaran dengan berbagai alasan. Tentu saja merugikan, dan membuat produser film nasional tidak lagi bergairah berproduksi.
Kelompok 21

“Tapi kini keberadaan para pelaku itu tergusur, sejalan dengan pertumbuhan bisnis bioskop yang dilakukan oleh kelompok 21 Cineplex. Melalui kerjasama bagi hasil dalam peredaran film, bukan flat play seperti dilakukan booker, sangat menguntungkan dua belah pihak,” urai Noorca.

Sejarah mencatat, lanjut dia, apa yang dilakukan kelompok 21 dinilai insan film telah menggairahkan perfilman nasional dan importir film asing. Buktinya, selama lima tahun belakangan ini (sejak 2003) jumlah produksi terus meningkat.

“Tahun ini diperkirakan ada 125 judul film lokal, dan seratus lebih film import yang akan diputar di seluruh bioskop nasional,” jelasnya.

Begitu juga jumlah bioskop, direntang lima tahun belakangan, yang semula hanya 200-an bertambah menjadi sekitar 505 layar di seluruh Indonesia (data akhir April 2008).

“Kami mencatat, kelompok 21 ada 379 layar di 90 lokasi, sedangkan non 21 sekitar 126 layar di 38 lokasi,” rinci Noorca.

Tentang pergeseran sistem peredaran film lokal dibenarkan Shanker BS, produser Indhika Entertaiment. Pihaknya kini dapat mengetahui secara je-las berapa jumlah penonton film produksinya yang di putar di layar milik kelompok 21 di seluruh Indonesia.

“Kalau dengan sistem flat yang dilakukan booker, produser nggak bisa mengetahui. Kerjasama dengan kelompok 21 setiap saat di bisa kontrol, dan akurasi jumlahnya lebih dipercaya,” jelasnya kepada Bisnis.

Karena itu, Shanker mengaku, seluruh peredaran film produksinya diserahkan kepada kelompok 21. “Baik yang beredar di kota-kota besar maupun daerah. Terus terang, saya merasa nyaman.”

Hal senada dikatakan produser Starvision Plus Chan Parwez Servia bahwa peredaran film nasional sekarang ini sudah tertata rapih. Semua itu merupakan upaya pemilik bioskop saat ini.

“Terutama pemilik bioskop 21, serta bioskop daerah yang bekerjasama dengan kelompok itu. Tapi di luar kepemilikan 21, sejauh ini saya belum pernah melakukan kerjasama. Belum cocok aja, barangkali ya,” kata Parwez.

S. Hadysusanto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

May 2008
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d bloggers like this: