it’s about all word’s

Kegelisahan Todung tentang HAM

Posted on: May 5, 2008

Pengacara jadi bintang sinetron ada. Pengacara menyembunyikan koruptor lebih banyak lagi, pengacara yang rajin melakukan advokasi HAM tak kurang jumlahnya namun pengacara yang suka menulis bisa dihitung di negeri ini.

Akhir Maret lalu, pengacara Todung Mulya Lubis meluncurkan dua buku bertajuk ‘Jalan Panjang Hak Asasi Manusia’ dan ‘Catatan Hukum Todung Mulya Lubis: Mengapa Saya Mencintai Negeri Ini?’ yang menandai 18 tahun kantor hukumnya.

Ulang tahun The Law Office of Mulya Lubis and Partners atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama Lubis Santosa and Maulana Law Offices di gelar Hotel Dharmawangsa dan dihadiri banyak pejabat penting termasuk Dubes AS, Cameron R. Hume.

Dalam buku ‘Jalan Panjang Hak Asasi Manusia’ pria kelahiran Muara Botung, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara 4 Juli 1949 itu menuangkan pandangan tentang HAM dalam beragam tempat dan media.

Buku ini merupakan bunga rampai karya tulisnya dari berbagai sumber, terutama media massa, terentang sejak 1990 sampai 2004.

Melalui buku ini, para pembaca dapat melihat bagaimana potret peristiwa HAM yang ditulis dengan pandangan dan analisis yang kritis. Rentang tulisan Mulya Lubis melintasi masa-masa suram demokrasi di Indonesia, sejak kepemimpinan diktator otoriter Soeharto, Habibie, Gus Dur, sampai Megawati.

Tema kumpulan tulisan ini berputar pada masalah HAM, dengan titik perhatian pada persoalan pelanggaran HAM masa lalu dan mereka yang menjadi korban. Tak hanya menunjukkan perhatian dan empati, Mulya Lubis juga banyak menyinggung bagaimana ide kebebasan serta penguatan hukum dan HAM.

Tentu saja tulisan-tulisan Todung tak melulu kaku. Karena pada dasarnya Todung adalah pria penggila dunia sastra. Dari tangannya, banyak lahir sejumlah tulisan sastra.

Beberapa di antaranya terbit di majalah Horison, Sastra dan Basis. Kumpulan sajaknya bersama Rayani Sriwidodo, “Pada Sebuah Lorong” terbit pada 1968. Tak heran tulisan-tulisannya soal hukum meski teoritis terasa renyah dan bernas.

Namun yang jelas menarik adalah buku ‘Catatan Hukum Todung Mulya Lubis: Mengapa Saya Mencintai Negeri Ini?’ yang lebih intim karena Todung bertutur tentang pengalamannya sebagai pengacara garis keras.

Maklum pada buku ini Todung mengkritisi banyak hal. Mulai dari praktek penipuan sah para koleganya hingga menyangkut kasus hukum pejabat-pejabat penting Tanah Air.

Soal nyali, Todung memang sudah teruji. Jebolan Law School, University of California, Berkeley, USA dan Harvard Law School, Cambridge, Massachusetts, USA itu pernah masuk daftar cegah-tangkal di era pemerintahan Soeharto.

Tak hanya kena cekal ketika akan bepergian ke luar negeri. Todung juga dilarang tampil di berbagai forum, tidak boleh menulis di media massa, hingga dilarang mengajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

May 2008
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d bloggers like this: