it’s about all word’s

Nelson Tansu: on interview

Posted on: May 9, 2008

13 tahun tahun lalu, nama Nelson Tansu ketika menjadi finalis Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) belum ada apa-apanya. Nama Tansu yang bebau-bau Jepang ini kembali tergiang di telinga saya ketika berjumpa Profesor Yohanes Surya dua tahun lalu.

Tentu bukan tanpa sebab jika Yohans Surya selalu merekomendasikan Tansu sebagai Albert Einstein Indonesia. Prestasi anak muda kelahiran Medan, 20 Oktober 1977 ini memang mengagumkan.

Pada usia 25 tahun dia telah berhasil meraih gelar PhD di University of Wisconsin, Madison, dan kemudian menjadi profesor di universitas ternama Amerika, Lehigh University, Pensilvania. Prestasi ini melampaui warga AS sendiri.

Bidang ‘semiconductor optoelectronics dan semiconductor nanostructure devices’ yang ditekuninya pun bikin geleng-geleng karena terapannya jadi rebutan karena bisa diaplikasikan dalam semua bidang industri saat ini.

Berikut perbincangan saya dengan Nelson Tansu melalui surat elektronik. Berikut petikannya:

Bagaimana latar belakang keluarga Anda sampai bisa memberi motivasi untuk mencapai level pendidikan saat ini? adakah saudara yg sebelumnya pernah bergelut dengan dunia pendidikan di AS atau di negara lain? siapa dia dan dimana sekarang?

Tentu saja, keluarga saya adalah yang paling penting dalam memberi motivasi kepada saya dengan besar. Orang tua saya (Alm. Iskandar Tansu dan Alm. Auw Lie Min / Lily Auw) merupakan orang tua yang sangat baik yang memberikan nasihat, dorongan, dan cinta kasih yang sangat berlebihan kepada anak-anak nya (abang saya Tony Tansu, saya sendiri, dan adik saya Inge Tansu).

Saya rasa, tanpa adanya kedua mendiang orang tua saya, saya tidak akan mampu mencapai pada posisi saya sekarang ini. Tetapi sangat disayangkan, kedua orang tua saya menjadi korban perampokan yang berakhir dengan pembunuhan di Medan sekitar Agustus 2007.

Kami semua anak-anak mereka sangat mencintai kedua orang tua kami, tetapi mungkin demikian lah takdir Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi, kami beruntung bahwa mereka telah memberikan yang terbaik kepada anak-anak mereka, yaitu memberikan kesempatan pendidikan terbaik kepada kami, dan memberikan banyak wejangan untuk menjadi orang-orang yang baik.

Walaupun sudah hampir 9 bulan, kadang kala saya masih sangat shock dan terkejut mengingat kehilangan mereka yang secara tiba-tiba.

Saya rasa saya belajar banyak dari ayah saya dalam bidang kerja keras, dedikasi yang tinggi, fokus yang tinggi dalam pekerjaan, dan serius dalam melaksanakan tugas. Ibu saya merupakan salah satu orang yang paling baik hati, pemaaf, dan sabar, dan beliau sangat mengajarkan soal etika dan kejujuran kepada anak-anaknya. Saya rasa hal-hal tersebut merupakan pendidikan yang terbaik bagi saya.

Memang orang tua sering berbicara mengenai pendidikan tinggi dan profesi sebagai profesor sejak kecil, jadi hal ini sangat mendukung saya untuk beraspirasi menjadi profesor di bidang fisika dan ilmu teknologi terapan. Ada juga beberapa orang di keluarga kami (paman, dan sepupu) yang pernah menjadi professor dan dekan di universitas-universitas di Singapore dan Hong Kong.

Jadi semua faktor ini sangatlah mendukung saya untuk mengambil keputusan untuk berkarir di bidang akademik. Dan tentu saja sekarang ini, istri saya (Adela Gozali Yose) juga merupakan orang yang selalu memberikan support yang banyak untuk karir akademik dan riset saya.

Adakah kesulitan ketika menempuh pendidikan di AS? apakah sempat mengalami gegar budaya? perbedaan tingkat pendidikan? home sick? keuangan? bagaimana menyiasatinya?

Saya tidak mendapat gegar budaya atau banyak kesulitan untuk beradaptasi di AS. Mungkin, karena saya memang sangat fokus untuk tujuan saya di AS yaitu berusaha belajar dengan sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan menjadi ilmuwan dan professor di kemudian hari.

Mengenai keuangan, saya beruntung bahwa orang tua mampu untuk menyediakan dana di tahun pertama pendidikan S1 saya, dan selanjutnya dari tahun ke-dua S1 sampai S3 saya mendapat bea siswa dari universitas (University of Wisconsin-Madison).

Tentu saja saya kadang-kadang merasa rindu dengan orang tua (sewaktu saya sekolah), jadi saya sering berkomunikasi melalui telepon dengan mereka.

Alasan mengapa Anda memilih bidang fisika optikal? belum ketatnya persaingan ataukah bidang ini sebegitu menantang? atas rekomendasi siapa Anda kemudian memutuskan untuk menekuni bidang ini?

Bidang saya sebenarnya mencakup applied physics (fisika terapan) dalam bidang nanoteknologi, semiconductor, dan optoelectronika. Jadi dapat dikatakan mencakup tiga bidang fundamental yaitu quantum mechanics, electromagnetics, dan solid state physics.

Saya merasa bidang applied physics merupakan salah satu bidang yang paling penting, di mana kami dapat mengunakan prinsip-prinsip dari fundamental fisika untuk mencari solusi bagi bidang engineering yang memiliki impact yang besar bagi teknologi.

Jadi dapat dikatakan bahwa murid-murid PhD dalam riset group kami adalah harus merupakan orang-orang yang memiliki kemampuan yang kuat sekali dalam bidang fisika dan engineering, bukan hanya dalam salah satu bidang saja.

Bagaimana tidak menarik bagi kami? Kami melakukan fisika, dan solusinya memilik positive impact di teknologi. Dan tentu saja, saya sangat beruntung mendapatkan PhD advisor yang sangat bagus yaitu Prof. Luke J. Mawst dari University of Wisconsin-Madison, yang menjadi mentor saya sewaktu pendidikan S3 saya.

Sekarang selama di Lehigh University juga, banyak kolega-kolega saya di Lehigh juga merupakan fisikawan terapan (applied physicisits) yang sangat bagus terutama dalam bidang nanotechnology, semiconductors, photonics, dan optoelectronics.

Apakah pihak NASA atau lembaga riset terkemuka lain di AS sudah melibatkan Anda dalam riset mereka? atau adakah riset-riset Anda telah diterapkan oleh lembaga-lembaga riset AS? bisakah disebutkan proyek apakah itu?

Riset kami memang selalu disupport dalam bentuk dana riset oleh lembaga-lembaga scientific dan riset di AS. Memang hampir semua riset kami adalah berasal dari dana pemerintah federal di AS, dan sebagian lainnya berasal dari pemerintah negara bagian (seperti provinsi).

Untuk mendapatkan dana riset memang sangatlah kompetitif, terutama dana dari lembaga National Science Foundation dan Department of Energy. Dari kedua lembaga tersebut, dapat dikatakan merupakan dana yang paling prestisius karena proposal kita dievaluasi oleh profesor-profesor lain dari universitas lain sebelum diberi dana.

Biasanya hanya kurang dari 7-10% proposal yang akan disetujui untuk diberi dana. Sekarang ini riset yang paling aktif di group kita (dana dari National Science Foundation, Department of Energy, dan State of Pennsylvania) adalah dalam bidang nanoteknologi untuk bidang energi, terutama untuk applikasi dalam bidang solid state lighting applications dan solar photovoltaic cells.

Jika ya. bagaimana sistem kompensasi yang Anda terima? Dana penelitian beserta fasilitas ataukah dalam bentuk gaji sebagai peneliti? apakah ada klasul yang menyebutkan hasil penelitian Anda tetap dapat dinikmati Indonesia dengan cuma-cuma? atau setiap penelitian yang melibatkan Anda, mahasiswa Indonesia mendapat kesempatan turut serta sebagai mitra?

Gaji professor di Amerika Serikat dibayar oleh universitas selama 9 bulan, dan kita dapat menambah 3 bulan (atau lebih) dari dana untuk riset. Dana riset memang hampir semuanya digunakan untuk riset yaitu untuk gaji dan biaya murid-murid S3 yang melakukan riset, biaya peralatan, biaya materials, dan lain-lainnya.

Tetapi lembaga federal memperbolehkan profesor untuk menambah kompensasi tambahan sesuai perjanjian professor dan universitas.

Mengenai hasil penelitian, semua hasil penelitian dimiliki bersama oleh professor, murid-murid S3, universitas, dan pemerintah federal juga. Kecuali jika dana riset berasal dari industri, maka biasanya terjadi negosiasi antara universitas dan perusahaan mengenai bagaimana hak cipta akan dibagi. Biasanya pihak universitas akan tetap memiliki hak cipta dari penemuan tersebut.

Sayang sekali memang tidak ada peraturan di AS yang mengharuskan bahwa Indonesia dapat menikmati hasil penelitian dengan cuma-cuma. Tetapi di group riset kami, saya memiliki 1 murid S3 asal Indonesia (yang akan tamat dalam 1-2 bulan) yang memang telah terlibat dalam riset group kami sehingga memiliki banyak publikasi dalam nanoteknologi dan optoelectronics bersama dengan saya dan murid-murid S3 lainnnya di group kami.

Saya memang selalu mencari orang-orang Indonesia yang tepat untuk melanjutkan S3 mereka di Lehigh, dan memang akan ada 1 orang Indonesia baru yang masuk ke group kami untuk pendidikan S2 mulai Juli 2008.

Apakah mungkin bidang yang Anda tekuni saat ini ditransfer dan diterapkan di Indonesia? jika tidak apa kendalanya? dana? teknologi? sumber daya manusia? ataukah kemauan dan perhatian pemerintah?

Tentu saja, bidang riset kami dapat diterapkan di Indonesia. Tetapi, beberapa kendala yang paling besar adalah soal non-teknis, yang mencakup sumber daya manusia, dana, keamanan, dan stabilitas politik dan sosial di Indonesia.

Secara teknologi, tentu saja hal ini dapat diterapkan, tetapi masalah investasi skala besar dalam bidang teknologi memerlukan investor yang percaya dengan stabilitas dan keamanan di Indonesia. Investasi awal yang diperlukan adalah paling sedikit sekitar US$20-US$30 juta (rata-rata lebih dari US$50-US$60 juta).

Produksi dalam bidang semiconductor chips adalah bidang terapan yang sangat bagus untuk meningkatkan kualitas insinyur dan pendidikan tinggi di bidang teknologi di Indonesia.

Jika bidang terapan Anda memungkinkan diterapkan di Tanah Air. Menurut Anda sistem apa yang menurut Anda tepat. Murni melalui universitas, pusat riset seperti BPPT? ataukah kolaborasi melibatkan swasta?

Secara jujur, saya melihat pada saat ini adalah lebih untuk melibatkan swasta dalam pengembangan teknologi terapan kami untuk menjadi tingkat produksi di Indonesia. Saya sangat ingin meningkatkan kualitas universitas-universitas di Indonesia, dan saya sangat berharap untuk berkunjung ke beberapa universitas dan berusaha untuk memulai kolaborasi.

Untuk berkolaborasi dengan professor ataupun researcher di universitas dan BPPT, saya rasa kami harus lebih saling mengenal personal dan fasilitas yang tersedia di Indonesia. Tentu saja, saya sangat entusias untuk membantu perkembangan riset di tanah air, terutama di universitas-universitas dan lembaga penelitian di Indonesia.

Dengan prestasi Anda saat ini? apa target Anda selanjutnya? masih menekuni bidang ini ataukah ada bidang terapan lain yang akan Anda rambah?

Prestasi saya adalah biasa biasa saja, dan masih jauh dari banyak profesor-profesor lain di Amerika Serikat. Saya tentu saja masih belajar banyak dari banyak kolega-kolega di Lehigh University, dan juga universitas lain di Amerika Serikat. Saya rasa dalam jangka waktu dekat ini, group kami (www.ece.lehigh.edu/~tansu) masih akan menfokus dalam bidang fisika dan fisika terapan dari semiconductor nanotechnology dan devais untuk applikasi di solid state lighting, solar and thermo photovoltaic, thermoelectric, lasers, communications, dan bioteknologi.

Terutama dengan mengunakan system semiconductor yang berelemen InGaN / InAlGaN dan InGaAsSbN. Fokus riset group kami memang adalah untuk mengunakan nanoteknologi untuk mencari solusi bagi energy.

Dalam jangka waktu dekat, kita memiliki rencana untuk melakukan riset untuk mengembangkan dilute magnetic semiconductor untuk menghasilkan semi konduktor yang dapat memiliki properti untuk menghasilkan photon (cahaya), men-transport elektron, dan memiliki property spin.

Apa pendapat Anda tentang pendidikan Indonesia saat ini? apakah pendidikan Indonesia tertinggal dibandingkan negara lain. Sehingga diperlukan investasi besar-besaran sekolah internasional di dalam negeri lengkap dengan kurikulum asing mereka?

Saya rasa pendidikan dari SD sampai SMA di kota-kota besar di Indonesia adalah sangat bagus, terutama di sekolah-sekolah top di kota-kota tersebut. Masalah di Indonesia ini bukanlah masalah kurikulum yang lemah, tetapi mengenai kualitas dan ketersediaan guru di daerah-daerah di luar kota-kota besar.

Tentu saja masalah gaji dan kualitas harus disesuaikan bagi guru. Jika kita memberikan gaji yang rendah bagi guru dan profesor di Indonesia, tentu saja sangat sulit bagi kita untuk menarik talenta-talenta terbaik untuk menjadikan guru dan profesor sebagai profesi.

Jadi sangat penting bagi Indonesia untuk menaikkan kesejahteraan guru dan profesor dengan menaikkan gaji mereka, tetapi juga harus diikutin dengan peningkatan kualitas yang sangat signifikan.

Saya percaya bahwa kita harus belajar dari Singapore bahwa mereka membayar gaji guru lebih tinggi dari insinyur, dan juga gaji profesor mereka merupakan salah satu yang terbaik di tingkat Asia. Dengan demikian, mereka dapat menrekrut talenta-talenta terbaik domestik dan luar negeri untuk menjadi guru dan profesor di Singapore.

Memang tidak ada cara yang mudah untuk memperbaiki keadaan pendidikan di Indonesia dalam jangka waktu yang pendek. Tetapi saya rasa kurikulum Indonesia bukanlah merupakan kelemahan, tetapi peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru yang paling penting untuk menarik orang-orang terbaik masuk ke profesi pengajar.

Kita sebagai masyarakat tidak boleh menaruh ekpetasi bahwa guru dan profesor harus mengabdi tanpa bayaran yang layak. Dan, jika demikian ekspetasi kita (guru dan profesor harus mengabdi tanpa bayaran yang layak), maka akan sangat sedikit sekali talenta terbaik generasi muda yang memiliki aspirasi untuk menjadi guru atau profesor.

Mungkinkan proses brain drain ala China dan India dikembangkan di Indonesia seperti saran profesor Yohannes, direktur tim Olimpiade Fisika Indonesia? Yaitu mengirimkan siswa-siswa terbaik Indonesia ke Amerika dan universitas ternama Dunia?

Saya setuju bahwa memang siswa-siswa terbaik Indonesia dikirim ke universitas-universitas ternama di Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan negara-negara maju lainnya.

Pendidikan dan pengalaman yang akan mereka dapatkan sangatlah berharga bagi siswa-siswa tersebut. Misalnya di Amerika Serikat, murid-murid tersebut berkesempatan untuk bekerja di riset-riset yang maju dalam bidang sains and ilmu teknologi, terutama banyak riset-riset yang hanya dapat dilakukan dengan adanya alat-alat yang sangat mahal.

Misalnya dalam bidang nanoteknologi, hampir semua peralatan yang diperlukan untuk men-sintesis material, men-karakterisasi material, menghasilkan devais, dan men-karakterisasi devais memerlukan peralatan yang sangat mahal.

Selain hal tersebut di atas, murid-murid tersebut dapat juga bekerja dengan profesor-profesor yang benar-benar serius dan berdedikasi dalam bidang riset dan pendidikan S3 di universitas-universitas ternama di AS.

Di dalam group riset, murid-murid Indonesia tersebut juga berkesempatan untuk berinteraksi dengan murid-murid PhD dan postdoctoral yang berkualitas tinggi dari negara-negara lain, dan hal ini sangatlah penting dalam perkembangan profesional murid-murid tersebut.

Saya kira pengalaman murid-murid Indonesia yang melanjutkan pendidikan sampai S3 di universitas-universitas ternama di AS sangatlah berharga dan berguna.

Akan tetapi, salah satu masalah penting yang membedakan Indonesia dengan negara-negara lain adalah dalam hal bagaimana untuk mengembalikan murid-murid tersebut ke Indonesia di kemudian hari.

Hal ini adalah sangat penting untuk di-diskusikan. Jika murid-murid Indonesia tersebut sangatlah sukses dalam pendidikan S3 mereka di AS atau Eropa, mereka akan mendapatkan banyak tawaran yang sangat atraktif dari berbagai negara di AS, Eropa, Jepang, dan juga Singapura, dan lainnya.

Tawaran yang atraktif dari negara lain mencakup gaji yang kompetitif, fasilitas riset yang bagus, kesempatan untuk berkembang dalam karir dengan cepat, dan reputasi universitas yang bagus.

Tentu saja, Indonesia haruslah berpikir bagaimana untuk menyediakan wadah-wadah yang kompetitif yang dapat men-rekrut dan menampung murid-murid Indonesia yang telah sangat berhasil dalam riset dan pendidikan tinggi mereka di negara-negara maju. Indonesia harus memiliki universitas-universitas yang memiliki reputasi yang tinggi di tingkat Asia, yang mampu menrekrut profesor-profesor terbaik dalam bidang akademik, riset, dan reputasi.

Untuk meningkatkan kualitas profesor-profesor di Indonesia, maka universitas haruslah mampu meningkat gaji profesor-profesor di Indonesia. Saya sering mendengar keluhan teman-teman yang telah pulang ke Indonesia sebagai dosen dalam bidang gaji, sehingga mereka harus mengambil pekerjaan konsultansi di luar universitas.

Sering juga setelah beberapa tahun dalam posisi demikian, mereka mengambil keputusan untuk pergi ke Malaysia atau Singapura untuk posisi yang lebih rendah tetapi gaji yang lebih tinggi. Jadi saya rasa hal gaji adalah hal yang sangat penting untuk didiskusikan.

Kita harus belajar dari Korea Selatan, China, Taiwan, Hong Kong, dan Singapura yang telah sangat sukses dalam merekrut profesor-profesor mereka dari AS dan Eropa terutama dengan memberikan fasilitas riset yang bagus, gaji yang bagus, dan komitmen yang tinggi untuk menjadi universitas top di tingkat Asia dan internasional.

Jika Indonesia tidak memiliki wadah yang dapat menampung murid-murid Indonesia yang telah berhasil di negara-negara maju, sangatlah sulit bagi mereka untuk dapat kembali ke Indonesia.

Karena, jika mereka pulang ke Indonesia tanpa adanya wadah tersebut, mereka tidak akan dapat mengembangkan karir mereka di Indonesia.

Karir ilmuwan tersebut tidaklah panjang, hanya sekitar 30-35 tahun yang produktif dan mungkin 15-25 tahun yang sangat produktif. Dan masa sangat produktif tersebut adalah sewaktu mereka masih muda, kreatif, dan memiliki banyak ide-ide original.

Jadi saya sangat berharap bahwa jika Indonesia memang berkomitmen untuk mendirikan universitas-universitas berkualitas tinggi yang dapat mendobrak menjadi salah satu universitas terbaik di tingkat Asia (top 5-10 Asia), maka kita bakal mampu untuk menrekrut professor-professor yang sangat berkualitas tinggi dari manca negara.

Dengan adanya universitas-universitas yang bagus di Indonesia, kita juga akan mampu menarik talenta-talenta muda dari manca negara untuk bersekolah di Indonesia.

Saya sangat yakin bahwa universitas yang berkualitas tinggi adalah fundamental untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, teknologi, ekonomi, sosial, dan semua ini akan menjadikan Indonesia menjadi salah satu powerhouse di tingkat Asia dan dunia.

Komitmen untuk mendirikan universitas top tersebut memiliki dana yang sangat besar, sehingga harus didukung oleh pihak pemerintah dan bisnis/swasta.

Jadi kita harus tidak malu untuk belajar dari kesuksesan dari negara-negara lain seperti di Singapura (National University of Singapore, Nanyang Technological University), Korea (Seoul National University, KAIST), Hong Kong (HKUST), dan lain lainya.

Tetapi saya yakin dengan komitmen yang sangat kuat dari pemerintah, bisnis / swasta, dan akademik-akademik Indonesia, maka Indonesia akan mampu untuk menghasilkan universitas top 5-10 Asia dalam waktu yang dekat.

Ingat, Indonesia adalah negara yang sangat berpotensial dan merupakan negara nomor 4 terbesar di dunia (dalam hal populasi). Jadi, jika sumber daya manusia Indonesia menjadi sangat maju dari tersedianya universitas tersebut, maka Indonesia akan menjadi salah satu negara yang paling berhasil di dunia (mungkin menjadi berkembang pesat seperti China atau India di kemudian hari?).

Sekali lagi, saya sangat percaya bahwa kita memerlukan universitas top 5-10 Asia di Indonesia di suatu hari, dan semoga saja benar nanti akan ada komitmen dari pihak pemerintah, swasta / bisnis, dan masyarakat untuk menrealisasikan hal ini.

Sebagai seorang profesor termuda di AS? bisa Anda ceritakan masa senggang Anda? membaca buku? film? mendengarkan musik? makan? ataukah berkencan?

Dalam kehidupan saya di AS, saya rasa jarang sekali memiliki waktu senggang. Hal ini disebabkan tugas kami sebagai profesor di universitas yang memiliki fokus riset di AS mencakup 1) aspek pengajaran (teaching); 2) pelaksanaan riset (research); 3) membimbing murid-murid S1, S2, dan S3, and postdoctoral; 4) mempublikasi dalam jurnal internasional (journal publication); 5) mempublikasi dalam konfrensi internasional (conference publication); 6) mencari dana untuk riset di mana kami harus bersaing dengan banyak professor lain di universitas-universitas top di AS (research funding); 7) melakukan tugas komite di luar universitas (committee in national panels); dan 8) menghasilkan penemuan untuk dipatenkan (patents).

Jadi sering sekali, saya sendiri harus bekerja sampai lewat dini hari untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut.

Tetapi, jika saya memiliki waktu senggang, saya tentu saja lebih suka menghabiskan waktu tersebut dengan istri saya (Adela Gozali Yose). Kami baru menikah sekitar 1 tahun lalu di pertengahan 2007.

Saya sangat berterima kasih dengan dukungan dan pengertian dari istri saya dan keluarga beliau juga (terutama setelah saya kehilangan kedua orang tua saya), sehingga saya dapat melakukan tugas pekerjaan saya dengan baik.

Jika Anda pecinta buku? jenis buku apa yang Anda sukai? apakah memiliki penulis favorit?

Benar, saya memang pecinta buku. Sebenarnya hampir semua buku saya baca, dari yang terkait dengan fisika dan ilmu teknik, sampai dengan hal-hal yang bersifat sejarah, sosial, politik, dan ekonomi.

Saya rasa memang saya orangnya ini sangat merasa ingin tahu (curious), jadi semua hal juga saya memiliki interest yang besar sekali. Saya rasa kalau buku-buku fisika dan teknik masih merupakan buku-buku yang paling favorit, tetapi juga banyak artikel-artikel riset yang saya baca.

Dalam melaksanakan riset, memang penting sekali bagi kami untuk mengikuti publikasi riset di jurnal-jurnal fisika dan ilmu teknik. Tetapi, kalau dalam hal yang bukan fisika atau teknik, saya rasa favorit saya adalah dalam hal-hal yang mencakup sejarah dan politik.

Jika suka musik? jenis musik apa yang Anda sukai? bagaimana dengan musik lokal Sumatera Utara? masihkah terus Anda nikmati?

Wah, jujur saja, saya sendiri bukan pengemar musik sama sekali. Kadang kala, kalau istri saya lagi mendengarkan musik dia, tentu saja saya mengikuti saja. Tetapi, saya sih orangnya lebih suka suasana yang ’quiet’ dan tenang saja.

Mungkin memang saya hampir jarang sekali memiliki waktu santai, jadi suasana yang ’quiet’ dan tenang lebih mendukung untuk berpikir dan bekerja.

Jika makan? jenis makanan apa yang paling Anda gemari? bagaimana jika tengah dirundung rindu kampung halaman? masak sendiri atau bagaiamana?

Tentu saja, saya rindu dengan makanan dari Indonesia, terutama masakan Padang dan makanan lokal daerah Medan. Tetapi sekarang ini, saya beruntung bahwa istri saya (Adela Gozali Yose) kadang-kadang mempersiapkan masakan Indonesia.

Kadang kala, kami juga sering melepaskan kerinduan atas masakan Indonesia di restoran Indonesia yang terdapat di kota Philadelphia, dan juga di acara-acara KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) New York.

5 Responses to "Nelson Tansu: on interview"

inspiratif tulisannya..interview yang menarik :]

thanks

eh.eh, penting nh bwt analisis tugas kmpus.
btw, Nelson ini punya anak ga sii? trs knp dy nikah sm istriny??
thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

May 2008
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d bloggers like this: