it’s about all word’s

100 tahun kebangkitan bangsa

Posted on: May 12, 2008

Sudahkan terbantu kemajuan teknologi

515 tahun yang lalu Columbus berlayar bersama ratusan orang di tiga kapalnya untuk membuktikan adanya dunia baru di ujung dunia yang dikatakan berakhir di sebuah jurang tak berujung.

400 tahun kemudian, Wahidin Soedirohoesodo, seorang priyayi terpelajar kelahiran Mlati, Sleman, Yogyakarta, 7 Januari 1852 harus berkeliling kota-kota besar di Jawa mengunjungi tokoh masyarakat untuk menyampaikan gagasan “dana pelajar.”

Dana digunakan untuk menyekolahkan para pemuda cerdas yang tidak dapat melanjutkan sekolahnya. Suatu kali dia bertemu Soetomo dan para pelajar School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) di Batavia.

Pada pertemuan ini di samping melontarkan ide dana pelajar, Wahidin juga menyampaikan gagasan pendirian organisasi yang bertujuan memajukan pendidikan dan meninggikan martabat bangsa.

Sejarah mencatat redaktur suara umum Retnodhoemilah itu butuh waktu tujuh tahun untuk bisa mempengaruhi massa muda untuk bergerak membentuk Organisasi Boedi Oetomo yang disebut sebagai cikal bakal perjuangan elit memerdekakan Nusantara.

Wahidin Soedirohoesodo bukanlah pendiri Boedi Oetomo, namun pria berblangkon itu adalah agent of change di tengah keterbatasan infrastruktur komunikasi di masa itu.

Berkat kerja kerasnya, dari perkumpulan pemuda kedokteran yang awal mulanya hanya terbatas di Jawa dan Madura itu lahir berbagai perkumpulan pergerakan pemuda lain seperti Jong Ambon (1909), Jong Java dan Jong Celebes (1917), Jong Sumatera dan Jong Minahasa (1918).

Jika diperbandingkan dengan kondisi kekinian, pembentukan pergerakan para pemuda di masa itu tentulah sangat memakan waktu. Saat ini seperti kata Thomas L. Friedman dalam The World is Flat, globalisasi kini telah mencapai tahap 3.0.

Globalisasi hakekatnya telah berlangsung sejak lama. Globalisasi versi 1.0 dimulai Columbus di tahun 1492 sampai tahun 1800-an. Ketika itu dunia disusutkan dari ukuran besar menjadi sedang.

Globalisasi 1.0 berhubungan dengan negara dan otot, pelaku utama dan kekuatan penyatuan global adalah seberapa gigih, seberapa besar otot, seberapa besar tenaga kuda, tenaga angin, tenaga uap yang dimiliki suatu negara.

Globalisasi versi 2.0 berlangsung dari tahun 1800-2000. Masa ini menyusutkan dunia dari ukuran sedang ke ukuran kecil. Masa ini pelaku utama dan kekuatan penyatuan global adalah perusahaan-perusahaan multinasional.

Dunia semakin mendatar oleh jatuhnya biaya telekomunikasi berkat penyebaran telegraf, telepon, PC, satelit, serat optik, Word Wide Web versi awal. Terjadi pasar global dengan adanya pergerakan barang, jasa, informasi dan tenaga kerja dari benua ke benua.

Globalisasi versi 3.0 dimulai tahun 2000, menyusutkan dunia dari ukuran kecil menjadi sangat kecil. Era memberdayakan dan melibatkan individu serta kelompok untuk dengan mudah menjadi global dalam sentuhan telunjuk di atas tuts papan ketik ataupun mouse komputer.

Revolusi itu dimulai ketika Shawn Fanning, seorang mahasiswa frustasi yang drop-out dari Northeastern University, Boston, pada tahun pertama merilis program jaringan musik gratis Napster berbasis sistem peer-to-peer (P2P).

Peer to peer adalah jargon setiap individu (mesin) adalah setara dan tidak ada lagi dikotomi Client-Server. Setiap individu dalam P2P dapat berfungsi sebagai server (mesin yang melayani) maupun client (mesin yang dilayani). Sehingga dalam P2P dikenal istilah servent (serv er cli ent).

Portal Napster begitu terkenal sampai pada tahun 2000, tahun dimana pengadilan yang dibiayai kapitalisme industri musik menginstruksikan agar Napster tutup. Tiga tahun kemudian Napster kembali buka namun bangkrut karena ditinggal penggunanya. Napster mewajibkan bayar sebelum men-download file musik.

Seperti tamsil hukum silicon valley era digitalisasi, informasi adalah gratis. Pengguna Napster pun beralih pada Gnutella yang lebih bebas dan liar, seperti varian awalnya saat itu a.l. bearshare, limewire, Kazaa.

Disebut liar karena dalam teknologi Gnutella, kita tak tergantung pada satu portal indeks seperti Napster, tetapi cukup memiliki satu alamat kontak yang dapat membantu kita mencari alamat di mana musik yang kita inginkan dapat di- download.

Tentu saja teknologi ini tak sebatas dimanfaatkan komunitas pecinta musik. Pada sisi gelap dunia digital, teknologi ini menjadi ladang empuk industri pornografi yang luar biasa besarnya.

Jupiter Research http://www.jmm.com mencatat jumlah situs dewasa yang menyediakan pornografi meningkat dari 22.100 pada 1997 menjadi 280.300 pada 2000. Alias meningkat 10 kali lipat hanya dalam waktu tiga tahun.

Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta Swasono dalam pidatonya mencatat pendapatan dari sektor situs porno di Amerika Serikat terus melonjak.

Menurutnya industri porno AS, tahun 2001 ‘hanya’ mencapai US$230 juta. Lima tahun kemudian sudah mencapai US$400 juta. Bahkan untuk tahun 2006 itu, industri pornografi sedunia mencatatkan omzet tak kurang dari US$97,6 miliar.

Tentu bukan tanpa alasan Meutia mengutip statistik ini pasalnya industri porno tak hanya berkubang di AS, Indonesia juga telah menjadi produsen dan konsumen industri syahwat ini.

Tak heran Meutia begitu getol mendorong ditekennya UU Pornografi dan Pornoaksi yang bisa melindungi perempuan dan anak-anak.

Konyolnya, keprihatinan pemerintah sekadar jargon politik. Menurut Wiliam Budhy Kurniawan, Managing Director PT Aneka CL, produsen peranti lunak Jejak Kaki.

Peranti lunak buatan asli dalam negeri ini mengkhusukan diri untuk penyaring konten situs berbahaya lokal yang berisi pornografi, kekerasan dan judi yang berpotensial memengaruhi anak-anak pengguna Internet.

“Pemerintah tak antusias dengan ide ini. Padahal situs lokal sering tak tersaring peranti buatan luar negeri. Karena terlalu lama tak ada kepastian akhirnya kami banting stir mengurus hal lain,” ujar jebolan ilmu komputer di Technische Fachhochschule Berlin itu.

Jejaring sosial

Namun seperti halnya semua hal di dunia ini selalu memiliki dua sisi. Gelap-terang, panas-dingin, baik-jahat, Yin-Yang. Kemajuan digital pun memiliki ujung yang benar ketika digunakan untuk hal-hal yang tepat.

Pada tataran pembentukan jejaring sosial generasi awal komputer era 1990-an sudah mengenal sesepuh web browser, Netscape Navigator. Browser milik American Online (AOL) itu pernah berjaya dengan mendulang pengguna sebanyak 90%.

Pada masa ini, Netscape memainkan peranan penting dalam dunia internet. Di masa itu pengguna internet merasakan asyiknya chatting. Komunikasi antar manusia antar benua–yang dulu tak terbayangkan—bisa dilakukan dalam hitungan kurtang dari seperseratus detik.

Namun Netscape pun tergiling cepatnya arus waktu. Sejak 1 Maret 2008, browser buatan Marc Andreessen pada 1994 itu tutup buku. Tak kuasa diterjang Firefox, Internet Explorer (IE) atau Flock.

Internet Explorer (IE) kini masih mendominasi dengan pangsa pasar sekitar 80% namun terus dikejar Firefox yang semakin canggih. Sementara Flock menamakan dirinya sebagai ‘the social web browser’, yang coba memanfaatkan perkembangan Web 2.0.

Menurut Tim O’Reilly, teknologi Web 2.0 dikembangkan sekitar tahun 2004. Web 2.0 merupakan teknologi web yang menyatukan teknologi yang dimiliki dalam membangun web. Penyatuan tersebut merupakan gabungan dari HTML, CSS, JavaScript, XML, dan tentunya AJAX.

Beberapa contoh akhir dari aplikasi Web 2.0 a.l. Google, Flickr, Wikipedia, del.icio.us, jaringan blog dalam Blogosphere, hingga raksasa perbukuan Amazon.

Yang menariknya aplikasi Web 2.0 bisa berjalan secara terintegrasi melalui berbagai device contohnya adalah iTunes dari Apple. Nah web 2.0 inilah yang sedang menjadi tren saat ini. Bahkan portal Friendster pun mulai ditinggalkan karena tak bisa berbuat banyak.

Namun menurut Andi S. Boediman, bos Digital Studio dan Creative Director Admire, Web 2.0 hanyalah tool yang bisa jadi dalam waktu dekat akan segera menjadi usang seperti bunyi hukum Moore.

“Saat ini berkat Web 2.0, situs jejaring sosial semakin atraktif dan memudahkan kita berhubungan dengan orang dimana pun dan kapan pun. Tapi kita tak pernah tahu, bisa jadi besok sudah ada lagi sistem yang lebih memudahnya kita bersosialiasi di dunia maya,” ujarnya

Dari narsis hingga politik praktis

Di awal kemunculan Web 2.0, portal jejaring Friendester sempat membikin demam. Mulai dari anak SMP, artis hingga calon presiden ramai mejeng di situs buatan Jonathans Abrams tahun Maret 2002.

Banyak orang kecanduan dan terikat secara emosional dengan Friendster karena melalui situs tersebut, banyak orang-orang yang lama tak bersua, bisa kembali bersatu, reunian, dan bahkan berjodoh.

Toh harus diakui sebagian besar pengguna Friendster cenderung menyalurkan bakat narsis mereka dengan memajang foto diri berbagai gaya sementara para politisi memajang testimoni politik secara serius.

Namun masa keemasan Friendster perlahan memudar. Banyak kantor kemudian memblok situs ini dengan alasan waktu kerja pegawainya tersita oleh situs ini. Pengguna pun ramai-ramai melayangkan doa.

Tuhan mendengar dan muncullah malaikat bernama Mark Zuckerberg. Mahasiswa Harvard University yang menciptakan Facebook hanya dalam waktu dua pekan. Demi Facebook, Mark rela drop out.

Bersama tiga rekannya yaitu Andrew McCollum, Dustin Moskovitz, dan Chris Hughes, mereka membuka keanggotaan Facebook untuk umum. Kelebihannya, Facebook ditawarkan dengan 9.373 aplikasi yang terbagi dalam 22 kategori.

Dengan sistem pengguna bisa menggunakan Facebook untuk chat, game, pesan instan, sampai urusan politik dan berbagai hal lainnya. Hebatnya lagi, sifat keanggotaan situs ini sangat terbuka.

Sejak kemunculan Facebook tahun 2004 silam, anggota terus berkembang pesat. Prosentase kenaikannya melebihi Friendster. Tahun ini Mark Zuckerberg berani menargetkan pada tahun 2008 ini, pengguna Facebook mencapai 200 juta anggota.

Tak heran senior Mark, Bill Gates pun menitahkan agar raksasa software Microsoft agar ikut ambil bagian. Mark tak bodoh, Microsoft hanya diberi 1,6% saham dengan harga konon mencapai US$240 juta. Diduga kapitalisasi saham Facebook hanya US$15 miliar!

Seiring dengan Mark, di sudut Amerika yang lain tiga mahasiswa iseng yaitu Chad Hurley, Steve Chen, dan Jawed Karim mengembangkan Youtube, web tempat semua orang yang ingin memamerkan video klip karya mereka dengan teknologi Adobe Flash.

Seperti halnya bos mesin pencari Google (Larry Page dan Sergey Brin), Microsoft (Paul Allen dan Bill Gates), Apple (Steve Jobs dan Steve Wozniak), pendiri Youtube bekerja serabutan dan menyewa garasi untuk bereksperimen.

Domain YouTube rilis Februari 2005, namun baru tiga bulan kemudian YouTube beroperasi. Potensi yang besar membuat badan permodalan ventura Sequoia Capital menyuntikkan dana senilai US$3,5 juta enam bulan kemudian.

Sequoia yang melihat populasi pasar YouTube makin membengkak luar biasa kembali menyuntikkan modal senilai US$8 juta pada April 2006. Investasi itu tak keliru, YouTube menjadi web site paling cepat pertumbuhannya selama musim panas 2006.

Menurut situs Alexa.com, YouTube menempati posisi kelima situs yang paling sering dikunjungi. Juli tahun lalu tercatat seharinya 100 juta video klip dilihat di YouTube dan tak kurang 65.000 video baru di-upload.

Lembaga survei Nielsen/NetRatings mencatat dalam sebulan YouTube dikunjungi lebih dari 20 juta pengunjung. 44% perempuan dan 56% pria dengan umur antara 12-17 tahun.

Melihat ini jaringan berita NBC hingga CBS pun tertarik bekerja sama, selain media berita raksasa industri musik pun tergiur yakni Warner Music Group dan EMI. Namun akhirnya Warner yang teken kontrak pada September 2006.

Sementara CBS, Universal Music Group dan Sony BMG Music Entertainment bekerja sama dalam hal pemasaran dan promosi melalui YouTube.

Melihat ini, perusahaan raksasa mesin pencari Google Inc mengumumkan akuisisi senilai US$1,65 miliarnya. Meski YouTube tergadaikan, situs ini tetap dikerjakan secara independen.

Bagaimana manfaat teknologi ini bagi anak-anak Indonesia? Mampukah mereka memanfaatkan kemudahan ini untuk menjadi manusia-manusia global? Jawabnya ya!

Menurut wartawan musik senior Denny Sakrie pemusik dalam negeri Indonesia semakin mudah merambat dunia internasional melalui situs MySpace dan YouTube.

Lewat teknologi kedua situs tersebut, jelas para pemusik Indonesia bisa menembus ruang dan waktu. Jika para pemusik mengandalkan major label, para pemusik akan terbatas dalam pola pendistribusian. Mungkin hanya mencakup wilayah Asia Tenggara itu pun tak semuanya.

“Sementara dalam YouTube dan MySpace bisa diakses siapa saja diseluruh dunia.
Tanpa gembar gembor band band indie kayak Discus, White Shoes & Couples Company, The S.i.G.I.T maupun Mocca telah dikenal di dunia musik internasional,” ujarnya.

Sementara menurut manajer band indie yang berbasis di Depok, Wawan Fury, penggunaan Myspace dan YouTube di kalangan band indie sangat membantu mereka dalam mempromosikan dan membentuk fan base band mereka masing-masing.

“Website tersebut sangat layaklah untuk dijadikan alat promosi secara gratis dari band-band yang memang ingin membentuk fan base mereka, karena sifatnya yang worldwide. Jadi dapat dengan gampang diakses oleh mereka,” ucapnya.

Bahkan menurutnya, adanya MySpace dan YouTube juga dapat menghasilkan sesuatu bentuk secara riil. Contohnya yaitu dengan dirilisnya band-band Indonesia oleh label internasional.

Dia memberikan contoh band hardcore asal Depok, Thinking Straight yang dirilis ulang dalam bentuk CD dan 7” oleh label indie di Hungaria serta band trashcore Taste Of Flesh yang beberapa rekamannya dirilis oleh label kolektif dari Eropa serta USA dalam bentuk 7”.

“Ini membuktikan bahwa keberadaan MySpace dan YouTube dapat menjaring minat para label dari luar, di samping intensnya komunikasi menjadi yang utama dari hal tersebut,” katanya.

Akan tetapi untuk keberadaan YouTube masih jarang dimanfaatkan secara maksimal untuk band-band indie. Hal tersebut dikarenakan masih minimnya band-band indie yang mendokumentasikan live performance mereka dalam bentuk video.

“Ini yang masih jarang mereka lakukan, mungkin karena kultur yang belum membentuk band-band tersebut kearah sana serta keterbatasan sarana, tetapi beberapa band sudah banyak yang mulai memanfaatkan YouTube sebagai sarana promosi secara gratis.

Akan tetapi bentuk live performance masih tetap mejadi ukurun dari suatu band untuk menjadi besar disamping system manajemen itu sendiri.

“Kalau secara rekaman lagu mereka bagus tetapi penampilan live mereka jauh di bawah standar, jadinya malah membuat blunder bagi band tersebut, karena mau nggak mau penonton yang penasaran melihat band itu main pasti pengen ngeliat mereka main yang bagus,”

Harus diakui kemasan menjadi salah satu ukuran band tersebut bagus atau tidak sehingga penonton yang melihat mereka mendapatkan kesan dari band tersebut saat mereka pulang.

Bagaimana dengan dunia politik? Sama saja. Menurut Irvan S. Noe’man yang mengembangkan teknologi Wimax, menjelang Pemilu 2009 penggunaan situs jejaring social bakal makin masif.

Dia mencontohkan calon gubernur Jawa Barat yang kelimpungan ketika YouTube diblok pemerintah Indonesia gara-gara film Fitna. Dengan kemajuan teknologi membuat politisi memiliki pilihan semakin banyak untuk mencuri perhatian massa pemilihnya.

“Harusnya kemajuan teknologi saat ini bisa dimanfaatkan untuk membangun bangsa. Menyebarkan ide-ide kebangsaan. Saya yakin orang Indonesia itu cinta pada negara ini,” tegasnya.

Sudahkah itu dilakukan? Jawabnya silahkan Anda klik klik dan klik saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

May 2008
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d bloggers like this: