it’s about all word’s

Rock Crawling: Gelegak adrenalin di dinding batu

Posted on: May 19, 2008

Suatu hari di bilangan Margonda, Depok ketika embun malam belum turun menggapai bumi. Deru mesin dari jip-jip berkaki kekar terdengar mengglegar. Decit ban beradu dengan kerasnya batu setinggi orang dewasa ramai terdengar. Aroma karet terbakar meruap ke udara.

Selama dua hari, Sabtu-Minggu (19-20/4), pelataran parkir pusat perbelanjaan di Depok ramai dengan suara mesin mobil-mobil para peserta Rock Crawling Competition tingkat nasional.

Puluhan peserta dari empat penjuru angin berdatangan. Dari Wonogiri, Depok, Jakarta, Banten, hingga Kalimantan, ambil bagian dalam kompetisi ekstrem tersebut. Penonton saling desak tak mau kalah.

Menurut sesepuh olahraga panjat batu ini, Yuma Wiranatakusuma, rock crawling berbeda dengan adventure off road, karena pengendara harus lebih bisa menahan nafsu, sementara di speed off road atau adventure justru diwajikanb mengeluarkan emosinya.

“Rock crawling adalah puncak atau klimaksnya para off roader,” ujar Yuma. Disebut klimaks karena olahraga ini memiliki kesulitan tersendiri dan kepuasan tersendiri jika dapat menaklukkan semua rintangan.

Dalam olahraga ini tak hanya memerlukan kepiawaian pengendara, tapi juga kerja sama dengan kedua orang asistennya, yang disebut spotter. Tugas utama spotter adalah memberikan aba-aba dan memegang tali agar mobil tidak terbalik.

Kekompakan, saling menghormati dan menjaga emosi wajib dimiliki driver dan spotter karena peserta dituntut mampu membawa jip berkapasitas 2.000-6.000 cc untuk menjinakan bebatuan cadas yang bisa mencapai sekitar 10 meter, dan kemiringan hingga 180 derajat.

Menurut Ian Suwarko dari IOF track Rock Crwaling bisa diselenggarakan di mana saja mulai di tanah berlumpur hingga di jalan beraspal. Menurut dia untuk mempersiapkan track memerlukan bongkahan batu gunung yang kali ini didatangkan dari wilayah Merak, Banten.

Untuk mempersiapkan track dibutuhkan waktu setengah hari dan sehari penuh tergantung dengan lintasan yang didesain sebaik mungkin, masalah biaya pengeluaran untuk mempersiapkan batu tidak dipermasalahkan yang penting ajang rock crawling dapat terlaksana.

Usai acara batuan yang sudah didesain, dibongkar, dan disimpan untuk ajang berikutnya dengan menggunakan alat berat.

Manajer Margo City, Enrico Tanubrata yang sudah menggeluti rock crawling sejak 1995 menambahkan bahwa dia sengaja menggelar event rock crawling di Margo City untuk mengenalkan olahraga ini ke warga Depok.

“Kalau digelar di pegunungan kan yang tahu olahraga ini paling komunitas rock crowler. Tapi bila digelar di pusat perbelanjaan kan paling nggak banyak masyarakat yang nanya. Ini olahraga apa sih,” ujarnya.

Menurutnya, daya tarik rock crawling ada pada kebersamaanya. “Kita angkat dan susun batu sama-sama. Bahkan jalur yang akan dilintasi para peserta pun melalui kesepakatan. Gimana nggak seru!”

Kelas Rock Crawling yang dilombakan kelas Stock Modified atau kelas 1, Pro Modified Class 2, dan yang dikategorikan ekstrem kelas Unlimited Class. Kendaraan yang berhak melibas di Rock crawling tidak semua jenis kendaraan Jeep yang dan harus memiliki standarisasi dari peraturan IOF.

Untuk kelas Stock Modified peserta harus memiliki kendaraan dengan bodi asli pabrik, tidak berkarat atau keropos, kondisi ban harus baik, hanya ban yang untuk off road boleh digunakan, perubahan hanya boleh di bagian luar seperti spakbor, bagian dalam spakbor tidak boleh diubah

Untuk kelas Pro Modified dan Unlimited body kendaraan dalam kondisi baik, tidak berkarat, dan bisa menggunakan Firewalls (dinding pembatas mesin) bawaan pabrik dianjurkan, dan Firewalls buatan sendiri harus terbuat dari plat besi atau alumunium dengan ketebalan kira-kira 2 milimeter.

Kap penutup mesin harus menutup semua bagian mesin, lobang angin diperbolehkan, lubang angin yang melebihi ukuran 25 cm harus menggunakan kisi-kisi penutup.

Kata Ian, chasis kendaraan untuk kelas Stock Modified harus asli dari pabrik, dan pihak IOF mengijinkan rock crawler untuk boleh memperkuat chasis dari pipa, chasis harus bebas dari karat yang dapat membahayakan kekuatan rangka kendaraan.

Ketika kendaraan ingin diikutsertakan pada ajang rock crawling harus dilengkapi dengan bumper. Bumper merupakan bagian paling ujung dan elastis yang menghubungkan bagian kiri dan kanan, dimana bumper belakang adalah bagian paling belakang dari kendaraan dan bumper depan adalah bagian paling depan dari kendaraan.

Roll Cage termasuk persayaratan yang harus diperhatikan, setiap kendaraan wajib memasang Roll Cage minimum 6 titik mengelilingi driver. Bahannya dari pipa besi seamless (tanpa las) ukuran minimum 38mm dengan ketebalan 3 mm. Pipa gas dari alumunium.

Semua sambungan pipa harus di las dengan las listrik, dipasang langsung pada chasis dengan dilas listrik atau dengan baut 4×10 mm.

Di Rock Crawling semua jenis dan ukuran mesin diperbolehkan, mesin harus bebas dari kebocoran cairan atau oli yang dapat menimbulkan percikan api dan menyebabkan kebakaran.

Pendingin air atau radiator harus ditutup dengan benar sehingga bila terjadi kecelakaan air tidak menyebar, Radiator harus dibaut dengan kuat, dan tidak mudah lepas. Slang dan sambungannya harus terpasang dengan baik dan tidak ada yang bocor.

Radiator yang dipasang di atas atau di atap kendaraan tidak diperbolehkan, dan biasanya para peserta banyak yang meletakan radiator di belakang kendaraan, dan ini harus dilengkapi dengan dinding pemisah antara radiator dan ruang kemudi.

Bahan bakar yang digunakan untuk semua kelas menggunakan sistem injeksi atau karburator dengan bahan bakar bensin atau solar. Sistem pembuangan udara dari tangki harus dilengkapi dengan klep pengaman “ roll over” (check valve)

Slang bahan bakar ke mesin harus melalui tempat yang aman dan tidak ada kebocoran, pedal gas harus lancer bergerak bila ditekan dan kembali dengan mudah, gas tangan diperbolehkan tetapi harus kembali pada posisi (idle) lansam dengan cepat.

Untuk gardan yang digunakan memiliki lebar gardan bagian luar termasuk ban tidak melebihi 2. 032 Cm, jenis gardan yang diperbolehkan Solid Axles, Live Axlas, Independen, serta military Axle atau portal Axle.

Penempatan gigi reduksi bisa dilakukan sebelum gardan, di dalam gardan atau kombinasi dari semuanya, dan gardan disarankan dilengkapi dengan peralatan pengunci difensial dan yang paling baik dapat mengunci hingga 100 %.

Untuk meredam ketika melahap cadanya batuan suspensi harus bawaan pabrik, seperti Coil over shock, double shacle dilarang.

Ban dan pelek pada kendaraan untuk digunakan pada rock crawling maksimum menggunakan diameter ban 35 inci hingga 40 inci, untuk merekatkan ban pada batu dianjurkan tekanan angin sekitar 7 hingga 8.

Sistem pengereman mulai dari pipa selang, master rem, caliper, sepatu rem harus dalam kondisi baik, tidak mengalami bocor. Rem yang sifatnya tranmisi harus mendapat persetujuan dari steward IOF.

Untuk membantu kendaraan ketika terjebak diantara bebatuan peserta bisa mengunakan winch mulai winch listrik, winch hidrolik, winch power take-off dan sling winch minimum ukuran 9 mm atau 5/16 inch, harus dipasang dengan benar di chasis kendaraan dan terkunci kuat.

Hadiah hanya Rp3 jutaan

Menurut kepala bidang Rock Crawling IOF Moko Karsono untuk membangun satu unit kendaraan jenis jeep di ajang seperti ini tidak harus mengeluarkan kocek tebal yang penting bisa menaklukkan cadasnya bebatuan.

Dia untuk memodifikasi kendaraan jenis jeep di Rock Crawling sudah mengalokasikan dana sekitar 350 juta rupiah, yang memakan waktu rehab kendaraan selama satu tahun. Dana sebesar itu, sifatnya hanya untuk research development,

“Sifatnya hanya penelitian sampai sejauh mana menghasilkan kendaraan yang layak baik saat menaklukan batu cadas diajang rock crawling, “ katanya.

Kata dia, modal yang dikeluarkan tidak balance dengan apa yang dihasilkan, untuk juara satu mungkin juaranya hanya Rp3 juta. Event pun hanya setahun sekali, tapi yang terpenting bagi rock crawler adalah tetap eksis di dunia otomotif.

Sebab untuk mengembalikan modal dibutuhkan waktu bertahun-tahun, semuanya ini hanya kesenangan dan hoby yang tidak bisa terbendung.

Lihat saja mobil Moko menggunakan suspensi per merk King menggunakan sistem gas yang bisa diturun naikan seharga 40 juta rupiah, mobil yang dia gunakan merupakan rakitan mulai chasis bentuk bodi hingga mesin, yang dikategorikan layak ikut di pentas Rock Crawling kelas unlimited

Untuk memperlancar akselarasi mesin, dia memindahkan radiator ke body belakang, pantas dia mendapatkan juara satu kelas unmilited di ajang rock crawling beberapa waktu lalu.

Senada dengan Moko, Dedi Bogel, seorang penggemar Rock Crawling asal Depok, biaya membangun sebuah mobil khusus Rock Crawling, biasanya ada yang ditanggung bersama-sama, sendiri, atau sponsor.

“Kisaran biaya itu tidak mutlak, karena bisa saja menggunakan onderdil mobil bekas lain, asal masih bagus dan yang penting bisa dipakai,” ucap Dedi yang sore itu hanya turun sebagai spotter.

Sementara itu menurut Nadjib suku cadang untuk kendaraan jenis jip tahun 1980-an masih mudah diburu asal saling berkomunikasi dengan klien, para penggemar jip di Jawa dan luar pulau Jawa.

“Hadiah juara dengan modal yang dikeluarkan tidak sebanding dan sampai hari ini belum kembali modal, yang penting kita senang, dan penuh tantangan dengan off road,” papar Nadjib.

*FX Aji Hendro, Agus Purwanto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

May 2008
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d bloggers like this: