it’s about all word’s

Bercengkrama dengan orang utan di Semboja

Posted on: June 4, 2008

Matahari sore tinggal sepenggalah ketika rintik hujan membasahi tajuk pepohonan Pusat Rehabilitasi dan Reintroduksi Orangutan di Samboja Lestari yang didirikan oleh Yayasan Penyelamatan Orangutan, BOS.

Direktur utama PT Comexindo Hashim Hadikoesoemo, Direktur Comexindo International Thomas Djiwandono dan putri Hashim, Rahayu Saraswati S. Djojohadikusumo atau akrab dipanggil Sarah tersaruk menuju kandang tempat orang utan berbagai umur bernaung.

Menurut BOS-Samboja Lestari Project Manager, Yuniar Mitikauji beberapa orang utan yang ada di kandang adalah yang sudah terlalu dewasa. Beberapa lagi yang berumur balita masih stres karena terlalu lama di tangan manusia atau terpisah dari induknya.

Sudah jadi rahasia umum, untuk mendapatkan bayi orang utan harus dengan membunuh induknya terlebih dahulu. Kejadian itu menimbulkan pengalaman traumatik bagi orang utan balita.

“Wah yang ini seperti manusia saja tahu malu,” ujar Hashim ketika melihat orang utan dewasa berukuran bak pegulat raksasa memalingkan muka begitu kilat lampu flash kamera menerpanya.

Hari itu tak seperti putrinya, Hashim tak bisa mendekat ke arah kurungan. Hari itu dia terkena flu. Yuniar mengingatkan kalau penyakit orang utan sama dengan orang kota. Jauh-jauh saja Hashim memerhatikan Sarah bercanda dengan beberapa orang utan balita.

Berkali-kali Yuniar mengingatkan Sarah agar tak terlalu dekat dengan si kecil orang utan yang asyik menggapai-gapai dan mengecup-ngecupkan bibir mereka. Sekali raup tangan-tangan kecil itu sulit untuk dilepaskan.

Puas bercengkrama dan rintik hujan makin menderas. Rombongan pun kembali ke mobil. Kami dibawa ke tempat penginapan di wilayah tersebut. Dari gedung beraroma bangunan traopikal itu kita bisa bebas mengintip kegiatan orang utan di pulau-pulau buatan.

Menurut Direktur PT Mitra Konservasi Indonesia, Koesoemo Sardjono di BOS Samboja Lestari disiapkan “pulau-pulau buatan” untuk orangutan. Ada enam pulau dengan luas terkecil 0,08 ha dan terbesar seluas 1,01 ha.

Pulau-pulau ini diharapkan dapat menampung orangutan yang menderita Hepatitis B kronis yang sulit disembuhkan, orangutan tua, cacat, yang tidak mungkin dilepasliarkan di hutan.

Pulau-pulau orangutan diperkaya dengan beberapa jenis pohon buah-buahan serta dilengkapi dengan arena bermain (enrichment ) dan peraduan dari drum plastik berwarna biru.

Kegiatan di pulau orangutan memang telah diprogramkan selama tahun 2005. Tiap pulau tersebut hanya bisa dihuni 5-6 orangutan. Terkait dengan ini, Tim Penasihat Ilmiah BOS, selalu memberikan rekomendasi terbaik tentang layak atau tidaknya pulau tersebut untuk ditempati orangutan.

Di Pulau 4 sudah ditempati orangutan kecil yang sehat. Sementara di pulau lima ditempati oleh orangutan yang terkena hepatitis dengan luasan masing-masing kurang lebih 0,5 ha dan dijaga oleh dua orang teknisi.

Sebagian areal Samboja Lestari seluas 58 ha diperuntukkan bagi suaka beruang madu. Sayang saya terlambat bergabung. Namun rombongan Hashim berhasil mengunjungi fasilitas bagi suaka beruang madu itu.

Hashim mengaku prihatin dengan kondisi kandang-kandang beruang madu yang menurutnya terlalu padat. Di tempat itu terdapat kandang karantina, kandang introduksi, kandang sosialisasi I dan II, kandang anak/balita.

“Untuk ke depan saya ingin membantu agar fasilitas kandang bagi beruang madu bisa diperluas. Saya lihat terlalu penuh. Sementara untuk penambahan areal BOS Samboja, saya merencanakan untuk menambah sekitar 2000 hektar ke arah laut,” ujar Hashim.

Dia berangan-angan dengan melakukan penghijauan ke arah pantai maka pembentukan awan bisa semakin cepat. “Saya lihat banyak wilayah gundul. Di depan Samboja saya lihat bekas penambangan.”

Dengan komitmen ini Hashim akan bergabung dengan program square metre yaitu program `investasi` untuk konservasi hutan di area minimal satu meter persegi.

Model `investasi` ini memungkinkan sejumlah kelompok maupun individu bisa terlibat langsung dalam merehabilitasi hutan di pedalaman Kalimantan .

Program ini sebenarnya bukan hal baru bagi negara-negara maju seperti di Benua Eropa. Bahkan model pencarian dana untuk konservasi hutan di wilayah Asia dan Amerika Latin sudah dikenal dengan nama green bond.

Program ini sudah berjalan setahun lalu. Beberapa individu dan kelompok dari luar negeri yang mempunyai rasa kepedulian yang tinggi terhadap orangutan dan hutan di Kalimantan sudah menanamkan investasinya di square metre Semboja Lestari, yang berjarak 35 km dari Balikpapan.

Para investor yang peduli masalah reboisasi hutan Kalimantan ini, bisa memonitor investasinya secara langsung melalui pencitraan satelit. Transparansi penggunaan dana selalu dilaporkan secara berkala.

Detil informasi terkait dengan kondisi square metre juga akan dilaporkan sampai akurasi 2 cm pergeseran dengan peralatan Global Positioning System (GPS).

“Saya bersama adik saya [Prabowo Subianto] berangan-angan untuk bisa membuat lahan konservasi bagi gajah Sumatera atau gajah pigmi endemis Kalimantan,” ujar Hashim.
Dia berharap lokasi bagi konservasi gajah itu bisa ditempatkan berdekatan di wilayah BOS Semboja. Dia dan Prabowo prihatin terhadap kelangsungan hidup gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) dan gajah pigmi Kalimantan (Pygmy Borneo).

Dibandingkan gajah sumatera, gajah pigmi berbeda dengan spesies gajah umumnya, baik dari daratan Sumatera, Afrika maupun Jawa. Gajah jantan pigmi hanya setinggi sekitar 2,5 meter. Bandingkan dengan tinggi gajah Asia yang bisa mencapai 3 meter.

Mereka juga memiliki raut wajah yang lebih menyerupai bayi, telinga lebih besar, ekor hampir menyentuh tanah dan bentuknya lebih bulat-gemuk. Gajah ini juga tak seagresif gajah Asia umumnya.

Gajah pigmi paling banyak ditemukan di negara bagian Sabah, Malaysia, dan beberapa ekor di antaranya memiliki wilayah jelajah hingga Kalimantan Timur. Jumlah gajah pigmi di habitatnya diperkirakan mencapai 1.000 ekor.

Senasib dengan saudaranya di Sumatera, populasi dan tempat tinggal gajah pigmi semakin kecil. Perkebunan kelapa sawit membuat gajah terpaksa makin sering merambah tempat tinggal manusia.

Semboja yang terus berkembang

Pusat Rehabilitasi dan Reintroduksi Orangutan di Samboja Lestari terletak sekitar dua jam perjalanan dari pusat kota Balikpapan ke arah Samarinda. Jika kita menyusuri satu-satunya jalan penghubung kedua kota itu akan ditemukan pertigaan.

Dari situ kita tinggal mengambil jalan ke arah kiri. Sekitar 10 menit atau di kilometer 44 kita bisa menemukan papan petunjuk tempat orang utan dijaga dari kejamnya tangan manusia.

Dari jalan besar Anda harus menyusuri jalanan tanpa aspal yang mendaki berliku hingga menemukan pos penjagaan. Anda harus melapor sebelum masuk ke lokasi. Akses paling nyaman baru ditemukan ketika mendekati Kantor BOS Samboja Lestari dan BOS Wanariset, Kalimantan Timur.

Demi menjaga kebersihan ruangan, tamu dan pegawai wajib melepas alas kaki sebelum masuk ke ruangan kantor berlantai keramik putih itu.

Areal BOS Samboja Lestari sebelumnya adalah lahan tidur bekas terbakar. Alang-alang adalah vegetasi utama. Jelas, menghutankan kembali kawasan ini menjadi tujuan utama keberadaan BOS di sana.

Konsep rehabilitasi hutan didasarkan atas konsep konservasi yang berwawasan lingkungan dan diarahkan untuk mengembangkan kawasan suaka satwa liar di masa depan.

Sedangkan penanaman jenis lainnya seperti pohon-pohon hutan, baik jenis asli Kalimantan maupun jenis eksot, selain untuk konservasi in-situ dan ek-situ juga diarahkan untuk kegiatan penelitian.

Sampai akhir tahun 2005, areal Samboja Lestari yang telah tertanami seluas 845.46 ha dengan jumlah bibit tertanam sebanyak 374.481 batang.

Adapun realisasi penanaman selama tahun 2005 adalah 198.58 ha (62,4% dari target tahun 2005). Jenis pohon yang ditanam diantaranya jenis-jenis famili Dipterocarpaceae (Shorea belangeran, S. leprosula ), Dipterocarpus spp, Tectona grandis (jati), Peronema canescens (sungkai) dll.

BOS Samboja Lestari juga memproduksi kompos dari kotoran (orangutan) dan limbah/sisa-sisa makanan orangutan. Kompos dipergunakan untuk memupuk tanaman di areal Samboja Lestari.

Di tempat ini juga terdapat arboretum seluas 82 ha dan dibagi menjadi beberapa Blok atau zona (mintakat) yang diawasi Dr.Kade Sidiyasa, seorang ahli taksonomi tumbuhan yang telah memiliki reputasi internasional dari Loka Litbang Satwa Primata, Kalimantan Timur. Dia bertanggungjawab atas pembangunan arboretum ini.

Diharapkan arboretum ini bisa mengkoleksi 3000 jenis tananam lokal Kalimantan. Di lokasi ini juga melakukan eksplorasi dan koleksi herbarium yang dilakukan di Kalimantan Timur (Samboja dan sekitarnya, Gunung Lumut, Melak, Berau, Bengalon) dan Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Bogor.

Penanaman arboretum hingga akhir tahun 2005 terealisasi sebanyak 3.834 batang (446 jenis) di lahan seluas 11,5 ha yang terdiri dari 426 blok. BOS berupaya mempercepat kegiatan penanaman terutama untuk bibit yang telah tersedia di persemaian.

Selain itu di lokasi arboretum juga telah tertanam sengon (Paraserianthes falcataria) seluas 14,4 ha dengan jumlah batang tertanam 4800 bibit.

BOS Samboja Lestari mempunyai persemaian sendiri untuk mensuplai bibit. Kami sempat diajak melihat-lihat persemaian sayuran dan tanaman organik.

Sejak awal BOS-Samboja Lestari melibatkan peran aktif masyarakat lokal sebagai tulang punggung kegiatan. Lebih dari 100 orang masyarakat sekitar areal bekerja untuk BOS-Samboja Lestari.

Di samping memperoleh upah sebagai tenaga kerja, mereka juga mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan pendapatan melalui tanaman semusim yang ditanam di sela-sela tanaman pokok melalui teknik tumpang sari.

Lahan Samboja Lestari yang belum ditanami sebagian besar berupa alang-alang, mudah terbakar, menyimpan resiko yang sangat besar terhadap kegiatan Program BOS-Samboja Lestari.

Upaya-upaya pencegahan kebakaran hutan selalu dilakukan dengan mengikutsertakan masyarakat sekitar.

Kebakaran harus dihindari sebab, di tenpat itu selain menjadi tempat tinggal orang utan dan beruang madu juga menjadi tempat bernaung beragam burung yang mencirikan komunitas burung di hutan sekunder atau daerah terbuka.

Di sana  di dominasi jenis burung pemakan serangga dan pemakan biji/buah tanaman semak seperti Cyperaceae. Total jenis yang ditemukan berdasarkan metode pengamatan visual sebanyak 60 jenis.

Jenis lain yang umum ditemukan seperti : Cinenen kelabu (Orthotomus ruficeps ), Cinenen belukar (Orthotomus atrogularis ), Terucuk/keruang (pycnonotus goiavier ), Tekukur biasa (Streptophelia chinensis ), Bentet Kelabu (Lanius scach ) dan pelatuk merah (Picus miniaceus ).

“Selain jadi tempat konservasi satwa tempat ini juga menjadi daerah tangkapan air tawar bagi kota Balikpapan,” ujar Direktur PT Mitra Konservasi Indonesia, Koesoemo Sardjono.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

June 2008
M T W T F S S
« May   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
%d bloggers like this: