it’s about all word’s

Sumarsono: the last CGMI founding father

Posted on: June 16, 2008

Mantan pentolan gank becak Depok

“Politik itu kejam!” barangkali itulah istilah yang pas untuk Sumarsono, Pak tua yang pernah mendapat julukan Pimpinan Gerombolan Becak di Kota Depok.

Mantan sekretaris Bank Dagang Negara (BDN) cabang Jakarta Kota ini, terpaksa narik becak di Depok lantaran diskriminasi politik paska meletusnya peristiwa G30S 1965.

Laki-laki kelahiran 75 tahun yang lalu ini merupakan alumnus Fakultas Hukum UI. Dia mendapatkan gelar Sarjana Hukum di tahun 1964.

Semasa kuliah dia aktif dalam dunia pergerakan. Jika pernah mendengar organisasi bernama Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI)—organisasi kemahasiswaan, underbouwnya Partai Komunis Indonesia (PKI), dialah salah satu pendirinya.

Saat kuliah tak ada masalah. Apalagi di era itu CGMI merupakan organisasi yang terbilang sangat besar dan punya pengaruh. Bahkan dia pernah menjadi Ketua panitia saat Ganefo dilangsungkan di Jakarta.

Games of the New Emerging Forces (Ganefo), adalah suatu ajang olahraga tandingan Olimpiade ciptaan mantan Presiden Indonesia, Soekarno pada akhir tahun 1962. Soekarno menyatakan bahwa olahraga tidak bisa dipisahkan dari politik.

Sebelumnya, dalam pelaksanakan Asian Games 1962, Indonesia melarang Israel dan
Taiwan mengikuti Asian Games dengan alasan karena simpati pada Republik Rakyat
Tiongkok (RRT) dan negaranegara Arab.

Aksi Indonesia ini diprotes oleh Komite Olimpiade Internasional (KOI) yang mempertanyakan legitumasi Asian Games di Jakarta. Federasi Asian Games (FAG) yang juga akan memberikan skorsing bagi Indonesia karena melarang Taiwan dan Israel mengikuti Asian Game. KOI beralasan kedua negara itu merupakan anggota resmi Perserikatan Bangsa Bangsa.

Akhirnya, Indonesia diskors untuk mengikuti Olimpiade Tokyo 1964. Soekarno marah sehingga dia keluar dari KOI dan menuduh KOI merupakan antek imperialisme dan mengancam akan membuat penyaing olimpiade.

Satu tahun kemudian, pada bulan November tahun 1963, GANEFO dilaksanakan di
Jakarta, Indonesia. GANEFO berikutnya di Kairo, Mesir tahun 1967 dibatalkan karena masalah politik.

GANEFO memiliki semboyan Maju Terus Jangan Mundur—Onward! No Retreat.

Indonesia mengundang negara Republik Rakyat Tiongkok dan negara-negara dunia ketiga untuk mengikuti GANEFO. Ajang itu diikuti oleh 2.200 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa dengan 450 wartawan dari berbagai negara datang ke Senayan.

Meski GANEFO diboikot oleh negara-negara barat, tetapi GANEFO tetap berlangsung sukses. Beberapa atlet Indonesia yang berprestasi tidak berani mengikuti GANEFO karena takut akan diskors oleh KOI.

Lulus dari UI, Sumarsonopun bekerja di Bank Dagang Negara cabang Jakarta Kota
sebagai sekretaris.

Saat bekerja di BDN, mantan pimpinan CGMI Jakarta itu mengorganisir pegawai-pegawai Bank untuk dipersatukan dalam sebuah organisasi yang diberinya nama
Persatuan Pegawai Bank Dagang Negara (PPBDN).

“PPBDN ini berafiliasi ke SOBSI, organisasi buruh yang juga merupakan underbouwnya PKI,” katanya.

Di era itu tak ada yang aneh. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Sumarsono mempersunting seorang gadis yang dicintainya dan dikarunia anak. “Istri saya sudah nggak ada, anak-anak masih di Depok, alhamdulillah sudah berumah tangga semua, mereka ikut suami masing-masing.”

Entah karena masih dibaluri trauma masa lalu, Pak Sumar sapaan akrabnya meminta
Monde untuk tidak menyebutkan nama anak-anak dan cucu-cucunya. Apalagi alamat
rumah keluarganya.

Diskriminasi politik

Malapetaka baru mendera kehidupan Pak Sumar begitu peristiwa G30S 1965 meletus.
Karena aktifitas politiknya bersama partai yang saat itu menjadi musuh bersama, dia
terpinggirkan di negeri yang diperjuangkannya.

“Saya ditangkap di Bank Dagang Negara, di kantor saya bekerja di Jl. Pintu Air Besar
Selatan, dan dikerangkeng selama 5 bulan lebih,” tuturnya mengenangkan.

“Saya dijemput di kantor pada tanggal 14 Oktober 1965 lalu dibebaskan
21 Maret 1966,” imbuhnya.

Dia mengaku setelah peristiwa penangkapan itu tak bisa kerja lagi. “Dimana-mana
saya dicurigai, bahkan oleh kawan sendiri. Akhirnya saya terpaksa narik becak untuk
menghidupi keluarga.”

Sebelum narik becak di Depok, dia mengaku awalnya pernah menjadi buruh bangunan, pernah juga dagang ayam, sampai akhirnya mangkal di Pasar Lama, dekat PLN, Jl. Nusantara dan Rumah Sakit Bhakti Yudha, bersama tukang becak lainnya.

Semangat revolusioner Sumarsono seperti tak pernah padam dalam jiwanya. Saat asyik menunggu pelanggan, Alumni SMA 6 Yogyakarta ini terus menyebarluaskan
propaganda.

“Meski ngebecak, saya tetap kasak kusuk memprotes penguasa, yang saat itu dipegang Soeharto. Baik di warung kopi, di pangkalan, maupun di warung nasi” cetusnya.

Karena doyan ngomong itulah kemudian dia dikenal orang banyak.

“Bahkan waktu itu saya pernah dipanggil Koramil Beji. Orang menyebut saya dengan
julukan pimpinan gerombolan becak.”

Pak Sumar juga mengaku saat itu, saat itu dirinya seringkali dibuntuti orang-orang
dari Koramil.

“Mereka koramil itu suka nongkrong di pangkalan. Tapi saya cuek aja. Toh yang
sering saya suarakan adalah kebenaran.”

Kini semua telah berlalu, Sumarsono tidak bisa lagi narik becak, lantaran kaki
kanannya sakit, akibat asam urat yang dideritanya.

Kepada Monde dia menyatakan sekarang negeri ini sudah terlalu terpuruk, tapi
rakyatnya terlelap tak sadarkan diri.

“Hidup semakin susah, mau nggak mau kita harus melakukan perlawanan” katanya
lantang walaupun terbata-bata, ketika ditemui Monde di rumah kontrakannya,
di sekitar kampus UI Depok.

Semangatnya memang tak pernah pudar. Momentum seabad kebangkitan nasional
20 Mei lalu, Pak Sumar ikut turun ke jalan berjuang bersama massa rakyat menolak
rencana pemerintah yang saat itu akan menaikan harga BBM.

Namun usia tak bisa dilawan. Pak Sumar kini makin sering berperang dengan dirinya. Tubuhnya telah jompo. Hari-harinya kini banyak dihabiskan di kursi di sebuah panti jompo yang didirikan anggota DPR dari Fraksi PDI-Perjuangan.

(Wenri Wanhar)

HISTOGRAFI
Nama: Sumarsono
Usia : 75 tahun
Karir : Sekretaris Bank Dagang Negara Jakarta

Pendidikan
Alumnus SMA 6 Jogja
Alumnus Fakultas Hukum Universitas
Indonesia (UI) tahun 1964

Organisasi
Pimpinan Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) Jakarta
Pendiri Persatuan Pegawai Bank Dagang Negara (PPBDN) yang berafiliasi ke SOBSI
Ketua panitia Games of the New Emerging Forces (Ganefo) di Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

June 2008
M T W T F S S
« May   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
%d bloggers like this: