it’s about all word’s

‘Karyawan Harus Nabung biar Makmur..!”

Posted on: July 1, 2008

Judul: ‘Karyawan Harus Nabung biar Makmur..!”
5 Kiat Praktis Menabung & Berinvestasi  bagi Karyawan
Penulis: Safir Senduk
Terbitan: Elex Media Komputindo, Juni 2008
Tebal: 231 Halaman

Kemakmuran. Siapa sih yang tidak ingin makmur. Sampai-sampai ada pepatah “kecil disuka, muda kaya raya mati masuk surga”. Sempurna! Tak heran kata kemakmuran selalu menjadi faktor penarik bagi setiap revolusi keagamaan, kenegaraan hingga keluarga.

Sebuah negara yang gagal memberikan kemakmuran bisa tumbang ketika ada janji tersebut ditagih dan tak diberikan. Tali pernikahan bisa berantakan ketika kemakmuran tak kunjung datang.

Namun harus diingat tingkat kemakmuran dinilai berbeda oleh masing-masing individu. Makan kenyang tidur tenang bisa jadi sudah menjadi ukuran kemakmuran bagi individu A. Sementara rumah besar, mobil berjejer, liburan ke Paris menjadi ukuran Kemakmuran bagi individu B.

Pendeknya batas persepsi kemakmuran tergantung pada individu masing-masing. Untuk mencapai tingkat yang berbeda-beda itu diperlukan perencanaan keuangan pribadi yang melakukan pendekatan individual.

Hal ini bisa dilakukan dengan mempertimbangkan siklus kehidupan manusia. Siklus kehidupan manusia adalah perjalanan hidup manusia yang selalu dimulai dari kelahiran dan diakhiri dengan meninggalnya individu tersebut.

Secara normal, suatu siklus kehidupan dimulai dari kelahiran, masa anak-anak, masa dewasa lajang, masa pernikahan, masa orang tua, masa pensiun kemudian meninggal.

Siklus kehidupan manusia pada dasarnya hampir sama. “Hampir sama” dalam arti tidak semua orang akan selalu melalui setiap masa dalam siklus kehidupan normal.

Perencanaan dengan melihat pendekatan siklus kehidupan manusia dapat digunakan sebagai acuan dalam membuat pertimbangan kebutuhan di masa yang akan datang.

Safir Senduk kembali mengajak pembaca dari kelas pekerja untuk mulai berpikir cerdas mencapai kemakmuran. Sebab seorang karyawan – berapa pun gajinya – tidaka akan bisa makmur kalau tidak menabung dan berinvestasi.

Pada dasarnya menabung serta berinvestasi itu kegiatan yang mudah dan menyenangkan. Namun dengan kondisi saat ini dan semakin beragamnya pilihan investasi diperlukan pengetahuan yang cukup untuk melakukan kegiatan ini.

Sayangnya, banyak buku keuangan yang memberikan kesan seolah-olah menabung dan berinvestasi itu rumit untuk dilakukan. Safir senduk dengan buku saku setebal 231 halaman membawa pembacanya untuk selalu berdialog.

Berdialog? Ya. Karena karyawan seperti halnya saya serasa terus menerus diintimidasi kalimat-kalimat yang diguratkan penulis. Menyetil bahkan menohok kesadaran saya sebagai seorang karyawan.

Pada umumnya karyawan cenderung menggantungkan diri pada gaji yang sekadar masuk dan keluar di akhir dan awal bulan. Seringkali karyawan kemudian selalu berkeluh kesah kekurangan pendapatan.

Padahal sejak dulu nenek moyang kita yang bercocok tanam selalu membiasakan diri menyimpan sebagian dari pendapatan yang mereka terima. Padi disimpan sebagian, jagung diamankan dalam lumbung.

Jika ditarik ke belakang pendapatan yang diterima bisa disisihkan ke dalam tabungan atau dialihkan dalam instrumen yang menguntungkan ketimbang hanya diputar untuk membayar kebutuhan rutin.

Dalam buku ini, ada lima kiat praktis yang bisa dengan mudah dilakukan oleh karyawan agar bisa menabung dan berinvestasi. Dia menganjurkan kita untuk menentukan tujuan keuangan di masa depan. Kemudian mulai menabung setiap bulan. Sedangkan bonus disarankan untuk diinvestasikan.

Dia juga menyarankan kita untuk memproduktifkan harta. Terakhir, mempersiapkan masa-masa sulit. Safir Senduk membeberkan teorinya disertai contoh-contoh konkret di lapangan.

Ditulis dengan bahasa yang sederhana, penuh dengan contoh serta langkah praktis untuk setiap kiatnya, buku ini pantas menjadi pegangan bagi Anda yang bekerja sebagai karyawan.

Namun harus diingat sejak awal buku ini tak akan mengantarkan Anda pada kebahagiaan. Dalam kamus ekonomi tak akan pernah tercantum kata kebahagian (happines) yang adalah kemakmuran (Wealth).

Meski demikian, ketika tahap kemakmuran—yang normatif–itu telah dicapai maka sisi kebahagiaan yang menjadi tujuan akhir hidup bisa dicapai dengan lebih mudah asalkan dilandasi dengan rasa syukur.

4 Responses to "‘Karyawan Harus Nabung biar Makmur..!”"

wah…ijin ngirim posting resensi ini ke milis kawan-kawan koresponden&kontributor transtv ya goth…lengkap dengan link-nya…fiet a compli gak ya?

atur bro….dah dapat album barunya judas priest?

Makasin Infonya prend
Entar go cari bukunya

terima kasih review nya
siap belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

July 2008
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: