it’s about all word’s

Membangun bangsa lewat pena

Posted on: July 1, 2008

Judul: Catatan Hukum Todung Mulya Lubis
Mengapa Saya Mencintai Negeri Ini?
Penulis: Todung Mulya Lubis
Cetakan: Penerbit Buku Kompas, Januari 2008
Tebal: 322 Halaman

Judul: Refleksi 10 Tahun Reformasi
Memurnikan Reformasi dan Meluruskan
Amandemen UUD 1945
Penulis: R. Soeprapto
Cetakan: Ara Communication, Mei 2008
Tebal: 177 Halaman

Judul: 10 Tahun Reformasi
Bakti Untuk Indonesia
Enam Ikon Pembawa Tradisi Baru
Penulis: Fransiskus Surdiasi dkk
Cetakan: Pustaka Sinar Harapan, Juni 2008
Tebal: 240 Halaman

Pena lebih tajam dari pedang. Lewat ketajaman kata-kata yang diguratkan sebuah perang bisa dimenangkan. Semangat bisa dibangkitkan dan sejarah terekam tak lekang oleh cepatnya waktu berputar.

Dengan kekuatan ini. Pena adalah ancaman bagi kuasa yang ingin membungkam suara kebenaran. Namun bak pedang bermata dua, ketajamn pena pula yang seringkali menyiarkan dusta yang dipercaya.

Tiga pustaka ini menarik untuk dikaji dalam sebuah perbicangan. Lewat pena, ketiga buku ini berusaha menyuarakan fakta yang mungkin terlewatkan dan terlupakan dalam cepatnya perubahan.

Momen menarik tentu saja dimulai Todung yang asyik mengajak pembaca mengenal lebih dalam kondisi hukum dalam negeri yang terkesan berantakan karena sepak terjang mafia peradilan.

Dalam buku yang merupakan kumpulan tulisan Todung ada bias cahaya yang menerangi kegelapan dari lorong gelap tanda tanya tentang peradilan Indonesia yang seharunsya adil dan bersih.

Tulisan-tulisan Todung Mulya Lubis yang berasal dari berbagai koran menunjukkan kritisisme objektif dalam meneropong dunia hukum Indonesia yang jarang dalam bidang buku dunia hukum di Indonesia.

Selama ini, buku-buku yang membahas dunia hukum yang tergolong kritis pun hanya beredar diam-diam di kalangan tertentu seperti lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau aktivis pergerakan.

Dalam buku ini bisa ditemukan, Todung membahas perihal Surat Sakit Soeharto yang serba janggal tapi diterima sebagai fakta tak terbantahkan bahwa orang terkuat itu berhak mangkir dari persidangan.

Todung juga bisa dengan leluasa meneropong semua sisi perisitwa hukum sebut saja dagelan peradilan terhadap Akbar Tandjung yang jelas bersalah tapi toh bebas juga dari jerat hukuman.

Tak hanya itu saja bisa ditemukan telaahnya tentang aspek hukum pada kasus penanganan gempa dan tsunami di Aceh, peninjauan kembali soal aspek humanisme dalam pemberlakuan hukuman mati, atau soal skandal PT Newmont yang melibatkan surat sakti.

Dengan membaca buku ini, sebuah tirai disibakkan. Pembaca bisa mendapat gambaran borok praktik dunia hukum di Indonesia yang meski ketahuan bobrok tapi terus saja dimaafkan dan dibiarkan.

Reformasi tak berujung

Sementara itu trio penulis Fransiskus Surdiasis, Ulin Ni’am Yusron dan Rusdi Mathari dalam buku setebal 240 halaman mencoba membawa pembacanya menengok kebelakang pada enam sosok yang diyakini sebagai pembawa tradisi baru dalam satu dekade reformasi pasca tumbangnya diktator Soeharto.

Keenam sosok tersebut adalah Mahkamah Kontitusi (MK), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Deny JA (pendiri Lembaga Survei Indonesia LSI), Amien Rais (sebutan bapak Reformasi), Kontras dan Munir, serta mantan Presiden BJ Habibie.

Menurut Surdiasis, dalam 10 tahun ini, bangsa Indonesia menyaksikan munculnya sejumlah pembaruan, kepeloporan dan tradisi baru yang dibawa baik perorangan maupun lembaga. Meski berbeda dalam bentuknya, namun sama dalam esensi yang disumbangnya, yakni memperkuat konsolidasi demokrasi Indonesia.

Keenam sosok tersebut dinilai berhasil membawa tradisi baru Reformasi seperti kebebasan pers, keberanian membela hak pribadi dari warga negara terhadap lembaga negara dan kegigihan memberantas korupsi.

Meski lambat, keenamnya sosok tersebut sudah membawa dunia politik Indonesia memperlihatkan perubahan yang mendasar dan konsilidasi demokrasi yang berkembang dengan baik.

Sementara itu R. Soeprapto yang merupakan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta (1982-1987) mengajak khalayak untuk kembali melirik Pancasila dan UUD 1945 sebagai solusi bagi keruwetan kondisi saat ini.

Ketiga buku ini meski berbeda dalam tiga medium berbeda namun memiliki esensi  serupa yaitu memperkuat konsolidasi demokrasi Indonesia. Menuju sebuah bangsa yang lebih baik, bermoral dan toleran pada perbedaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

July 2008
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: