it’s about all word’s

Narasi sosial dan ekonomi nan menarik

Posted on: July 9, 2008

Judul: Jurnalisme Sastrawi:Antologi Liputan Mendalam dan Memikat
Editor: Andreas Harsono dan Budi Setiyono
Cetakan: Kepustakaan Populer Gramedia, Mei 2008
Tebal: 324 Halaman

Judul: Jerusalem:Kesucian, Konflik dan Pengadilan Terakhir
Penulis: Trias Kuncahyono
Cetakan: Penerbit Buku Kompas, April 2008
Tebal: 316 Halaman

Sejak awal saya akan langsung menyatakan kedua buku ini adalah pilihan tepat bagi pembaca pecinta karya jurnalisme yang ditulis dengan gaya bak novel. Tak saja karena buku ini karya para jurnalis namun genre sastrawi-nya begitu pekat.

Topik yang berat maupun rumit terasa ringan dengan kata-kata yang lincah jalin menjalin kedua buku ini renyah, ramah dan menyenangkan ketika dipelototi berlama-lama sembari menyeruput kopi.

Jurnalisme sastrawi berkembang di AS tahun 1960-an. Salah satu pentolannya wartawan Tom Wolfe yang memulai pada 1974. Orang menyebutnya sebagai laporan naratif (narrative reporting) atau jurnalisme yang penuh gairah (passionate journalism). Yang berpikir sederhana biasa menyebutnya tulisan panjang.

Andreas Harsono lebih suka menyebutnya sebagai tulisan yang lebih dalam daripada in-depth reporting. Laporan yang ditulis tidak saja berusaha melaporkan tapi memberikan paparan kejadian kepada pembaca.

Tak heran karya jurnalisme dengan gaya ini umumnya butuh waktu panjang. Panjang tulisannya dan panjang pula riset datanya. Ada dua artikel yang selalu jadi rujukan karya ini yaitu Silent Spring karya ahli biologi Rachel Carson dan Hiroshima-nya John Hersey.

Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat ini adalah edisi revisi yang dirilis Oktober 2005. Merupakan kumpulan karya pilihan karya terbaik yang pernah naik cetak di Majalah Pantau.

Akhirnya terpilih delapan tulisan yang kemudian dirangkum dalam buku ini, yaitu Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft karya Chik Rini, Taufik bin Abdul Halim (Agus Sopian), Hikayat Kebo (Linda Christanty), dan Konflik Nan Tak Kunjung Padam (Coen Husain Pontoh).

Selain itu, Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan (Alfian Hamzah), Koran, Bisnis, dan Perang (Eriyanto), Ngak-Ngik-Ngok (Budi Setiyono) dan Cermin Jakarta, Cermin New York (Andreas Harsono).

Tiga tahun lalu saya memuji antologi tersebut sekaligus mengkritiknya karena tak memasukkan jurnalisme yang menguliti ekonomi dan bisnis. Satu lahan jurnalisme yang cenderung tenggelam dalam deretan angka.

Rupanya, kritik itu didengar kedua editor, Andreas Harsono dan Budi Setiyono memilih mencabut artikel Cermin Jakarta, Cermin New York dan menggantikannya dengan Dari Thames ke Ciliwung’ yang fenomenal di kalangan wartawan dan pebisnis. Dengan dimasukkannya tulisan ini, sempurna sudah antologi ini.

Sebuah catatan

Sementara itu buku Jerusalem karya wartawan senior Kompas, Trias Kuncahyono yang berdiri sendirian tak kalah menariknya. Trias pantas disebut wartawan senior. Selain sudah menulis empat buku, untuk urusan Timur-Tengah dia memiliki pengalaman terjun langsung meliput wilayah itu.

Tak heran saat semobil dengan dia dan mendengar buku Jerusalem siap diluncurkan saya langsung antusias. Saya sangat berharap buku ini sekuat keempat buku karyanya terdahulu.

Hasilnya memang memuaskan. Sejak awal penulis membawa pembaca untuk berjalan seimbang tanpa terseret emosi keberpihakan agamis. Trias sebagai wartawan yang dituntut tak memihak langsung menyatakan Jerusalem bukan kota malaikat. Jerusalem juga tempat tinggal manusia.

Karena itu, nafsu-nafsu manusiawi pun tetap hidup di kota suci itu. Bahkan, agama dan politik ibarat dua sisi mata uang Jerusalem. Pertarungan antara politik dan agama itulah yang menguji para pemimpin agama dan negara serta pemerintahan.

Buku setebal 315 halaman ini terdiri dari tujuh bab, dengan beberapa sub babnya. Bab pertama bercerita tentang awal mula perjalanan penulis ke tanah Palestina dan cerita pemeriksaan yang demikian ketatnya, yang dialaminya di bandara.

Pada Bab 2, berkisah catatan perjalanan sejumlah kota yang dikunjungi. Buku ini juga menghadirkan sejarah tanah Kanaan, sebuah kisah yang mendasarkan Israel mengklaim atas Tanah Palestina dan Jerusalem. Cerita ini, dipaparkan pada Bab 3.

Pada Bab 5, penulis menceritakan Kota Lama Jerusalem, awal cerita bermula. Disini, kita bisa mendapatkan cerita tentang Tembok Barat, Dome of the Rock, Masjid Al Aqsha, dan Gereja Makan Kristus serta berbagai situs suci lainnya.

Secara lebih mendalam, bab 6 bercerita tentang Jerusalem sebagai kota suci tiga agama, yaitu Yudaisme, Kristen dan Islam. Sedangkan bab terakhir yakni bab 7 diuraikan upaya-upaya menyelesaikan masalah Jerusalem di panggung-panggung internasional.

Satu hal yang tak berhasil saya temukan adalah cerita unik Trias ketika mengakali seorang pejabat intel Israel, Mossad. Entah Trias malu-malu ataukah ada cerita lain yang akan dia tampilkan dalam buku selanjutnya. Misalnya soal aset Israel yang bertebaran di Tanah Air

2 Responses to "Narasi sosial dan ekonomi nan menarik"

Salam kenal… saya sedang membaca blog anda😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

July 2008
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: