it’s about all word’s

Risalah Gong Si Bolong

Posted on: July 9, 2008

Kesenian Khas Kota Depok

Layaknya kota-kota lain yang punya legenda untuk diceritakan kepada anak cucu, seperti hikayat Batu Malin Kundang di Minangkabau, lalu Bumi Pasundan dengan kisah Gunung Tangkuban Perahu-nya, Depok punya legenda Gong Si Bolong.

Tidak sekadar legenda–lebih tepat disebut sejarah. Pasalnya, secara materi [perwujudan] hingga hari ini Gong Si Bolong itu masih terawat dan disakralkan. Kelompok keseniannya ditetapkan sebagai khas Kota Depok dan di perempatan Tanah Baru berdiri kokoh Tugu Gong Si Bolong.

Belum lama ini, kelompok kesenian Gong Si Bolong mewakili Kota Depok mengikuti Pergelaran Kesenian Daerah Jawa Barat Travel Exchange 2008 di Bandung. Tak tanggung-tanggung nama Kota Depok dibuat harum, sebab kelompok ini berhasil meraih juara I.

Ada kisah menarik ichwal Gong Si Bolong. Berdasarkan kisah yang berhasil dihimpun Monde, dahulu kala, di abad ke-16 masyarakat Kampung Tanah Baru masih bisa dihitung dengan jari jumlah kepala keluarganya. Wilayah ini berbatasan langsung dengan Ciganjur. Mereka bertalian darah.

Secara geografis, kala itu Kampung Tanah Baru masih hutan-hutan kecil dan rawa-rawa. Untuk bertahan hidup masyarakatnya bertani. Lambat laun, seiring berjalannya waktu hutan mulai dibuka menjadi lahan pertanian. Sawah tadah hujan, perkebunan dan kolam-kolam perikanan mulai membelah wilayah itu.

Suatu ketika, masyarakat yang tenteram, aman, nyaman dan damai itu dikejutkan dengan bunyi-bunyian suara gamelan di malam-malam tertentu. Konon kabarnya suaranya sangatlah merdu sehingga masyarakat bertanya-tanya siapa yang menggelar pesta dengan menanggap gamelan?

Karena sering terdengar, dibaluri rasa penasaran maka masyarakat desa kemudian mencari-cari sumber suara itu. Namun tak satupun yang berhasil menemukan gelaran gamelan. Tapi di malam-malam berikutnya, suara itu masih tetap nyaring merdu terdengar.

Sekitar tahun 1648, Pak Jimin seorang sesepuh ikut ambil bagian dalam pencarian. Berbagai usaha mulai dari lahir sampai batin-pun dilakukannya.

Tak sia-sia, di hutan kecil bersemak, sekitar Curug Agung—aliran Kali Krukut [curug: air terjun] Jimin berhasil menemukan seperangkat gamelan. Sekararng wilayah ini dikenal dengan nama Curug Agung, Kelurahan Tanah Baru, Beji.

Di lokasi itu, Jimin melihat seperangkat gamelan lengkap yang tertata rapi. Kanan kiri depan belakang tak ada orang. Dia mondar-mandir seraya memanggil-manggil kalau-kalau si empunya gamelan berada di situ. Namun tak ada sahutan. Hanya angin mendesau yang menyapa, Jimin seorang diri di situ.

Lama menunggu, tak ada yang datang. Setelah memastikan seperangkat alat musik tradisional itu tak bertuan, Pak Jimin menutuskan untuk membawa pulang alat-alat gamelan tersebut.

“Dia tertarik membawa gamelan bolong di tempat pukulnya yang mengeluarkan cahaya berkilau. Selain itu Pak Jimin juga membawa gendang dan bende. Karena seorang diri hanya itu yang dibawanya. Itu aja udah kerepotan,” kata Ketua kesenian Gong Si Bolong, Buang Jayadi.

Sampai di rumah, Pak Jimin kembali lagi ke Curug Agung. Kali ini dia membawa tiga orang tetangganya. Sampai di lokasi mereka berempat terkejut, karena sudah tidak ada apa-apa disana. Dalam kebingungan mereka kembali pulang terheran-heran.

“Ketiga alat musik itu, akhirnya diberi nama Si Gledek–karena suaranya nyaring. Sebelum berpulang ke rahmatullah, Haji Mong dan Haji Holil, keturunan Pak Jimin menceritakan hal itu kepada saya,” sambung Buang.

Usang terletak bawa petaka,
Diberdayakan menjadi manfaat

Tiga alat itu hanya di simpan di sudut ruangan rumah Pak Jimin. Lama terletak dan tak terpakai, akhirnya terjadi keanehan tersendiri bagi keluarga Jimin dan warga sekitar Kampung Ciganjur tempat Jimin bermukim. Mereka diserang penyakit gatal dan bengkak-bengkak.

Segala upaya telah dilakukan, tapi tak kunjung sembuh hingga akhirnya atas saran dari para tetua setempat, Pak Jimim memutuskan untuk menyerahkan ketiga alat gamelan itu kepada saudaranya–Pak Anim, warga sekitar Curug Agung tempat ditemukannya Gong Si Bolong.

Awalnya, Pak Anim bingung. Apalagi ia dikenal sebagai seorang muslim fanatik. Akhirnya atas rembukan mereka berdua, gemelan itu diserahkan kepada saudaranya yang tinggal di Tanah Baru, yaitu Pak Galung alias Pak Jerah. Namanya hingga kini diabadikan menjadi nama gang di Tanah Baru, yakni Gg, Jerah.

Di tangan Pak Jerah, tiga alat kesenian itu dilengkapi menjadi satu set gendang, dua set saron, satu set keromong, satu set kedemung, satu set kenong, terompet, rebab dan benda serta gong besar, hingga mencapai penyempurnaan seperangkat gamelan.

Kelompok kesenian Gong Si Bolong dari Tanah Baru-pun terbentuk. Kelompok ini menampilkan serangkaian pertunjukan a.l ajeng, nayuban dan ngibing.

“Atraksi ajeng adalah permainan gemelan khas Tanah Baru yang dentumannya mirip-mirip dengan gamelan Bali. Permainannya dinamis, demonstratif dan atraktif. Iramanya agak cepat tanpa ada nyanyian,” kata C. Supandi—sejarahwan asal Kota Depok yang juga aktif bersama kelompok Gong Si Bolong.

“Kalau nayuban merupakan penampilan tarian khas asal Tanah Baru yang merupakan cikal bakal tarian doger karawang dan jaipongan. Kalau di Sumedang orang menyebutnya bangreng, kalau di Jawa Tengah orang menyebutnya tledek,” tuturnya menjelaskan  sedikit banyak sejarah tari-tarian kepada Monde belum lama ini.

Tarian nayuban ditampilkan oleh pasangan laki-laki dan perempuan diiringi dentuman musik gamelan Gong Si Bolong yang selaras dengan nyanyian berjudul Sarendang dan Anak Ayam.

Kini, meski sudah mulai terlupakan, kesenian ini tetap berdiri di tengah gelora jaman. Tampuk kepemimpinan sudah berpindah turun temurun dari satu generasi ke generasi lain.

Harapan dan keinginan para pewarisnya tentunya agar semua pihak, khususnya lapisan masyarakat Kota Depok, karena kelompok kesenian ini merupakan warisan budaya leluhur yang harus tetap dilestarikan.

Silsilah penemu dan penerus kesenian Gong Si Bolong:

–Pak Tua Jimin (Ciganjur)
–Pak Anim (Curug)
–Pak Tua Galung (Tanah Baru)
–Pak Saning (Tanah Baru)
–Nyai Asem (Tanah Baru)
–Pak Bagol (Tanah Baru)
–Pak Buang Jayadi (Tanah Baru)
–Pak Kamsa S Atmaja (Tanah Baru)
–Pak Buang Jayadi (Tanah Baru)

*Sumber H. Holil cucu dari H Damong putra pak Tua Jimin tahun 1913 dan diperkuat oleh Buang Jayadi

Wenri Wanhar

1 Response to "Risalah Gong Si Bolong"

subhanallah kong jimin doa kami menyertaimu…smoga engkong ditempatkan disisi Allah swt amiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

July 2008
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: