it’s about all word’s

Ari Sumartani: Babat Alas Bisnis Koran Depok

Posted on: July 11, 2008

Seni dan kejujuran kunci segalanya

Koran adalah sumber informasi. Di era kekinian, kebiasaan mengambil secarik koran sebagai kawan ngopi pagi atau bagi yang tidak sempat sarapan di rumah, koran menjadi kawan di atas angkot atau bus dalam perjalanan ke tempat kerja atau aktifitas lainnya.

Di Depok, berbagai jenis koran gampang sekali ditemui. Lapak-lapak koran menjamur dimana-mana, pengasong koran hampir menghiasi setiap lampi merah maupun alat transportasi umum.

Tahukah Anda, dulunya koran menjadi barang yang langka di kota Belimbing ini. Hingga datanglah keluarga korban kekuasaan politik, “babat alas” menjajakan koran ke kota pinggiran Ibukota ini.

Adalah Ari Sumartani. Berkat kerja keras dan kesungguhannya, Wahyu Agency–usaha koran yang dilakoninya di Jl. Mawar, Apotek Pala Parma, Depok 1 kini diakui sebagai agen koran tersebar di Depok. Wahyu Agency juga disebut-sebut sebagai agen koran pertama di bilangan Depok sekitarnya.

Tak pernah bercita-cita menjadi agen apalagi pengasong koran. Himpitan ekonomi politik-lah yang kemudian menggiring Ari melakoni berbagai usaha untuk bertahan hudup, mulai dari penjaja makanan keliling hingga pengasong koran keliling. Semua itu dilakukannya untuk membantu Sang Ibu dan membayar sekolahnya.

Ari lahir di Malang, 14 Oktober 1965 dari rahim seorang ibu yang bernama Supeni. Rentang waktu kelahirannya, diwarnai penangkapan ayahnya, Hadi Prayitno Waluyo—seorang Menteri Kerakyatan di era Orde Lama. Penangkapan itu tak lain atas tuduhan terlibat G30S.

“Ayah saya ditangkap tahun 1965 dan bebas di tahun 1970-an. Setelah keluar penjara ayah saya menjadi pedagang sayuran keliling di sekitar wilayah Depok dan Srengseng Sawah. Sesekali beliau mengobati orang,” kata Ari ditemui Monde beberapa waktu lalu.

Nama yang diberikan kepadanya, bermakna cahaya petani. “Katanya saat itu yang menjadi tonggak kehidupan adalah petani. Orang paling bangga menjadi petani!”

Awalnya nama saya, lanjutnya, bukan Sumartani, tapi Sunartani, tapi karena saat itu petani yang identik dengan PKI dianggap gimana gitu makanya nama saya jadi Sumartani.

Paska peristiwa 1965, selain berjualan sayur, Ibu Supeni juga menjual aneka goreng-gorengan dan es untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.

Ari kecil yang saat itu masih mengenyam pendidikan di SD Srengseng Sawah 07–kini menjadi kantor resimen mahasiswa (menwa) kampus UI Depok, setiap pulang sekolah menjajakan pisang goreng buatan ibunya.

“Wilayah jualan saya, Depok, Srengseng Sawah sekitarnya. Waktu itu saya masih ingat kemana-mana nyeker, sekolah juga saya nyeker,” kenangnya penuh rasa bangga.

Tamat dari SD, sekitar tahun 1977-1978, Ari meneruskan pendidikan di SMP 98 Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

“Tahun ini, waktu SMP, ibu saya coba-coba jadi pedagang koran dan tentunya saya juga ikut alih profesi dari penjaja pisang goreng keliling menjadi penjaja koran keliling.”

Sebagaimana dikisahkannya, kala itu di tapal batas Jakarta Selatan dan Depok belum ada agen koran di Kota Depok, apalagi pengasong koran. Karena tak punya saingan, usaha korannya-pun mengalami masa gilang gemilang.

“Waktu itu orang kalau nyari koran susah. Adanya cuman di wilayah Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Kalau yang menjual koran di sebagian wilayah Jakarta Selatan dan Depok yang pertamakali ya ibu saya” paparnya.

Merintis di Depok

Sejarah ensiklopedia Indonesia mencatat, kegairahan terhadap koran dan sejenisnya tidak saja terjadi pada masa reformasi. Beberapa saat setelah pembacaan teks proklamasi Indonesia koran sangat laku diperebutkan orang, sepertinya saat itu tidak ada seorangpun yang ingin ketinggalan berita.

Informasi dan berita tentang bangsa yang baru saja lahir itu menjadi daya tarik tersendiri bagi penduduknya tentunya membuat para penerbit semakin sumringah karena oplahnya menanjak.

Tercatat beberapa peristiwa penting dalam sejarah pers di masa revolusi yakni di tahun yang sama telah didirikan Sari Pers di Jakarta oleh Pak Sastro dan kantor berita Antara dibuka kembali, setelah selama tiga tahun dibekukan Jepang.

Meski saat meletusnya peristiwa G30S, koran-koran dibreidel, dan hanya satu koran yakni Angkatan Bersenjata—korannya tentara yang boleh terbit, di tahun-tahun berikutnya koran kembali bermunculan.

“Saya masih ingat betul, tahun 70-an akhir itu ada koran Berita Yudha, Suara Karya, Merdeka dan Suara Rakyat. Itu yang saya jajakan keliling-keliling,” paparnya.

Melihat titik terang dengan menjalani usaha koran, maka pada tahun 1978, Ibu Supeni mendirikan Wahyu Agency, di kediamannya Jl Raya Srengseng Sawah Kampus UI Depok—agen yang pertama kali mengedarkan koran di Depok.

“Sekarang yang di Srengseng masih ada, masih dibawa pengelolaan ibu. Karena alhamdulillah usaha itu maju, tahun 1987, saya buka lagi Wahyu Agency yang di Jl Mawar, Depok 1.”

Saat SMP, jika ibunya mengantar koran kepada para langganan, maka Ari menjajakannya berkeliling sembari mencari pelanggan baru. Selain menjaja koran, di waktu senggang Ari menyalurkan bakat seninya menari di sanggar Taman Mini Indonesia Indah (TMII). “Saya mulai menari sejak kelas 2 SMP.”

Tamat SMP, Ari melanjutkan sekolah di SMA 3 Setiabudi, Jakarta. Dengan alasan menguatkan usaha koran ibunya, dia terpaksa harus berpindah-pindah sekolah. Dari SMA 3 pindah ke SMEA 21 Pasar Minggu, lalu ke SMA Yayasan Palapa Srengseng Sawah hingga lulus.

“Akhirnya pindah ke SMA Yayasan Palapa karena dekat dari rumah dan yang paling penting, gampang untuk jualan koran,” katanya. Meski disibukkan dengan sekolah dan jualan koran, Ari tidak meninggalkan aktifitas tari menari.

Berbagai sanggar telah dikecapnya untuk menimba ilmu. Mulai dari sanggar TMII, lalu sanggar Sito Laras di Halim Perdana Kusuma, sampai sanggar di Taman Ismail Marzuki (TIM) hingga sanggar Rasuna Kuningan, Jakarta Selatan.

Sekitar tahun 1997, Ari bergabung bersama sanggar Ayodya Pala. Namun karena alasan tidak sesuai dengan idealismenya, tahun 2001 dia memutuskan untuk keluar.

“Bagi saya seni itu bukan alat komersialisasi, makanya saya keluar dari Ayodya Pala,” tuturnya.

Kini, meski terbilang sukses di bisnis koran, aktifitas seni tetap dilakoni Ari. Sampai kini dia masih mengajar tari di sekolah-sekolah di kota Depok seperti Cakra Buana dan lain sebagainya.

Sejumlah anak asuhnya berhasil menoreh prestasi diundang menggelar pertunjukan di Festival Yokohama Jepang, Boston, Amerika, Filipina dan lainnya.

Aktifitas di kesenian pulalah mempertemukannya laki-laki lembut namun tegas ini dengan Nurmani (26) murid tarinya yang kemudian dipersuntingnya. Mereka kini telah dikarunia tiga orang anak.

Kepada koran ini, Ari membuka rahasia hidupnya, “Melakoni hidup ini adalah seni. Rahasianya wirasa, wiraga, wirama. Kuncinya adalah kejujuran. Apapun yang dilakoni bila didasari kejujuran niscaya akan baiklah hasil yang dipetik.”

Wirasa adalah bagaimana mengolah dan menggunakan perasaaan, wiraga adalah memperagakan tampak luar yang dilihat orang, sedangkan wirama merupakan keselarasan. Dalam tarian, perpaduan antara tari dan musik pengiring.

Biodata:
Nama: Ari Sumartani
Tampat lahir: Malang, 14 Oktober 1965

Ayah: Hadi Prayitno Waluyo
Ibu: Supeni

Istri: Nurmani
Anak: 1. Adi Riano Wasiso 9 th
2. Utari 7 th
3. Raditya 1,2 th

Pendidikan:
SD Srengseng Sawah 07
SMP 98 Lenteng Aguung
SMA 3 Setiabudi Jakarta
SMEA 21 Pasar Minggu
SMA Yayasan Palapa Srengseng Sawah
Akademi Wiraswasta Dewantara Meruya Udik (tidak lulus)

Karir: Mendirikan Wahyu Agency

Wenri Wanhar

6 Responses to "Ari Sumartani: Babat Alas Bisnis Koran Depok"

ok bgt pak ari

tolong minta info no tlpn wahyu agency yang di srengseng sawah. sekalian alamat lengkapnya ya. mkasih

ya pak… saya mau titip brosur neh

bagi info dong, bagaimana cara jadi Agen Ato Sub Agen koran….
thank you

menarik..
bisa dijadikan sumber inspirasi..
trima kasih

ya ampun guru nari saya…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

July 2008
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: