it’s about all word’s

A day in my life: In Memoriam Peter Ripa

Posted on: July 18, 2008

Hi bad news. Peter Ripa died yesterday’ Sebuah pesan pendek bernomor Australia masuk tadi pagi. Prof Roy Murray, dosen senior Manajemen Pertanian, Muresk Institute of Agriculture Curtin University of Technology Australia Barat yang mengirim pesan.

Saya langsung terbangun. Kantuk masih menggantung. Premier Batman: Dark Knight di PIM 2 baru selesai 0.30. Itu pun kami, para wartawan yang jumlahnya 80 orang mesti wisata malam dulu mencari pintu keluar.

Cepat kubongkar rak buku. Kucari buku harianku. Buku harian berlambang Widya Cakra Prawartana milik Universitas Udayana yang menjadi catatan kehidupanku sejak 16 Agustus 1998 dan kututup 5 Juni 2005 setelah menemukan tulang rusukku.

19 Juli 2002. Tertulis ‘Akhirnya gue di ruang tunggu’ Pesawat Qantas tujuan Perth QF 76 berangkat 20 Juli pukul 2.30 WITA dari Bandara Ngurah Rai. Jay, Nyo dan Nyo mengantarku. Tak ada kecupan perpisahan dari perempuan berkerudung itu. Dia sedang pulang ke Balikpapan.

Bagiku mengikuti program ke Muresk Institute of Agriculture Curtin University of Technology Australia Barat ini sebuah perjudian. Aku meninggalkan skripsi yang sudah siap kususun. Artinya target lulus empat tahun tak terkejar. Dekan, Ketua Jurusan dan dosen pun ngamuk.

Sepanjang perjalanan masih terbayang percakapan singkatku dengan perempuan berkerudung itu.

“Kenapa sih kok mendadak!” sergahnya di ujung telepon.
“Mendadak gimana. Kan aku dah bilang jadwal keberangkatanku. Lagian kan aku pasti balik lagi,” jawabku.
“Iya. Tapi kenapa mesti berangkat?” rajuknya.
“Aku punya mimpi. Kamu salah satu mimpiku termasuk Timor-Timur, Papua dan Australia,” aku kehabisan kata. Di ujung sana hening. Hanya isak saja yang terdengar. Besok dia ulang tahun.

“Heh. Nglamun aja!. Jadi ga adegan ‘Living on jet plane’ ya?” kata Mala. Perempuan Padang-Surabaya ini sahabatku sejak semester I. Bersama Mala, berangkat Ade Vidonta. Kami bertiga menjadi wakil kampus kami.

Mala beruntung. Untuk keberangkatannya ke Perth. Ade ada di sisinya. Mereka berdua pacaran cukup lama.

Saya tak menjawab. Cepat kuteguk gelas kedua wine-ku. Rasanya cukup manis. Aku hanya ingin tidur.

Pukul 6 pagi kami mendarat di Bandara Perth. Supervisor kami, Dr. Lionel Martin sudah menunggu. Sepanjang perjalanan pria asal Srilanka itu mencoba memancing kami ngobrol.

Kami sempat mampir ke kampus Curtin di Bentley. Kabut masih menggantung. Hanya kaok gagak yang terdengar. Kami harus cepat, perjalanan Perth ke Muresk di kota Northam sekitar 100 km ke arah timur.

Kami bertiga menginap di guest house Peter Ripa. Aku sempat bertanya pada Lionel. Apa Ripa itu nama pahlawan di Muresk. Dia hanya tertawa. “Besok kamu akan bertemu pahlawan Muresk!”

Sabtu, 20 Juli 2002 pukul 10.00. Kami bertiga terkantuk-kantuk. Semalam tidur kami kurang nyenyak. Suhu turun sampai 3 derajad Celcius. Terlalu dingin bagi mamalia tropis seperti kami. Pemanas ruangan tak membantu.

Saya terbangun pukul 5.00. Hari masih gelap. Angin masih kencang berhembus. Es masih menyelimuti rerumputan. Saya nekad jalan-jalan keluar. Hari itu Muresk yang punya total luas tanah 17,20 km² itu masih sepi karena masih libur semester.

Sebetulnya saya enggan mandi. Brrr. Tapi Mala yang biasanya semanis anak kucing kali ini berubah menjadi macan betina. Kami berdua harus mandi. Hari ini penting. Kami harus belanja lalu ke gereja!

Kami bertiga sempat hanya saling pandang ketika seorang kakek bertampang masam mengetuk pintu guest house. Ternyata dia adalah Peter Ripa. Kakek tua ini imigran Ukraina. Dia mantan penghuni kamp Jerman. Dia pindah ke Australia tahun 1952.

Praktis itu adalah pertemuanku dengan Peter Ripa. Kakek tua yang sudah menjadi trade mark di kampus Muresk. Si Tua Penggerutu sebutannya. Ripa selalu marah tiap kali kusapa dengan tambahan nama Mister.

Don’t call me mister, Jo! Am not too old and am single. Woman is rubbish!” Jo adalah panggilanku di sini. Hari Minggu itu, 21 Juli 2002, Ripa mengajak kami berjalan-jalan ke kota kecil York lalu ke Brown Hill.

Setiap hari Ripa adalah guru terbaikku. Dia dikenal semua staf dan sebagian besar warga lama Northam. Katanya semasa muda Ripa suka naik motor Norton-nya untuk hang out dan—hehehe ‘jajan’ di bar yang terletak di stasiun lama Northam yang kini bergeser dua kilometer dari tempat itu.

Kata rekan kami asal Filipina, Edwin Libuit, Ripa memang sudah dianggap bapak bagi para dosen dan mahasiswa. Setengah abad dia mengabdi di tempat ini. Kata para staf: ‘Bahkan domba pun kenal dengan Ripa!”

Ripa bahkan sampai menemui Ross Clarke, staf lapangan Paul Carmondy, peneliti Oil Seed Project Agriculture Western Australia (Agwest). Dia berpesan agar Clark menjaga aku baik-baik tiap kali mengambil sampel tanaman Canola.

Maklum lapangan-lapangan uji dan pusat riset tanaman Canola milik Agwest berada di tempat yang jauh. Ada Wongan Hill, Noridin hingga Merredin. paling dekat kira-kira 100 km. Tugasku mencatat data tanaman. Mulai dari jumlah daun hingga tinggi tanaman.

Clarke juga masih membujang di York WA 6302 . Selain kerja paruh waktu untuk Paul, Clarke bekerja di arena adu balap anjing di Perth. Kami ngobrol macam-macam. Mulai dari hal-hal sepele sampai trik memikat aussie girl. “You can sleep with them but don’t live with them!” pesannya. Ripa hanya tertawa ber-hohoho ketika aku mengkonfirmasi kata-kata Clark.

5 Agustus 2002. Kami bertiga pindah ke House no.9. Ini adalah guest house lama Muresk. Bentuknya kuno dari kayu. Dulu mahasiswa Indonesia asal Kupang, Max Kapa bersama istri dan dua anak lelakinya tinggal di sini.

Rumah ini punya dua kamar. Tapi kami bertiga memilih tak pernah tidur di kamar. Terlalu dingin. Kami lebih sering tidur di depan perapian. Setiap malam, tiap dua jam aku dan Ade bergiliran memasukkan kayu ke perapian.

17 Agustus 2002. Peter Ripa mengajak kami turun gunung ke Perth. Edwin ikut bersama kami. Sepanjang perjalanan Ripa ngoceh. Perjalanan terasa lama. Pak tua ini ngotot kecepatan kendaraan van itu tak boleh lebih dari 60 km/jam. Dia juga patuh dengan batasan kecepatan.

Setelah memasuki Perth pun, Ripa masih mengoceh. Dia bercerita Perth lampau. Ketika orang belum begitu banyak. Tempatnya main bowling dan hehehehe tak sengaja dia menunjuk tempatnya rajin ‘mampir’.

Kami berlima menuju Kings Park lalu ke rumah Max di Manning Road, Bentley lalu ikut upacara bendera di konsulat jenderal Indonesia di Adelaide Terrace yang petugasnya sama semprulnya dengan pegawai kelurahan.

23 Agustus 2002. Aku kirim email ke perempuan berkerudung itu. Putus! Capek. Beda keyakinan dan pacaran jarak jauh bukan sebuah kondisi nyaman untuk kondisi saat ini. Ripa tertawa dan menepuk pundak ku keras-keras. “Good Jo! Women is rubbish!”

25 Agustus 2002. Aku resmi sendirian di Muresk. Ade dan Mala dapat penempatan dan harus pindah ke Perth. House number nine terasa terlalu besar. Edwin sering menemani aku. Kami sering ngobrol. DNA etnis Sulawesi dan Filipina bertemu.

30 Agustus 2002, sekretaris direktur Muresk, Jane Jujnovich ngasih tahu aku agar pindah ke asrama mahasiswa Destrey Hall. Nama Destrey diambil dari petani Andrew Dempster. Dia adalah ayah dari Mrs E.W. Cotton. Pemilik dari tanah yang dibeli pemerintah Wester Australia tahun 1925. Aku juga harus ketemu Sharon Ruba kalo mo cari duit tambahan dengan cuci piring.

Besok malamnya. Dunia terasa kembali indah. Ternyata permintaan putusku ditolak. Ternyata ada salah sambung dalam komunikasi kami. Kabar ini melengkapi tawaran kerja dari Christine dan Graeme Stoner. Mereka menawarkan kerja dua hari full time.

Christine adalah dosen pemasaran agribisnis terutama pajak dan hukum. sementara suaminya Graeme adalah dosen paruh waktu di Western University. Dia jago untuk urusan geologi tanah.

Hanya dua hari. Tapi per jam aku dibayar sekitar 10 dollar. Makan diberi mereka. Tidur pun demikian. Ripa berpesan singkat: “Baik-baik ya dan selamat berlibur!” Lho berlibur? Ternyata keluarga Stoner tinggal di tepi danau Hitcock, setengah jam dari Northam.

Rabu pagi, 4 September 2002, aku bengong di kampus sendirian. Harry Lauk, petugas survei dan konservasi Agwest Northam meninggalkan aku untuk mengikuti konferensi CSIRO yang digelar di Perth. Graeme agak telat mengantar aku ke kantor.

Yah daripada bengong, lumayan sekalian angkut-angkut barang ke Demstrey Hall. Ripa tak inkut angkut-angkut. Dia jadi mandor. Angkat ini angkat itu. Hati-hati. Dia memerintah ini-itu.

Akhir pekan aku turun gunung. Anak-anak Indonesia Catolic Youth Organization (ICYO) ngajak ngumpul di kapel St. Benedict. Ripa ketawa waktu aku cerita, kalo aku satu-satunya yang item dan bermata lebar. Maklum kebanyakan anggota ICYo berasal dari etnis Tionghoa. Etnis yang ada dalam DNA perempuan tulang rusukku.

12-14 September aku kembali tak bertemu dan ngobrol dengan Ripa. Harry Lauk kali ini mengajak aku ikut kursus pelatihan lapangan Alcoa.

Pelatihannya disebut Professional Development Programme of Field Studies, Land Care Education. Lokasinya di Tammin, sebuah kota kecil di Australia Barat.

Aku paling muda, kurus dan paling hitam di antara para peserta pelatihan. Mereka rata-rata guru SD atau SMP.

Dari pesertanya ada Glenda Pallock dari Nedlands 6009, Sophie Saratsis dari Ocean Reef 6027, Cherly O’Meara dari Northam, Yolande Baldwin dari Quinns Rocks 6030, Margaret Ron Tompkin dari Como, Patrick Durrack dari Shenton dan Michael Morar dari Shelley 6148.

Aku mesti sabar menunggu mereka tiap kali menempuh track. Mulai dari Hunt’s Well, Charles Gardner Reserve—tempat tinggal semut raksasa bulldog–hingga ke bukit granit Yorkakine Rock. Seringkali mereka bawel ber-do dan don’t.

Di tempat ini untuk pertama kalinya aku bertemu kangguru merah di alam liar, sayang hanya dalam bentuk bangkai. Ketika ku sodok dengan sebatang kayu, si kangguru bergerak. Ternyata seekor kadal lidah biru tengah menikmati makan siangnya.

Pulang dari pelatihan Alcoa, Northam hujan deras. Angin menderu ternyata memang ada badai. Kata Ade dan Mala, banyak pohon bertumbangan di Perth.

18  Sept 2002. Paul Carmondy mengatakan aku harus segera mengurus tax number, ini diperlukan agar aku bisa menerima gaji secara resmi. Lionel dan Jane paginya berdiskusi, Ripa seperti biasanya ikut-ikutan berkomentar sepanjang perjalanan.

Akhir pekan aku ke Perth, Persekutuan Doa pemuda  Perth Indonesia Chuch (PIC) sudah menunggu.  Sehari kemudian kami berkelana ke Riverview Church, salah satu jemaatnya tokoh penting bermarga Pardede yang dekat dengan Tommy Suharto.

Dia gemar main bulu tangkis di Wesley College. Dia janji akan memberi aku kaos timnas U-16 dan Harimau Tapanuli yang dia asuh. Jelas ini hal gampang buat dia, kan dia yang menyokong dana kedua tim itu.

12 Oct 2002. Aku dan tiga rekan Filipina Luis Antonio Hualda, Marilou ‘Maluh’ O.  dan Lourine turun gunung. Kami mau ikut night cruise naik kapal River View menyusuri River Swan.

Abis dari Riverview, sekitar pukul 23.00 kami pulang ke tempat tinggal Ada-Mala. Sweet Vodka bikin kami tak percaya ketika melihat breaking news di Australia Network.  Kami baru sadar ketika ternyata Bali diguncang bom. Ratusan manusia menjadi perkedel panggang. Darah terlihat berlelehan di jalanan Kuta.

Mala langsung shock. Kakak perempuannya kerja di dekat lokasi ledakan. Cepat dia mencari telepon terdekat. Aku dan Ade berpandang-pandangan. Baru saja 9 Sept 2000, AS diguncang aksi kamikaze teroris dan membuat keberangkatan kami ke Australia tertunda. Lalu apalagi.

Sekitar 23.30 Mala pulang. Mukanya sudah cerah. “Ga ada apa-apa. Hard Rock aman!” katanya. Tapi kami masih khawatir, wah bisa-bisa program kami dipersingkat.

Pulang ke Muresk, Ripa langsung memburuku. Dia menanyakan apa ada kawan atau keluarga yang jadi korban di Bali. Senin harinya, bos Agwest Northam memanggilku ke ruangannya. Ternyata itu undangan simpatik. Seluruh kantor pun menyatakan duka cita mereka untuk Bali. Mereka menjamin kota Northam tak menyimpan kebencian bagi orang Indonesia meski koran Australia makin miring memberitkan Indonesia.

Praktis abis itu aku lebih banyak menghabiskan waktu sendirian di lab mengerjakan allelopatic test sebelum berangkat ke Mingenew bersama Paul.

15 Oct 2002. Aku sudah terlentang di sebuah hotel di tepi pantai Dongara. Di daerah ini populasi manusianya sedikit banget. Pantes aja Ripa mengatakan, aku bakal lebih banyak liat lalat dan domba.

Balik ke Muresk. Hidup hanya berputar di lab, kamar, kelas dan lab komputer. Suck! Untung anak-anak Aussie pada lucu-lucu dan helpful. Mereka Scott Andrew Manning, Tim Prosser, Richard Surridge, dan William Watson yang disebut Ripa sebagai animal. Maklum suka bikin keributan.

Tambah usia dan Natal mendekat, aku makin sibuk aja sementara Peter Batt  sudah menunggu laporan selesai. Aku punya persoalan dengan SPSS. Untung ada Tammim Short. Ternyata ni bule  malah lupa command code untuk Anova SPSS 10. Bah ternyata!

4 Desember. Ade dan Mala merapat ke Muresk. Pieter Ripa, John Janes (Direktur Muresk), Paul Carmody, Megan, Sharin dan Lionel Martin kumpul untuk farewel party program kami.

Paul menawari aku untuk memperpanjang program hingga summer berakhir tapi John Janes mengatakan gara-gara Bom Bali, pihak imigrasi Australia jadi makin ketat.

Besoknya aku ke North Bridge, Perth diantar Lionel Martin. Ternyata aku kena potong pajak sekitar 1250 dollar. Ternyata aku terlalu rajin sehingga over time.

6 Des 2002, Morin bikin harihari ku lebih cerah. Kami menghabiskan waktu Canning College untuk ngobrol. Setelah itu aku makan siang di Christina. Ini restoran Italia di Albany Highway. Mr. Vijeyan menuggu kami untuk pembuatan Certificate of Merit dan recomendation letter.

Masih beberapa jam lagi. Aku bakal pulang ke Indonesia. Edwin dan kakaknya, Richie datang. Kami berlima diundang makan di rumah Mr. Robert. Untuk pertama kalinya aku makan daging kangguru.

7 Desember aku meninggalkan Aussie. Ripa dan Morine mengantar aku di bandara. Pak Kacung yang dosen Universitas Jember tak mau mengantar. Kata Tante Max, Pak Kacung hobinya nangis jadi jelas malu-maluin kalo ada adegan sinetron Indonesia di bandara Perth.

Panggilan terakhir sudah terdengar. Ripa dengan suara serak melepas kami. Bye bye my son! katanya melambaikan tangan kanannyanya. Tangan kirinya tak lepas dari sapu tangan merahnya. Bye Bye Dad!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

July 2008
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: