it’s about all word’s

Susahnya masuk negeri super hero

Posted on: July 24, 2008

“Elo sih suka ngeritik Amrik! Kuping ma matanya Paman Sam kan banyak!” kata seorang kawan ketika tahu aplikasi visa ke AS saya ditolak Rabu, 23 Juli pukul 08:25:37. Dia makin ngakak waktu tahu, pemberitahuannya dilakukan dengan gaya majikan.

“Permohonan visa Anda belum bisa dipenuhi. Anda bisa mengambil surat keterangannya ke Kedutaan!” ujar suara perempuan di ujung telepon bernomor 021-3449462. Tegas, lugas, dingin. Tanpa menjelaskan kenapa ada penolakan.

Usai menerima jawaban itu entah saya justru lega. Plong. Tak ada lagi beban harus mempersiapkan diri berangkat ke Los Angeles. Penugasan menikmati penerbangan kelas bisnis Singapore Airlines menggunakan pesawat Airbus 345 yang dijadwalkan terbang perdana 13-15 Agustus.

Sebuah penugasan yang jelas jauh dari sebuah kata menantang. Jujur kepada PR Inke Maris ketika menelpon langsung saya menyatakan kalau boleh memilih tidak usah diundang.

Terlebih ketika ada pertanyaan “Kapan tulisan akan dipublikasikan?” Saking sebelnya kujawab. “Eh mbak kalau lo nanya beginian. Gue bakal tutup telpon ini!”

Waktu berlalu banyak permintaan yang harus saya penuhi demi memasuki Negeri Paman Sam. Negeri yang selalu menyebut diri Tanah Demokrasi, Pejuang HAM dan entah kampanye super hero apalagi.

Meski pada kenyataannya catatan negeri berlogo Garuda Emas ini lebih sering menjadi sarang para pencoleng harta dan drakula bagi negara-negara dunia ketiga. Lewat kekerasan atau rekayasa politik plus jerat bantuan ekonomi.

Killing Hope-nya William Blum, Confessions of an Economic Hit Man-John Perkins hingga buku-buku Noam Chomsky bisa jadi referensi sisi gelap AS.

Sejak 8 Juli 2007 saya mulai mempersiapkan Mulai dari paspor lama, rekening koran, foto baru dan tentu saja mengisi formulir DS-157. Satu yang agak susah saya jawab adalah jenjang pendidikan sejak SMP lengkap dengan alamat dan nomor teleponnya.

Pertanyaan yang sulit dijawab lengkap mengingat nomor telepon Indonesia berubah konstan sejak dua dekade terakhir. “Lho iya, harus dijawab lengkap itu!” kata Haji Lay, senior saya.

Setelah diisi saya harus menanti jadwal wawancara di Kedutaan Besar AS, Medan Merdeka yang ditentukan tanggal 22 Juli 2008 pukul 9.00. Tri Dirgantara yang baru pulang meliput acara kampanye Barrack Obama berpesan “Siap-siap duit Rp1,2 juta lho!”

Saya mulai antri sejak 7.30. Kereta ekspress Jakarta-Bogor terlihat melintas. Ada sekitar 10 orang dalam antrian tersebut. Petugas humas Inke Maris tak kunjung datang. Katanya masih di Gondangdia.

Beberapa kali saya datang ke gedung ini atas undangan peliputan. Setiap kali datang ke tempat ini saya justru merasa sedang berkunjung ke rumah pengusaha Tionghoa. Pagar tinggi menjulang. Khas orang-orang paranoid.

Antrian ke pintu gerbang semakin dekat. Empat petugas berbaju coklat-coklat dari bangsa dhewek. Nampak tegas mengatur barisan. Meski raut muka mereka keras, cara mereka mengatur antrian sangat simpatik.

Pukul 07.45 saya sudah di depan gerbang. Ibu humas belum juga datang. Wah! Tas harus digeledah. Tas kamera, buku Yerusalem karya mas Trias, biskuit coklat Selamat tak lepas dari gerayangan mereka. Biasa ini prosedur tetap.

Pemeriksaan awal dan tanda tangan sudah berhasil saya lewati. Ibu humas itu belum datang juga. Untung petugas mempersilahkan agar saya menanti di mulut gerbang. “Masih di jalan Proklamasi mas! Saya pikir kita….!” Saya berdiri menyadar sembari mengulum permen Fisherman’ Friend. Api Monas tampak cemerlang. Lalu lintas belum padat.

Pukul 8.10 Ibu humas datang. Saya tak banyak komentar karena masih harus menjalani periksaan ulang. Setelah itu masuk ke dalam wilayah yuridiksi Amerika. Antrian dengan konfigurasi dua baris sudah mengular.

Saya harus mengantri di loket pembayaran untuk kemudian mengambil formulir DS-157. Ini masih harus diisi lagi. Sementara formulir DS-156 sudah beres. Saya sempat didamprat mas petugas dengan gayanya yang lebih cocok dipanggil mbak, gara-gara salah masuk antrian.

Jam digital Casio saya sudah menunjuk waktu 8.45. Bukti pembayaran diserahkan pada saya, paspor distaples. Setelah itu saya harus mengantri di loket pengambilan nomor urut. Kali ini agak kacau balau. Saling sodok urutan terjadi karena banyak yang masih sibuk mengisi formulir.

Saya mendekat ke loket 1. Pada loket 2, seorang ibu sedang didamprat petugas dari bangsa dhewek. Gaya pelayanannya tak berbeda dengan pelayanan pembuatan KTP di kantor kelurahan. Tapi saya lihat yang di dalam ruang kaca itu tak bersegaram PNS.

Petugas loket 1 sangat simpatik. Kerjanya sigap. Intonasinya enak didengar. Tampangnya pun sedap dilihat. Saya dapat nomor urut 34. Paspor dan DS-157 ditinggal. Kami harus kembali menanti panggilan.

Buat saya antri mengantri bukan masalah. Setidaknya di sini kondisinya jauh lebih baik daripada mengantri di Woodland check point, perbatasan Singapura-Malaysia yang sekali antri bisa bikin orang berdiri 2-3 jam.

Saat menunggu giliran masuk cerita-cerita seram mulai terdengar dari bisik-bisik para pemohon visa. Intinya penolakan selalu tanpa alasan. Artinya uang Rp1,2 juta hilang. Jika mau memohon visa, sediakan lagi Rp1,2 juta.

Seorang petugas keamanan perempuan kemudian keluar. “Nomor 32? Masih ada? Oke nomor 33 dan 34!” katanya. Wah giliran rombongan saya datang. Kami masuk ke ruang scaning.

Saya sudah hapal. Di tempat ini semua alat komunikasi, flash disk, I-pod, kabel mesti ditinggal. Tas masuk mesin detektor. Saya mendapat pin nomor tamu dan no penitipan barang.

Kami kemudian mengantri lagi di ruang tunggu yang kapasitasnya cukup untuk 100 orang. Di luar sana pengumuman counter permohonan visa ditutup tepat jam 10.00. Saya sangat haus. Sayang air di galon dispenser di ruang tunggu sudah kosong.

Hanya 10 menit menunggu. Si mas-mas itu memanggil kami untuk masuk ke ruang wawancara yang dijubeli banyak orang. Di ruangan ini air minum tersedia.

Rombongan kami satu persatu harus dicatat sidik jari. Pertama empat jari kecuali jempol, kiri dan kanan. Lalu terakhir kedua jempol tangan. Setelah itu kami kembali mengantri.

Saya memilih untuk kembali ke ruang tunggu di depan yang lebih lega. Untung juga saya bawa buku. Untung juga punya kebiasaan seperti itu. Setidaknya ada ruang untuk menghabiskan waktu.

Di samping tempat duduk saya seorang bapak beretnis Tionghoa asyik ngobrol soal permohonan visanya yang ditolak. “Aku ndak ngerti. Kan aku punya sodara ndek sana. Dan aku kan mo besnis!” katanya. Rekan-rekannya hanya manggut-manggut.

Saya cuma teringat kata-kata kawan saya Jessica yang menantang menghitung pendapatan Kedubes AS dari permohonan visa. Jika dalam sehari mereka dapat 100 pemohon visa maka dalam sehari omzet yang didapat mencapai Rp120 juta.

Jika kita andaikan dalam sehari ada separuh permohonan yang ditolak artinya Rp60 juta sudah dikantong. Kalikan sebulan jika ada 30 hari dan dipotong hari libur Sabtu-Minggu maka ada Rp1,44 miliar yang mereka kantungi.

Jumlah duit yang lebih dari cukup untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan keramahtamahan sistem yang menjadi rupa sebuah bangsa yang selalu digembargemborkan manusiawi.

Sekitar setengah jam kemudian saya kembali masuk ke dalam. Wah masih menunggu lagi. Sekitar 10 menit saya sempat berdiri bersandar di pilar pintu masuk dan ke luar. Ruangan masih padat.

Di sebelah kanan saya, Metro menyiarkan Oprah. Tapi buat apa juga dilihat karena tak ada suaranya. Saya kembali tenggelam dalam perjalanan Trias ke Magdala lalu ke Sungai Yordan, sesekali saya melirik ke barisan orang atau ke layar kaca.

Kursi di dekat televisi kosong. Saya segera duduk. Kali ini biskuit coklat membantu perut yang mulai keroncongan. Waktu mulai bergerak ke arah 11.30. Hampir setengah jam saya menunggu. Akhirnya rombongan kami dipanggil ke loket 10 yang berada di sayap sebelah.

Giliran pertama ditempat pasangan bapak ibu. Mereka bakal mengantar cucu mereka yang lahir di Indonesia kembali ke AS. Setelah wawancara, mereka ditolak. Selanjutnya ada dua orang di depan saya yang juga ditolak permohonan visanya. Saya mendapat giliran paling akhir.

Pertanyaan cukup banyak. Mulai dari akan apa di AS, kerja di mana, udah nikah, punya anak, kenapa diundang, bla bla, bla. Saya harus menyerahkan surat keterangan dari Singapore Airlines dan kartu pers. Sementara surat keterangan dari kantor justru tak ditanya.

Pada sesi akhir wawancara surat keterangan diambil dan kartu pers saya dikembalikan. Saya dapat keterangan permohonan visa saya tidak ditolak tapi masih harus menjalani proses administrasi dan akan dihubungi Kedutaan.

Saya kemudian mengambil barang-barang elektronik saya. Seperti yang sudah-sudah, saya langsung membuka tas kamera untuk melihat kelengkapan isinya sebelum diperintah petugas itu.

Sang petugas entah sengaja atau tidak membanting pulpen ke bingkai kaca sekat ruangan yang hanya 3 sentimeter di depan hidung saya. Tapi emosi saya sudah tumpul, saya hanya ingin segera keluar dari tempat ini.

Ketika tubuh ini sepenuhnya keluar gerbang Kedubesa hanya ada kelegaan di dada ini. Sempat terngiang kata-kata bapak di ruang tunggu.

“Ya gini tho susahnya dari negara kere. Kita selalu saja dianggap butuh. Padahal coba kalo bangsa mereka kita tolak masuk atau kita beginikan! Pasti soal HAM yang disebut-sebut!”

Saya tak peduli. Setidaknya jika permohonan visa saya ditolak. Saya termasuk orang yang membiayai operasional Kedutaan dari negara adidaya yang seharusnya bisa mencari duit dengan cara lebih pintar daripada kantor Samsat atau kelurahan.

Soal keramahtamahan? wah saya kok jadi ingat artikel Kompas 12 Juni 2008 yang judulnya ‘Diinterogasi Polisi Amerika Serikat’ ditulis Korano Nicolash LMS, saya biasa menyapanya big Nic kalau meliput golf.

Saya paling terkesan dengan dua paragraf terakhirnya:

Ya, itulah semua sisa dari tragedi Nine Eleven yang menewaskan lebih dari 2.998 jiwa. Belum lagi sekitar 10.000 jiwa yang tidak bisa terdeteksi lagi identitasnya. Karena korban yang berjatuhan dalam tragedi tersebut berdatangan dari 90 negara.


Mungkin benar kata Mike Huff. Lebih baik sedikit repot
ketimbang….

1 Response to "Susahnya masuk negeri super hero"

kalo kata gue sih Gooth, faktor tampang ngaruh banget…..
hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

July 2008
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: