it’s about all word’s

Dadang R. Gumilang: SOG brother

Posted on: July 31, 2008

Klub motor tak identik dengan kekerasan

Dibanding jenis sepeda motor lainnya, skuter merupakan salah satu sepeda motor yang usianya paling tua. Kendati demikian, penggemar kendaraan roda dua yang satu ini ternyata sangat banyak.

Tak hanya orang tua generasi ‘TVRI’, anak muda generasi ‘MTV’ juga banyak menjadi penggemar ‘kuda besi’ yang satu ini.

Di berbagai daerah akhir-akhir ini bermunculan klub atau perkumpulan para pemilik dan penggemar skuter. Salah satunya yang terbesar dan memiliki anggota terbanyak adalah Skuter Owner Groups (SOG) Indonesia.

Awal Juli lalu Monde berkesempatan menghadiri peringatan ulang tahun SOG Indonesia ke-10 yang digelar di GOR Saparua Bandung. Ribuan pemilik dan penggemar skuter se-Indonesia, bahkan dari mancanegara berkumpul di tempat tersebut.

Di antara skuter mania tersebut, terlihat seorang pria berpenampilan layaknya rider lainnya, sibuk mengatur kedatangan para tamu. Dialah Dadang R. Gumilang yang akrab dipanggil Kang Gilang, Ketua harian SOG Indonesia yang juga menjadi Ketua Panitia HUT SOG Indonesia ke-10.

Lalu bagaimana kisah bapak dua anak ini hingga bisa menjadi seorang pencinta skuter?

“Perkenalan saya dengan skuter awalnya dari orang tua,” ujar Kang Gilang bercerita.

Dia mengatakan, saat masih bocah, ayahnya memiliki sebuah skuter Piaggio Super buatan tahun 1966. “Dari sanalah kecintaan terhadap skuter bermula. Karena sering mengendarai skuter tersebut, akhirnya saya jatuh cinta hingga sekarang,” ujar pria asli Bandung tersebut.

Gilang mengatakan, kebanyakan penggemar skuter juga memiliki kisah seperti dirinya. “Apalagi anak-anak muda sekarang. Biasanya mereka menyukai skuter karena dikenalkan oleh orang tuanya. Soalnya sekarang kan nggak ada lagi yang memproduksi skuter,” katanya.

Mengendarai skuter bagi Gilang adalah sebuah kenikmatan yang tidak dapat digantikan dengan kenikmatan lainnya. “Apalagi kalau kita bisa touring rame-rame dengan teman-teman. Rasanya asyik banget,” ujarnya.

Saat ini Gilang mengaku memiliki skuter Congo buatan tahun 1963 yang dibelinya pada tahun 1985 silam.

Kendati memiliki kecintaan mendalam kepada skuter kesayangannya, Gilang mengaku tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai kepala keluarga.

“Skuter itu kan hobi, tapi keluarga tetap yang utama,” ujar pria yang tinggal di wilayah Lembang itu.

Sehari-harinya Gilang mengaku memiliki usaha garmen dan penyewaan lapangan futsal untuk menafkahi keluarganya. “Kalaupun saya ikut touring dengan teman-teman, saya pasti ngomong dulu dengan keluarga,” katanya.

Lalu apa saja yang sudah didapatkan sejak bergabung menjadi anggota SOG? Menurut Gilang, SOG bukanlah sebuah kelompok eksklusif yang menutup diri pada orang-orang di luarnya.

“Mungkin orang melihat bahwa klub atau kelompok motor itu adalah kelompok yang tertutup. Tapi SOG tidaklah demikian. SOG selalu membuka diri dan ingin bermitra dengan yang lain,” ujarnya.

Pandangan bahwa klub motor atau geng motor yang akrab dengan budaya kekerasan juga ditepis oleh Gilang.

“Kami bahkan selalu mengampanyekan kepada para anggota untuk selalu berkendara dengan aman atau safety riding, serta mematuhi peraturan lalu lintas,’ katanya.

Gilang mengaku kelompoknya sering bermitra dengan kepolisian mengadakan kerja bakti di lingkungan masyarakat.

Organisasi SOG Indonesia sendiri memiliki sejarah sejak 18 Maret 1995 dengan berdirinya SOG Bandung yang didirikan oleh sekitar 10 orang founding father di Polwiltabes Bandung.

“Lalu pada 10 Mei 1998 di Hotel Propen Bandung resmi berdiri SOG Indonesia,” tuturnya.

Saat ini SOG Indonesia memiliki anggota mencapai 8.000 anggota yang tersebar di 31 cabang SOG se-Indonesia dan tiga chapter luar negeri, yakni Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

“Di Bandung sendiri kami memiliki anggota sekitar 3.000 pemilik skuter,” katanya.

Anggota SOG, menurut Gilang, tidak hanya berkumpul saat melakukan touring. “Setiap harinya kami juga sering ngumpul. Kami memiliki bengkel khusus tempat bertemunya anggota-anggota SOG dan di sana sering melakukan diskusi masalah skuter,” ujarnya.

Menjadi seorang anggota SOG Indonesia, menurut Gilang tidaklah sulit. “Syaratnya gampang. Yang penting memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM), memiliki skuter, serta mau mematuhi aturan organisasi,” katanya.

Biasanya setiap calon anggota SOG diajak dulu untuk touring bersama anggota lainnya ke berbagai daerah.

“Dari sana para calon anggota bisa mengenal lebih dalam mengenai SOG. Jika mereka tertarik silahkan bergabung, jika tidak maka kami tidak akan memaksa,” ujarnya.

Saat ini anggota termuda SOG berusia sekitar 17 tahun dan anggota tertua sekitar 76 tahun. “Sama sekali tidak ada pembatasan usia untuk bergabung dalam organisasi ini,” katanya lagi.

Biodata
Nama : Dadang R. Gumilang
TTL: Bandung/ 9 Maret 1968
Istri : Siti
Anak : Alvina Damayanti (14 tahun)
Aldi Surya (10 tahun)

Pendidikan : Sarjana Perhotelen STIP Bandung (1990)

Organisasi : SOG Indonesia (Ketua Harian Periode 2008 – 2011)
Komunitas Frekuensi Mang Layang Bandung (anggota)
Jenis Skuter : Congo (buatan 1963)
Pekerjaan    : Direktur Pemasaran PT Lambada Bandung

*Dodi Esvandi, Agus Purwanto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

July 2008
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: