it’s about all word’s

J-Spot hotter than G-Spot

Posted on: August 7, 2008

Alternatif promosi di ujung jari

Penulis kenamaan New York Times Thomas L. Friedman peraih tiga Pulitzer menggambarkan dengan tepat kemajuan teknologi komunikasi yang membuat dunia semakin menisbikan sebuah ukuran jarak dalam buku The World Is Flat.

Kemajuan teknologi komunikasi membuat proses bisnis, ekonomi bahkan emosi bisa dijembatani secara instan, secepat ketukan ujung jari di atas tuts yang juga terus menyusut ukurannya dalam satu dekade terakhir.

Digitalisasi komunikasi yang pada dua dekade lalu sekadar imajinasi kini menjadi kebutuhan sehari-hari termasuk dalam kegiatan marketing seiring semakin mahalnya produksi cetak konvensional.

Jika lima tahun belakangan transit media atau digital signage dalam bentuk papan LED hingga televisi layar datar teknologi LCD atau plasma ukuran besar makin marak di jalanan, maka setahun terakhir ini telepon genggam yang disasar.

Karena menggunakan teknologi tiga dimensi, pendekatan komunikasi yang dilakukan jauh melampui media tradisional berupa gambar diam ataui selebaran. Namun pada iklan yang menyasar telepon genggam, personalitas semakin mengedepan.

Ketika pesan pendek (SMS) terasa mengganggu, kini pendekatan lewat bantuan teknologi Bluetooth yang menjamin personalisasi dan otoriasai informasi. Jika tak suka, si penerima pesan bisa menolaknya.

Bluetooth merupakan jalan untuk koneksi dan pertukaran informasi antara satu perangkat digital dengan perangkat lainnya, seperti ponsel, komputer jinjing, printer, juga konsol video game.

Seiring sabda Gordon E.Moore terhadap dunia mikroprosesor, Bluetooth makin mudah dan murah. Tahun 2006 harga ponsel dengan fasilitas ini sekitar Rp.1,5 juta, saat ini separuhnya.

Selain itu jarak jangkau Bluetooth pun kini semakin menggoda, jika sebelumnya hanya terbatas 10 meter sejak 2006 lalu teknologi ini bisa menjangkau jarak 100 meter dari pemancar.

Efektifitas biaya

Hasilnya teknologi ini mulai dipakai sebagai pengganti promosi tradisional seperti laflet yang cenderung mudah terbuang percuma setelah informasi terserap habis.

“Biaya produksi 5.000 lembar laflet saat ini sekitar Rp2,5 juta. Jauh dibandingkan dengan penggunaan teknologi Bluetooth yang hanya butuh Rp1,5 juta yang bisa mencapai lebih banyak audience,” papar Amiranto Adi Wibowo, salah satu pendiri pemasaran aplikasi bertajuk J-spot.

J-Spot terbentuk awal 2006 setelah salah satu pendirinya Ginung Pratidina yang jebolan Maryland University, Schwabisch Gmund, Jerman mencium tren penggunaan teknologi Bluetooth sebagai media promosi di Eropa.

Ide ini lantas diaplikasikan oleh dua programer Amiranto Adi Wibowo dan Edwin Nugroho. Keduanya lantas mulai melakukan eksperimen dengan beberapa bahasa program J2ME, BREW dan .NET untuk aplikasi mobile sementara program VB dan Java untuk Bluetooth Blast.

Hasilnya Bluetooth yang hanya bisa mencapai radius 100 meter dikembangkan menjadi 250 meter dengan cara menambah channel distribusi dan perangkat booster. Selain mendongkrak jarak jangkau, kecepatan melakukan scanning ponsel dan mengirim file ditingkatkan sebanyak 10 ponsel per 5 detik.

Aksi pertama J-Spot dilakukan di Asia Pacific Media Forum (APMF) 2006 di Bali untuk peserta dapat melihat jadwal event, melakukan survey pembicara, dan promo APMF yang membuat para tamu Eropa terkaget-kaget.

Praktis setelah gelaran APMF, J-Spot kebanjiran order mulai dari Indosat, Sony Ericsson, Sampoerna A Volution, Marlboro hingga pesta musik akbar AMild Soundrenaline 2008.

Bagi klien dengan teknologi ini mereka dapat mengirim Viral Marketing berupa video, musik, gambar maupun barcode secara bergantian dan pengunjung juga tidak dipaksa menerima.

“Karena Bluetooth marketing adalah permission base marketing, user dapat menolak file dan juga dapat menerimanya. Tidak seperti SMS yang langsung masuk ke ponsel tanpa permisi,” papar Amiranto yang sepuluh tahun berkutat di IBM.

Selain itu terdapat keuntungan lain ketika pesan viral marketing masuk ke ponsel dan beredar secara getok tular karena ada ketertarikan pada konten tersebut misalnya ringtone, wallpaper hinga video klip.

Tentu saja ada kendala pada teknologi ini yakni sinyal tak bisa menembus tembok dan kendala hang pada prosesor PC jika jumlah orang yang mengaktifkan bluetooth di atas 10.000 orang secara bersamaan.

Kondisi hang pada prosesor pernah terjadi ketika J-Spot diakses bersamaan 50.000 penonton konser AMild Soundenaline 2008.

Namun menurut Amiranto permasalahan ini bisa diatasi dengan mudah. Pada kasus terbentur tembok bisa dilakukan pemasangan Bluetooth Booster Repeater setiap 250 meter sementara PC mogok cukup dengan menambah prosesor menjadi dual core.

Yang menguntungkan teknologi ini bisa tetap diandalkan jika digelar di venue dengan sekat-sekat non permanen seperti gipsum karena seperti roh digitalisasi, semuanya makin mudah di ujung jari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

August 2008
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
%d bloggers like this: