it’s about all word’s

Kisah pejuang kemerdekaan Depok

Posted on: August 11, 2008

Gerombolan bambu runcing…

Merebut kemerdekaan Indonesia. Cucuran keringat, darah dan air mata telah tumpah di negeri ini. Tak sakadar harta, nyawa-pun rela dikorbankan. Semangat pantang mundur sebelum kunjungan maksud terlaksana tertanam dalam-dalam di sanubari para pejuang, hingga terselenggaralah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Pasca proklamasi, Indonesia masih bergolak. Selain persoalan kembalinya sekutu, pemerintah republik yang pada masa itu masih seumur jagung, juga dihebohkan dengan ulah laskar-laskar rakyat yang kecewa dengan program Restrukturisasi dan Rasionalisasi [Re-Ra] tentara.

Re-Ra ini merampingkan jumlah tentara, menyatukan komando Laskar-Laskar ke dalam satu komando yaitu TNI, serta penurunan pangkat tentara-tentara.

Bahkan Jendral Soedirman yang legendaris itu juga harus diturunkan pangkatnya menjadi Letnan Jendral—meski setelah wafat pangkatnya dinaikkan secara anumerta menjadi Jendral penuh.

Berbagai sumber ensiklopedia menyebutkan, secara historis militer Indonesia adalah militer profesional yang dididik oleh penjajah Belanda dan Jepang, bukan militer yang muncul dari gerakan kemerdekaan rakyat.

Secara otomatis, para pendahulu militer Indonesia adalah orang-orang yang dilatih untuk menghadapi rakyat dan selalu berpihak kepada kekuasaan.

Menjelang kemerdekaan memang ada laskar-laskar yang tumbuh dari rakyat dan kemudian mengkonsolidasikan diri membangun organisasi militer yang baku, akan tetapi mereka telah berhasil disingkirkan oleh militer yang berasal dari PETA, HEIHO, dan KNIL. Inilah konsekwensi program restrukturisasi dan rasionalisasi TNI.

Dengan rasionalisasi yang dipelopori M. Hatta ini, maka sekitar 400 ribu anggota Laskar Rakyat awal tahun 1948, hanya akan tinggal 57 ribu prajurit teratur dan tetap.
Laskar yang tidak kebagian posisi kecewa, kemudian membentuk gerombolan-gerombolan yang menguasai suatu wilayah lalu kerap menggencarkan perampokan dimana-mana.

Umumnya yang dirampok adalah orang-orang kaya dan sombong di wilayah Depok, sementara dengan rakyat kecil mereka bersahabat.

Depok adalah satu di antara banyak wilayah yang dikuasai gerombolan eks lasykar rakyat yang kecewa. Di Depok, orang-orang menyebutnya Gerombolan Bambu Runcing. Tokoh-tokohnya a.l. Sengkud, Muhidin, Nail dan Ceker.

“Ceker adalah otaknya. Beliau tokoh di balik layar Gerombolan Bambu Runcing. Namun yang paling terkenal adalah Sengkud dari Kp. Cironyok, Sugutamu, Sukmajaya,” kata Sejarawan Kota Depok, C. Supandi, kepada Monde.

Gerombolan Bambu Runcing dari Depok, merupakan sempalan dari lasykar rakyat pimpinan H. Madarif—pahlawan dari Klender.

Perjuangan H. Madarif, tidak beda jauh dengan perjuangan H. Tong Gendut dari Condet. Peninggalannya rumah peristirahatan Belanda yang sekarang sudah rusak di depan asrama Rindam Tanjung Timur sampai lampu merah arah Condet.

“Mereka sudah mulai berjuang sebelum tahun 1945. Mereka juga terlibat dalam pertempuran Karawang Bekasi. Gerilyawan-gerilyawan tangguh itu,” katanya.

Masih ingat film perjuangan berjudul Naga Bonar yang dibintangi oleh Dedi Mizwar? Itulah potret perjuangan lasykar rakyat. Tentara yang tumbuh langsung dari rakyat.

Bukan tentara hasil didikan panjajah yang terorganisir kedalam KNIL maupun Peta. Sehingga dalam hal kepangkatan-pun, mereka tak begitu paham.(bersambung/Wenri Wanhar)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

August 2008
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
%d bloggers like this: