it’s about all word’s

Dr Muwardi (1907-1948) VOl VII

Posted on: August 13, 2008

GRR vs FDR

Dengan adanya Persetujuan Renville itu, Kabinet Amir Syarifuddin mendapat tentangan-tentangan dari partai-partai kuat (PNI dan Masyumi) dan karenanya bubarlah kabinet itu tanggal 21 Januari 1948.

Dengan jatuhnya Kabinet Amir Syarifuddin, maka pada 31 Januari 1948 dibentuk kabinet yang langsung dipegang oleh Wakil Presiden M. Hatta.

Golongan Amir Syarifuddin (sayap kiri) tidak ikut dalam kabinet Hatta maka mengadakan oposisi yang hebat minta supaya kabinet itu dibubarkan dan dibentuk kabinet baru. Dalam kabinet baru itu dituntut agar Amir Syarifuddin paling tidak harus menjadi Menteri Pertahanan. Sementara itu, Sayap Kiri bergabung dengan Front Demokrasi Rakyat (FDR) di bawah pimpinan PKI.

Salah satu program kabinet Hatta adalah “Rasionalisasi angkatan Perang”. (ide Urip Sumoharjo) yang melihat kondisi ketidak teraturan seragam dan fungsi milisi-milisi bersenjata non BKR dengan beraneka ragam seragam, hal ini juga akan berimbas terhadap profesionalitas dan identifikasi prajurit Indonesia.

Rasionalisasi itu gunakan FDR/PKI sebagai senjata untuk memecah belah Angkatan Perang, yang sebagian dapat dipengaruhinya. Akibat dari persetujuan Renville maka pada tanggal 1 Februari 1948 dilaksanakan penarikan pasukan Divisi Siliwangi (Jawa Barat) dari daerah kantong dan ada beberapa batalyon yang kemudian berlokasi di daerah Solo.

Timbul isu yang mengacau keadaan. Situasi waktu itu sangat kurang menguntungkan bagi pasukan Divisi Siliwangi sebab di Solo PKI sedang berusaha mempengaruhi tentara agar berpihak kepada mereka (dibina). Akibatnya “Kandang Macan PKI” itu serasa di masuki oleh pemburu ketika Divisi Siliwangi memasuki kota.

Maka dihembuskan bahwa pasukan Siliwangi yang ada di Solo itu sebenarnya adalah “Stoot Leger Wilhelmina” (SLW) yang akan melucuti tentara RI agar bertekuk lutut pada Belanda. Keadaan yang sudah kacau itu bertambah parah lagi dengan kedatangan Muso (PKI) di Surakarta bersama-sama FDR/PKI mengadakan rapat-rapat umum menghantam pemerintah.

Golongan lain yang tidak menerima persetujuan Renville dan tidak setuju dengan FDR, pada tanggal 6 Juni 1948 mendirikan organisasi baru, yaitu GRR (Gerakan Revolusi Rakyat) di bawah pimpinan Tan Malaka (Pendiri Partai Murba) dan Rustam Effendi. Muwardi yang sependirian dengan mereka dalam hal anti Linggarjati dan Renville tersebut ikut dalam pimpinan GRR.

Pertentangan politik antara FDR/PKI dengan GRR semakin hebat. Dalam suasana pertentangan itu Muwardi yang disamping sebagai PBRI juga memimpin GRR selalu berhadapan dengan FDR/PKI.

Tidak mengherankan bila FDR/PKI memusuhinya dan setiap saat menjadi incaran pokok oleh FDR/PKI. Pertentangan itu membawa resiko besar mengingat karena golongan PKI bersemboyan : “tujuan menghalalkan segala cara”. Pada 2 Juli 1948 terjadi tragedi dengan terbunuhnya Panglima Divisi IV Kolonel Soetarto ketika perwira tersebut turun dari mobilnya yang dilakukan oleh Pesindo didukung oleh Kolonel Jadau komandan Tentara Laut Republik Indonesia.

Dengan kejadian ini PKI berharap masyarakat menjadi antipati terhadap Divisi Siliwangi. Puncaknya adalah pada bulan September 1948 PKI berdiri di belakang pemogokan di Delanggu dan kekacauan setelah Pekan Olah raga Nasional I di Solo tanggal 12 September 1948.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

August 2008
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
%d bloggers like this: