it’s about all word’s

Superwoman Birute Galdikas

Posted on: September 5, 2008

Ibunda Orang Utan di Tanjung Putin

“DNA kita hanya berbeda tiga persen dari orang utan. Mungkin itu sebabnya ada di antara kita yang bulunya banyak,” celetukan spontan itu membuat akhir pekan di rumah John A. Heffern, Deputy Chief of Mission AS menjadi segar.

Akhir Agustus lalu di rumah orang nomor dua Kedubes AS itu, Dr Birute Galdikas, seorang perempuan bule yang mengabdikan dirinya demi kehidupan orang utan Tanjung Puting, Kalimantan Tengah sejak tahun 1971 itu menjadi tamu kehormatan.

Sejumlah tamu dari LSM lingkungan dalam negeri, pejabat Dephut, Deputi Direktur Misi Usaid Indonesia, Robert F. Cunnane termasuk Dubes AS, Cameron Hume—yang datang belakangan dan diam-diam—memadati rumah asri di bilangan Taman Suropati no. 4, Menteng itu.

John A. Heffern dan istrinya, Libby lincah dan ramah menyambut para tamu yang antusias. Maklum bagi kaum filantropis dan pecinta alam, Birute adalah legenda. Sosoknya mendunia sejak tampil di sampul majalah tenar National Geographic.

Saat diterbitkan tahun 1973, foto karya Rod Brindamour memperlihatkan wajah Birute yang menuduk begitu ayu dan segar. Tangan kanannya memondong bayi orang utan sementara tangan kirinya menggandeng orang utan muda.

Selain tampil di National Geographic, perempuan kelahiran Jerman namun besar di Kanada itu juga tampil di penerbitan tenar lainnya seperti majalah Life, koran New York Times, Los Angeles Times dan Washington Post.

Birute menjadi satu diantara tiga perempuan peneliti kera—terminologi mamalia setingkat di atas monyet—asuhan paleontologis kondang University of California, Los Angeles, Louis Seymour Bazett Leakey.

Selain Birute yang menekuni orang utan, didikan Louis adalah Jane Goodall, peneliti simpanse di Gombe Stream National Park, Tanzania dan superhero kaum gorila di
Gunung Virunga, Rwanda, Dian Fossey yang akhirnya tewas sebagai martir di negara separuh barbar itu.

Jelas dengan pengabdian yang begitu panjang Birute adalah dian cemerlang di malam jamuan dengan pedar lampu yang remang-remang itu. Semua mata tamu, tua muda, lelaki-perempuan sejak sore malu-malu jelalatan mencari sosok yang ada di foto majalah National Geographic itu.

Sayang semua lupa, foto itu sudah 35 tahun yang lalu. Para tamu termasuk Bisnis sembari menyesap wine yang malam itu terasa lezat terhidang terus bertanya-tanya “Yang mana sebetulnya Dr Birute Galdikas?”

“Selalu saja setiap kali orang bertanya siapa itu perempuan cantik dan langsing di foto itu. Ya…itulah saya tapi itu 35 tahun yang lalu,” cetus Birute enteng menertawakan dirinya yang dimakan usia.

Pengabdian total

Pemilik nama lengkap Biruté Marija Filomena Galdikas itu mendarat di bumi Borneo tahun 1971 bersama fotografer Rod Brindamour. Saat itu Birute yang baru genap 25 tahun sedang melakukan penelitian untuk desertasinya.

Sebuah perjalanan yang membuatnya jatuh cinta pada orang utan, menempuh terjalnya kehidupan bahkan membuat dirinya merasa perlu melakukan naturalisasi kewarganegaraan menjadi WNI.

Bagi Birute orang utan ternyata menempati tangga penting dalam teori evolusi. Tak hanya kemiripan DNA dengan manusia yang begitu dekat, orang utan ternyata sudah mengembangkan kebudayaan komunikasi lebih maju dibandingkan simpanse.

Tak heran jika Birute mati-matian membela orang utan. Ancaman mafia pedagang orang utan yang memiliki jalinan intim dengan aparat, warga asli dan penadah di luar negeri dilawannya.

Tahun 1990 nama Birute menjadi tenar saat melakukan advokasi pengembalian enam orang utan yang jadi dagangan di Thailand. Kasus yang dikenal sebagai ‘Bangkok Six’

Akibat aksi berani itu, organisasi Orangutan Foundation yang didirikan tahun 1986 di Los Angeles, California itu mencuri mata dunia dan membuat mafia perdagangan orang utan terpaksa semakin berhati-hati beraksi.

Namun ibu dari tiga anak yang meraih berbagai penghargaan internasional itu kini tengah gundah, pasalnya kondisi hutan di Kalimantan Tengah semakin terancam dan secara langsung mengganggu hidup saudara manusia itu.

Menurut Birute kebakaran hutan, perburuan dan perambahan hutan demi lahan sawit membuat hutan yang menjadi rumah orang utan. Padahal sejatinya orang utan adalah petugas penyemaian biji-bijian hutan.

Selama masa hidupnya yang panjang, ratusan hektar bisa ditempuh orang utan yang cenderung soliter. Sembari makan disebarkannya biji-bijian dari buah yang dikonsumsinya.

Selain itu terganggunya fungsi hutan tak hanya membuat orang utan kesulitan mendapatkan buah-buahan sekaligus menyebarkan biji tanaman itu, kerusakan hutan juga membuat orang utan kesulitan menemukan pasangan kencan.

Kini Birute resah dan gusar pasalnya ijin pembukaan hutan bagi perkebunan semakin mudah dikeluarkan. Jika hutan semakin banyak dibelah-belah. Artinya keturunan baru orang utan akan semakin langka. Nah apa Anda siap membantu?

* Liputan bareng Yeni H. Simandjuntak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

September 2008
M T W T F S S
« Aug   Oct »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
%d bloggers like this: