it’s about all word’s

Tofani U Mild: on interview

Posted on: September 17, 2008

Ajang U-Mild U-Bikers (UMUB) sudah menjadi event yang mempersatukan para bikers di Indonesia. Saya mendapat kesempatan berbincang dengan Brand Manager U Mild, Yasin Tofani Sadikin. Berikut petikannya:

T: Diantara konsep get more, learn more, more fun, manakah yang Anda adaptasi  dalam kegiatan balap motor ini?

J: Konsepnya ada pada get more. Sebenarnya aspirasinya dari para bikers. Mereka ingin diadakannya di luar negeri tidak hanya di Indonesia saja dan kita cari di luar negeri, yang kelihatan waktu itu tim AHRS. Maka kita sponsorin di sana tapi kita juga punya keterbatasan, karena kemampuan untuk men-support satu tim itu tidak sedikit, bisa puluhan miliar.

T: Berapa angka pastinya?

J: Wah, tidak bisa disebutkan, tapi yang pasti puluhan miliar. Biasanya yang lebih mampu adalah perusahaan rokok besar seperti Marlboro atau oil company.

T: Kendala lain?

J: Sekarang perusahaan rokok juga restricted, dalam artian, tiap negara memiliki regulasi atau aturan-aturan yang berbeda. Kami tidak bisa seberani itu, apalagi produk kami juga tidak dijual disana. Jelas hal ini menjadi keterbatasan bagi kami.

T: Bagaimana perkembangannya saat ini?

J: Pertama kali kami ikut FIM, sport-sport hanya ada dua, sekarang ada stand motor. Kemudian kalau underbone hanya kita dengan AHRS, cuma ada 3. Sekarang sudah banyak. Hal inilah yang akan kita galakkan karena itu karena dengan begitu industri di Indonesia juga bisa maju.

T: Bagaimana dengan ketertarikan dari perusahaan-perusahaan besar untuk ikut berperan?

J: Ada intensitas dari Indomobil, kita juga berharap pada Suzuki. Begitu pula Yamaha, sekarang sudah mulai tertarik. Semoga saja mereka bisa manufactured di sini. Saya rasa kita patut mencontoh Thailand, di sana industrinya bisa maju, mengapa Indonesia tidak? Itu dari sisi fasilitasi motor, jadi kita tidak hanya memikirkan karir kalau bisa dari sisi industri juga maju.

T: Apakah industri motor cukup menjanjikan?

J: Menurut saya industri yang profitable ya motor. Baik dari tim, pembalap, bengkel, dan sebagainya semua diuntungkan. Logikanya Indonesia bisa banyak menghidupkan industri motor seperti di luar negeri. Hal itulah yang ingin kami hidupkan.

T: U Mild bisa disebut sebagai sponsor?

J: Inilah kendalanya, kami kadang terlihat seperti mendompleng. Padahal, sebetulnya tidak seperti itu. Sebenarnya kami ingin kerjasama dengan siapapun. Ada juga beberapa pihak yang melihat kami hanya sponsor saja padahal kami tidak sepenuhnya sebagai sponsor. Kami lebih kepada memfasilitasi saja. Bila itu sudah berjalan, kami akan berinovasi yang lain.

T: Seperti apa contohnya?

J: Misalnya underbone konsepnya freestyle, seperti party semakin hari semakin banyak. Kami ingin memperbanyak event-event semacam itu. Supaya para bikers juga makin banyak latihan dan penghasilannya juga bertambah. Bila itu sudah berjalan, kami akan cari hal lain yang dirasa perlu untuk difasilitasi.

T: Sudah ada gambaran kira-kira apa yang akan difasilitasi berikutnya?

J: Waktu itu kami pernah mendengar tentang resiko kecelakaan ketika touring lebih besar. Kami mencoba mengambil peluang untuk antisipasi bagaimana agar tidak terjadi kecelakaan dan bagaimana penanganannya setelah terjadi kecelakaan.

T: Siapa pihak yang akan digandeng bekerjasama?

J: Kami akan bekerja sama dengan 118. Di Indonesia ada hal-hal yang tak dapat dimengerti, seperti kecepatan penanganan kecelakaan di Indonesia itu maksimum 30 menit setelah kejadian karena kalau tidak dia pasti cacat. Kami merencanakan ada ambulans kecil yang lebih bisa cepat menolong korban.

T: Kegiatannya lebih bersifat sosial?

J: Ya. Kegiatan ini nonprofit, tapi kami hanya mampu memfasilitasi saja bukan untuk menyediakan ambulans. Kegiatan ini yang sekarang sedang kami usahakan. Karena makin banyak kecelakaan dan makin banyak orang cacat juga akan berpengaruh karena mereka semua usia produktif.

T: Apa wujud nyata yang bisa direalisasikan dalam waktu dekat?

J: Yang paling dekat, sebetulnya di website. Kami akan membuat streaming video cara melepas helm rekan yang kecelakaan atau cara membebat luka atau menangani patah tulang, cek nafas. Selain itu kami berupaya agar nomor-nomor telepon penting bisa tersebar. Jadi, kalau mereka sedang touring dari kota A ke kota B mereka bisa tahu Rumah Sakit atau layanan penting lainnya yang berada di dekat situ.

T: Adakah upaya yang Anda lakukan ini ingin mengadaptasi seperti 911 di luar negeri?

J: Idealnya, memang demikian, karena di luar, ketika kita menghubungi 911 maka yang datang tidak hanya pertolongan medis saja, tapi juga petugas kepolisian. Semestinya memang demikian, karena jika ada kecelakaan, masyarakat Indonesia terbiasa menonton dan menggangu ketertiban jalan. Dengan adanya polisi, keadaan bisa tertib dan penanganan korban jadi lebih intensif. Lebih sempurnanya memang integrated seperti ini.

T: Berarti sejauh ini sudah ada 3 program yang berjalan beriringan?

J: Ya, get more sebenarnya tidak hanya balap saja. Untuk more fun, ada freestyle. Mereka tak hanya sekedar freestyle saja. Karena mereka juga     berbakat menjadi entertainer maka juga bisa menghasilkan uang, bukan hanya sebagai hobi saja.

T: Bagaimana dengan para pemenang lomba modifikasi?

J: Kami akan mengaktifkan segala seluk beluknya di website. Nanti akan ada gambar-gambar dan detailnya. Siapa-siapa saja juaranya, sejarahnya, profilnya.

T: Konsep apa yang sedang Anda kembangkan untuk freestyle di Indonesia?

J: Kami sedang meregulasi freestyle. Karena freestyle Indonesia lebih condong ke Amerika. Gayanya lebih wild, dan ekstrim. Kalau kita berkiblat ke Eropa, style skill nya lebih bagus. Maka dari itu, kami ingin memberi pengarahan di Surabaya nanti, semacam sarasehan. Jika kita sudah memiliki skill yang jago seperti di Eropa, kami tidak akan segan mengirimnya ke sana.

T: Bagi para mekanik?

J: Mekanik juga akan kita buat lebih banyak. Dengan begitu akan banyak orang yang bermata pencaharian. Selama ini ATPM sudah bikin sekolah mekanik. ATPM sendiri sudah memiliki sponsor untuk mekanik, seperti Honda atau Yamaha. Ide untuk mengembangkan mekanik ini juga banyak yang berasal dari bikers atau wartawan. Makanya saya juga butuh kekuatan media.

T:  Bukannya Honda selalu rutin bikin lomba mekanik?

J: Selama ini ATPM untuk training. Bikers jadi bisa bongkar motor sendiri kalau ada kerusakan. Indonesia kekurangan engineering. Saya berpikir mengapa tidak kita didik saja biar bisa jadi mekanik motor sport yang besar seperti itu.

T: Untuk tingkat ASEAN apakah sudah ada ahli mekanik yang mumpuni?

J: Belum ada, sejauh ini baru orang-orang Jepang yang menjadi mekanik berkualitas.

T: Bagaimana dengan kemungkinan mengadakan lomba di Australia atau negara lain?

J: Australia belum bisa juga, semua kembali berpulang pada regulasi yang ketat. Biasanya yang bisa mengadakan event lomba besar hanya Marlboro. Mereka punya agreement di Monaco dan China. Kalau Malaysia juga masih sulit, di sana kita hanya bisa mencantumkan logo saja.

T: Tim yang ada sekarang sudah ideal?

J: Sebenarnya kita memang hanya memfasilitasi. AHRS punya orang-orang yang sudah profesional. Dalam satu tim yang terpenting adalah harus satu visi dan kompak. Sebenarnya, co sponsor juga harus bekerja kompak juga. Dari sisi pembalapnya juga demikian. Mereka harus bisa berbicara jika berlaga di event internasional. Kendala yang ada, kebanyakan mereka tidak bisa bahasa inggris. Padahal, kami bisa menerjemahkannya nanti. Yang paling penting mereka maju dan tampil sehingga sponsor juga bisa senang.

T: Jika diperbandingkan sebenarnya lebih besar mana dana untuk super sport atau underbone?

J: Super sport lebih murah daripada underbone. Event kami masih banyak yang lokal kalau di luar kita harus jalin kerjasama dengan partner lain. ATPM sudah men-support melalui motornya, uangnya, namanya juga ada di depan badan motor. IRC juga mendukung dalam bentuk tim mekanik. Biasanya, kalau kita sudah menemukan sumber yang tepat, bisa lebih murah.

T: Seperti apa sebenarnya mekanik atau tim yang ideal?

J: engineering-nya orang Jepang dan mekaniknya orang Indonesia, itu yang paling tepat. Selain itu juga bisa murah dan ada transfer knowledge. Kalau mekaniknya orang Jepang akan mahal sekali.

T: Berbicara tentang sponsor, apakah segalanya adalah tentang uang?

J: Tidak, banyak sponsor yang hanya mengedrop uang saja tanpa tahu masalah yang dihadapi itu seperti apa. Tim sekarang tidak bisa didikte sama sponsor. Tim yang profesional harus begitu. Akan lebih baik bila memiliki partner yang sama idealismenya biar satu visi.

T: Bagaimana dengan event di luar kota?

J: Sponsor kalau di luar kota masih sedikit yang menonton juga masih sedikit. Kita harus mengemasnya lebih menarik lagi. Kalau di dalam kota lebih mudah. Sekarang kita juga berusaha cari celah untuk regulator.

T: Anda berkecimpung di dunia motor. Apakah Anda benar-benar menyukai motor?

J: Sebenarnya tidak juga. Saya suka belajar hal-hal baru dan suka memberi dari hal baru yang saya pelajari itu. Buat saya yang penting ada passion-nya. Saya di sini juga mulai dari nol.

T: Karakter orang seperti apa yang Anda sukai sebagai partner?

J: Kalau orangnya datar-datar saja, saya tidak akan gandeng. Saya menggandeng orang-orang yang passionate. Jadi lebih hidup. Seperti yang saya lihat dari para bikers yang mengalami kecelakaan dan kini cacat. Mereka memiliki prestasi juga. Ini membuat saya kagum, masa kita yang normal kalah dari mereka?

T: Pendapat Anda tentang adanya cabang olahraga motor balap di PON? Apakah Anda terganggu dengan program ini?

J: Ya, ke depannya kalau bisa harus lebih diatur. Menurut AHRS ini memang sudah resiko. Harusnya bagi para bikers yang sudah biasa perform di tingkat Asia, jangan turun ke level yang bukan tingkatannya. Tapi ya, mungkin karena tuntutan jadi harus total. Tim yang berada di belakang si bikers harus kuat untuk mengatur kejelasannya.

T: Sekarang, fokus Anda akan kemana?

J: Kami ingin berfokus ke road race di luar Jawa. Karena di luar Jawa lebih cocok untuk road race.

T: Bagaimana dengan pembalap motor wanita?

J: Sejauh ini belum terlihat. Tapi kami akan dukung sepenuhnya jika ada pembalap wanita yang potensial. Sementara ini, wanita baru ada untuk freestyle saja.

T: Rencana ke Eropa?

J: Problem yang kita hadapi jika di Eropa adalah di sana motornya motor besar. Kalau di sini kita masih motor kecil. Perlu penyesuaian lebih lanjut.

*Transkripsi Bhakti Hariani reporter magang Monitor Depok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

September 2008
M T W T F S S
« Aug   Oct »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
%d bloggers like this: