it’s about all word’s

Balada Louisje yang tersendiri

Posted on: September 22, 2008

Jalan Latuharhary 6 A di bilangan elit Menteng memang tak menarik. Tak banyak yang tahu letak pastinya. Andai saja Louisje Komala (81) tak ditemukan tak berdaya setelah terkurung 10 hari bersama mayat busuk sang kakak, Erfiene Komala (84).

Padahal rumah di muka jalur rel kereta api Tanah Abang-Manggarai, di tepi Kali Malang itu hanya bersisian dengan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Menteng dan hanya sepelemparan batu dengan jalan Solotigo.

Akhir pekan lalu, usai dirawat tanpa kerabat di RS Carolus, Oma Louisje pulang. Sayang dia tak bisa kembali ke rumahnya. Romo Yustinus Sulistiadi Pr bersama sejumlah jemaat Gereja Santo Ignatius Loyola, Menteng mengatakan rumah tua itu tak memungkinkan untuk kembali di tempati sang nenek itu.

Untuk sementara Louisje tinggal di rumah milik Pricilia Imelda, bendahara Gereja Santo Ignatius Loyola, Menteng di Jalan Pandeglang, Menteng, Jakarta yang hanya bersisian dengan kantor pos polisi Latuharhari.

“Ini untuk memudahkan jika terjadi sesuatu dengan nenek yang kini sebatang kara tersebut,” ujar Sulis.

Ketika Monde melompat ke dalam halaman rumah tersebut. Bau busuk bangkai manusia masih menyengat. Maklum Erfiene sudah 10 hari menjadi mayat membusuk dipenuhi belatung saat ditemukan di bawah kasur.

Sunarso, petugas Gereja Kristen Indonesia (GKI) Menteng menuturkan sudah sejak 22 Juli melihat sesuatu berjalan tak seperti biasanya. Dia tak melihat kedua nenek itu keluar rumah.

Lima hari berselang, dia mengutarakan hal tersebut kepada Telmy, pegawai Tata Usaha GKI dan Okky, pesuruh keponakan Louisje yang tinggal di Kelapa Gading. Dari Okky, Telmy mendapat alamat keponakan Louisje di Cokroaminoto no 7.

Kebetulan hari itu, petugas bajaj kepercayaan kedua nenek itu, Sukirna datang. Ternyata itu adalah hari terakhir Louisje berhubungan dengan orang lain. Hingga 7 Agustus, Sunarno juga tak pernah melihat satu pun saudara kedua nenek itu datang

Kerugian semakin kuat karena bau tak sedap dari rumah tersebut. Paginya kepada Telmy, Sunarso menceritakan hal tersebut dan sepakat melapor kepada ibu RW, Nyonya Eko Syamsuddin.

Saat dihubungi oleh Nyonya Eko Syamsuddin, keponakan Louisje di bilangan Cokroaminoto no 7 yang diketahui bernama Siska hanya menyatakan sebagai keponakan tiri dan menyatak tak tahu menahu.

Karena bau mayat semakin keras, Lasimin, koster gereja, Menteng bersama Natalia Rima, Ketua Seksi Sosial Paroki melapor ke pos polisi setempat.

Nenek kaya

Dua polisi ditemani Lasimin dan seorang sopir bajaj, Sukirno membongkar pintu dengan paksa. Bau bangkai menyengat langsung menyengat mereka. Saat ditemukan, Louisje dalam keadaan lemas. Diduga dia tak makan selama 10 hari terkurung bersama jasad sang kakak.

Istri Sunarso, Suhartini menghubungi Siska. “Terus saya harus bagaimana?” tanya Siska kepada Suhartini. Hingga sore Siska tak kunjung datang. Dia pun tak muncul ketika Louisje dibawa ke RS Carolus sementara jasad Erfienne diserahkan ke kamar mayat RSCM.

Belakangan masalah menjadi rumit. Keponakan tiri kedua nenek itu, pasangan Haryono dan Siska yang melepas tangan justru mengaku siap bertanggung jawab. Tak hanya itu mereka bahkan mengaku diri sebagai ahli waris keduanya.

Padahal pasangan yang tinggal di Jalan HOS Cokroaminoto, Menteng, selain tak peduli juga tak datang hingga jenazah dievakuasi ke RSCM. Tak hanya itu keduanya juga memerintahkan kepada satpam Carolus untuk tak memperbolehkan adanya tamu.

Uniknya meski mengaku ahli waris pasangan itu tak bertanggung jawab pada biaya perawatan Louisje yang mencapai Rp36 juta. Seluruh biaya ditanggung bersama-sama oleh umat Gereja Santo Ignatius Loyola, Menteng.

Kepada wartawan, Louisje mengatakan dulu ketika masih muda dirinya tinggal di bilangan Tengku Umar yang belakangan dijual murah setelah ayahnya yang menjadi pembesar di perusahaan asuransi Kombinasi Seratus meninggal tahun 1978.

“Dulu tinggal di sana. Sekolah di HBS jalan Tegal Merdeka 14 [kini menjadi Pertamina],” ujar sang nenek kepada sejumlah wartawan di kamarnya yang baru di rumah milik Pricilia Imelda.

Baik Louisje dan Erfiene tak menikah. Keduanya sejak tahun 1986 kemudian pindah di rumah Latuharhary. Mereka terlalu asyik dengan dunianya sendiri. Tak ada tetangga yang mereka sapa.

Komunikasi keduanya hanya kepada seorang sopir bajaj, Sukirna yang kerap mengantar Louisje belanja di Hero Gondangdia atau menitip beli makanan. Keduanya bahkan bungkam ketika listrik mati sejak 19 April 2008.

Padahal di kocek Louisje tersimpan banyak uang. Sumber Monde menyebutkan simpanan perempuan tua itu di Bank Resona Perdania mencapai US$20.000 atau senilai Rp187 juta. Sementara nilai rumah seluas 130 meter persegi itu mencapai di atas Rp1 miliar.

“Saya diberi tahu pihak bank. Sudah ada pengacara yang menelpon dan mengajak ‘bersepakat’ soal harta warisan Louisje,” ujar sang sumber yang pernah sekelas dengan Barrack Obama di SD Besuki.

Saat ini pihak Gereja Santo Ignatius Loyola, Menteng sedang berusaha melacak keponakan Louisje yang tinggal di Belanda. “Kami jaga semua surat-surat Louisje. Jangan sampai jatuh ke tangan yang tidak berhak!,” ujar Sulis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

September 2008
M T W T F S S
« Aug   Oct »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
%d bloggers like this: