it’s about all word’s

Billy Sheehan: I want play with them again!

Posted on: October 21, 2008

“Saya sangat ingin kembali manggung bareng!”

Dentum bas menggetarkan ruangan Nusa Indah Theater Balai Sarbini, getar senar bass Yamaha BB Series lewat ampli SVT-400 kontan disambut tepuk meriah dan suit siulan kagum ribuan peserta klinik bass Billy Sheehan akhir pekan lalu.

Untuk kali kedua Yamaha musik Group Indonesia mendatangkan Billy Sheehan sang maestro bass dunia eks superband Mr Big. Empat tahun lalu Billy juga beraksi memukau penggila bas Tanah Air.

“Halo apa kabar!” sapanya setelah membuat pemandu klnik malam itu Bernard B2n dan peserta klinik cemas karena Billy menghangatkan tabung ampli yang diagunakan. “Ada yang mematikan ampli dan mengubah setting saya!

Seperti halnya para peserta klinik dan jurnalis malam itu, saya cukup khawatir Billy bakal ngambek seperti halnya pemain bas Dream Theater, John Myung yang ngeloyor meninggalkan panggung begitu saja.

Namun Billy tetaplah si Colorado Bulldog yang saya lihat beraksi di Surabaya 12 tahun lalu. Sembari berdiri mondar-mandir ke depan dan melakukan sedikit setting ke ampli, sepuluh jarinya yang kekar itu lincah memainkan tapping, slapping dan finger picking di keempat senar Yamaha BB 714 BS ATTLTDII yang membuat seakan-akan menggunakan multi-effect.

Usai beberapa saat memberikan ‘santapan’ ringan, pria gaek berusia 53 tahun itu dengan sedikit bercanda mengatakan. Dirinya telah 40 tahun memainkan bas, bermain di 4.000 konser dan terlibat dengan 60 rekaman.

“Jadi saya sudah tua. Tapi tidak apa-apa. Saya sudah pernah lihat Jimi Hendrix memainkan gitarnya!” ungkapan sarkastik itu kontan membuat tawa peserta meledak.

Usai mengatakan hal tersebut, sesi tanya jawab pun mengalir. Sebagai seorang pemain bas yang lahir bukan dari dunia kampus, sesi klinik itu bagai sebuah diskusi besar yang berangkat dari pengalaman lapangan.

Terlahir dengan nama William Sheehan pada 19 Maret 1953 di New York, Billy mengawali karir musiknya dengan belajar bermain gitar akustik.

“Tapi sejatinya ada hal lain yang membuat saya jatuh cinta pada bass karena seorang tetangga saya bernama Joe. Saat saya masih bocah saya diperbolehkan masuk ke studio latihannya,” papar Billy.

Dalam studio dia lihat gitar bas yang bentuknya besar dan ampli yang begitu besar. Jauh lebih gagah dibandingkan gitar listrik yang terlihat lebih cocok disebut alat musik perempuan.

Uniknya sang nenek yang tinggal di rumah Billy sudah bersumpah selama dia hidup tak boleh ada gitar elektrik di rumah itu belakangan meninggal dan dari asuransi kematian sang nenek itu Billy mendapatkan bas Fender pertamanya.

Namun keseriusan Billy untuk bermain bass adalah saat dia melihat penampilan Tim Bogert dari Vanilla Fudge, saat itu dia memutuskan bas adalah pilihannya dan mendirikan band beraliran jazz, Opus One.

Gaya bermain Billy banyak dipengaruhi oleh Tim Bogert, legenda Metalica Cliff Burton bahkan Sebastian Bach namun dia menganggap Jimi Hendrix adalah sumber inspirasinya.

Tak heran karena dipengaruhi dewa gitar Jimi Hendrix, Billy tidak cuma memainkan bas dengan cara normal, dia juga memakai akord dan teknik two handed tapping seperti biasa dipakai oleh gitaris.

Selain bermain dalam Mr. Big, Billy juga banyak bermain dengan musisi lain seperti David Lee Roth, Steve Vai, UFO,

Di sela-sela kesibukannya menulis buku pelajaran bermain bas dan acara bas kliniknya, Billy masih sempat merilis 2 album solo berjudul Compression dan Cosmic Troubadour.

Latihan dan percaya diri

Penyuka gamelan Bali dan menyukai negara muslim itu termasuk jujur ketika menjawab pertanyaan peserta klinik terutama tentang sesi yang dia habiskan untuk berlatih. Billy lantang menjawab.

“Hanya satu jam. Tapi itu betul-betul bikin saya pingsan. Karena melatih teknik-teknik tersulit. Sangat menyakitkan, membosankan tapi harus dilakukan karena di atas panggung permainan yang saya pilih kerap membuat saya menderita,” paparnya.

Meski beruntung memiliki jari-jari yang kekar. Billy yang tak suka menggunakan pick up kerap harus manggung menahan pedih karena kuku yang copot, kulit bahkan daging tergores.

Dalam satu show bersama Niacin, sebuah trio instrumental fusion bersama John Novelo dan Dennis Chambers dia malah pernah harus menggunakan lem plastik untuk menempelkan kuku jarinya yang copot.

Sebuah pertanyaan tentang teknik slapp yang dinilai jarang dipakai Billy tanpa banyak komentar langsung disambut praktik teknik itu yang membuat sang penanya hanya bisa meminta maaf telah mengajukan pertanyaan tersebut.

“Saya lebih suka memainkan slapp gaya saya sendiri. Gaya yang lebih ngerock. Buat saya slapp yang Anda maksud tentu slapp ala funk yang menurut saya justru terdengar seperti disko,” kembali tangannya beraksi.

Menurut dia semua pemain bas harus menemukan teknik miliknya sendiri. Sejumlah sesi latihan individual, jam session termasuk memainkan genre musik di luar yang disukai merupakan waktu bagi sang pemain untuk memainkan permainan yang menjadi ciri khasnya.

Trus bagaimana dengan Mr.Big? Billy yang tengah mempersiapkan proyek solo bertajuk Holy Cow tertawa kencang lalu memainkan sejumlah repertoar band lamanya itu.

“Bermain bersama mereka menyenangkan. Saya sangat ingin kembali manggung bareng tapi sejauh ini rencana reuni itu belum ada. Tolong kirim email ke mereka!” pintanya dan disambut riuh penggemar Mr Big.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

October 2008
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
%d bloggers like this: