it’s about all word’s

Bill wrote the Jakarta Post

Posted on: October 28, 2008

Menulis ‘keluarga besar’

Pekan ini koran nasional berbahasa Inggris, Jakarta Post merayakan umurnya yang menggapai seperempat abad. Pesta cocktail dihadiri pejabat koran tersebut, para pendiri dan relasi digelar meriah di Hotel Mulia.

Hadir banyak petinggi media seperti bos Kompas Gramedia Jakob Oetama, pendiri Tempo Goenawan Moehamad, pendiri Bisnis Indonesia Lukman Setiawan dan kakak beradik Sofjan dan Jusuf Wanadi.

Namun ada satu orang yang begitu bahagia malam itu dia tak lain si bule Bill Tarrant, sang penulis buku Reporting Indonesia: The Jakarta Post Story 1983-2008 yang dirilis malam itu.

Buku setebal 282 halaman yang menjadi gambaran perjalanan Jakarta Post itu juga boleh disebut juga menjadi rekam jejak kehidupannya sebagai wartawan dan orang asing di Indonesia.

Muka Bill begitu berseri ketika berpose di samping, Managing Editor Jakarta Post Ati Nurbaiti dan penulis, produser film Mark Hanusz yang tak lain bos Equinox Publishing.

Bill Tarrant adalah wartawan yang pernah menjadi koresponden, kepala biro dan editor bagi kantor berita Reuters di Asia selama 22 tahun. Dia kemudian menjadi satu dari beberapa editor yang membantu penerbitan Jakarta Post di tahun 1983.

Saat ini pria asal Pittsburgh itu adalah Kepala Editor desk Umum dan Politik untuk Thomson Reuters di Asia. Ayah dari dua putri itu kini tinggal di Singapura.

“Menulis buku ini menyenangkan. Saya terlibat di dalamnya sejak awal. Ada sisi emosional ketika menggarapnya. Saya bergabung di Jakarta Post di masa-masa sulit,” ujar Bill usai peluncuran buku tersebut.

Praktis karena sudah mengenal Jakarta Post, Bill hanya membutuhkan waktu sekitar enam bulan. “Tak terlalu lama sebab ini seperti menulis perjalanan sejarah kehidupan saya.”

Maklum saja gara-gara Jakarta Post, Bill jadi semakin cinta pada Indonesia. Padahal sejatinya di awal kunjungannya pada 14 Juli 1982, Bill hanya kembali plesir mengunjungi sang kakak, Jim Tarrant yang bekerja di lembaga donor AS, USAID.

Satu tempat yang ingin dia tuju kembali adalah Gunung Galungung di Jawa Barat yang meletus 8 April 1982. Bill pernah menulis peristiwa tersebut untuk Asia Magazine.

Kedatangan Bill tepat sebab hanya terbilang hari setelah Menteri Penerangan saat itu Ali Moertopo mencetuskan ide koran berbahasa Inggris kepada pengusaha sekaligus bos Partai Golkar, Jusuf Wanandi.

Sebagai sebuah perintah dari orang terkuat di jaman Orba banyak pihak yang terlibat dalam pembentukan PT Bina Media Tenggara adalah keroyokan beberapa media a.l. Suara Karya, Kompas, Sinar Harapan dan Tempo.

Hasilnya meski banyak pesaing bermunculan dengan konsekuensi awak redaksi pun berganti namun Jakarta Post tetap menjadi koran berbahasa Inggris yang menjadi patokan para pembacanya.

“Dulu memang berat. Sekarang pun demikian. Tapi Jakarta Post tetap menjadi benchmark,” tegas Bill yang pantas bangga media yang pernah dia garap sudah menghasilkan dua Duta Besar Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

October 2008
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
%d bloggers like this: