it’s about all word’s

Sebuah renungan seorang buruh media

Posted on: October 28, 2008

Dua pekan ini hidupku terasa lucu usai libur panjang cuti di kampung. Habis-habisan kucurahkan waktu mengurus bini dan anak. Ternyata jadi bapak sekaligus suami yang baik bagi wartawan sangat sulit. Benar kata juga senior ku, YA Sunyoto.

“Yah kalau ngga bisa jadi suami yang baik. Minimal jadilah bapak yang baik!” ujarnya sarkastis ketika keturunanku lahir, 7 November 2005. Tawanya renyah namun ada nada getir di sana.

Sunyoto yang biasa ku panggil Mas Nyoto adalah contoh totalitas wartawan. Bagai kucing nyawanya sembilan. Dia sudah berkarir di Bisnis Indonesia, Solopos, Monitor Depok dan Harian Jogja. Bagai kucing. Nyoto sudah teruji. Soal dibanting dan digencet dia sudah biasa.

Kerja jadi wartawan memang profesi yang bikin getir. Nenden menyatakan profesi ini bukan duit tapi ada kebanggaan dan gengsi di sana. Aristides Katoppo yang kutemui di kelas malam Frederick Naumann Stiftung pun mengingatkan hal yang sama.

Sementara Andreas Harsono, guru penulisan sastrawi dan narasiku pun tak kurang-kurangnya selalu berpesan demikian. Bahwa profesi wartawan itu adalah sama pentingnya dengan guru. Tugas wartawan adalah mencerdaskan dan mencerahkan.

“Tugas Anda adalah mencerdaskan dan memberi pencerahan meski kebenaran itu menyakitkan!” ujar mantan wartawan The Nation, penggiat AJI, pendiri ISAI itu.

Kalau mengingat kata-kata Koh Andreas saya jadi ingat pernah stres ketika pertama kali menjalani peran sebagai editor di koran komunitas Monitor Depok. Sebagai koran umum banyak hal yang sebetulnya bisa diperbaiki.

Sebut saja menyajikan fakta di balik berita. Menulis panjang dengan cara bertutur. Menyelipkan sisi jenaka dalam tulisan bertopik humanis dan mengambil angel peliputan yang semakin lokal.

Awal penugasan aku begitu menikmatinya. Hanya saja tugas ini terasa membosankan ketika aku harus ikut ambil bagian dalam mengelola sisi kemanusian sang wartawan. Memberi motivasi, mendengar keluh kesah adalah yang bisa aku kerjakan

Namun menjawab masa depan mereka, adalah hal-hal yang membuatku tak bisa menjadi diriku. Aku harus menyediakan diriku sebagai kepala buruh pabrik yang mesti tegas dan tegar menjawab persoalan padahal dia sendiri tak tahu nasibnya.

Di luar itu, aku jadi semakin kesulitan mencuri waktu membaca. Satu aktivitas memperkaya diri yang sudah menjadi kebiasaan setiap menjelang tidur. Aku terlalu capai untuk membaca.

Tak itu saja, jadwal bertemu anak istri pun menjadi berkurang. Jika dulu dua pekan sekali bisa bersua mereka, setelah di Monitor Depok paling tiga pekan sekali aku baru bisa pulang.

Ini berat bagiku. Jika dulu sebulan aku bisa enam hari bertemu mereka. Karena penugasan tersebut paling-paling tiga hari saja aku menyambangi keluargaku.

Sungguh ini membuat hidupku terganggu. Cerita-cerita istriku tentang anakku yang dulu memompa semangatku justru membuatku stres. Aku jadi bertanya. “Memangnya ini kerja wartawan?”

Memang atasan di Bisnis Indonesia selalu memberi semangat untuk bertahan. Motivasi yang cukup mengembalikan baterai semangatku. Yah paling tidak aku masih bisa memberi semangat bagi para reporterku.

***

15 Oktober 2008 menjadi hari yang berkesan bagiku. Untuk pertamakalinya aku dipercaya menjadi dosen tamu di program pascasarjana London School of Public Relation.

Kelas pertama yang dilangsungkan pukul 19.00 dengan bahasa pengantar Indonesia berlangsung cukup seru. Diskusi cukup lancar mengalir meski agak susah juga memancing peserta perkuliahan.

Nampaknya aktif di kelas, kritis dan lebih mudah mengutarakan pendapat masih menjadi persoalan para mahasiswa pascasarjana tersebut. Meski diembel-embeli kampus internasional rupanya cara berpikir mereka belum go internasional.

Diam menunggu, malu-malu dan nrimo yang seharusnya dikesampingkan justru masih dipelihara. Saya cukup kaget dengan pengalaman ini sebab kelas buat wartawan malah lebih heboh.

18 Oktober kembali memberi kejutan. Sembari ngos-ngosan karena telat bangun ternyata aku justru datang terlalu cepat. Alhasil aku cukup lama nongkrong di sofa empuk sembari baca Swa edisi lama.

Pas masuk kelas ternyata eh ternyata weekend class adalah english class. Mati aku! Mana ngga ada alkohol lagi. Tapi show must go on kita tahu dengan mulut bahkan Tom Dobbs pun bisa menang pemilu AS—dalam film Man of The Year yang dirilis 2006 lalu.

Ya sudah lah mulailah aku ngecap. Ngga tau itu bener atau tidak yang jelas dengan sepenuh hati aku ngecap mencurahkan persoalan dunia pers di Indonesia, susahnya wartawan membagi waktu antara bekerja dan kembali memperbaharui intelektualitasnya.

Belakangan gombal-gambul ku menuai hasil. Seorang mahasiswi dari Afrika Selatan mulai tertarik berkomentar soal bagaimana wartawan Indonesia tergagap-gagap menulis pemanasan global.

“Mengapa wartawan Indonesia kalau nulis cetek. Kurang bernas kurang tajam. Dikit-dikit mengutip temperatur dunia naik. Sementara efeknya ke pembaca malah ga diberikan,” semburnya.

Saya menjawab sekaligus membela diri. Lha gimana wartawan Indonesia bisa bikin berita yang mantep jeng kalo gajinya tak ada bedanya dengan buruh pabrik.

Udah gitu dalam sehari dituntut nulis empat sampai lima berita. Pulang kerja sudah capek. Belum kalau harus ribut dengan keluarga. Anak yang rewel, mertua yang bawel.

Sang mahasiswi terhenyak tak bisa menjawab. Seorang mahasiswa asal Nigeria yang orang penting di Kedutaan Nigeria menyatakan persoalan demikian juga terjadi di negaranya.

Ketika demokrasi tumbuh. Kebebasan diberikan. Media bermunculan sumber daya manusia yang memang berniat, berbakat dan terpanggil menjadi wartawan-wartawati justru bagai buah durian. Enak, gurih tapi cuma berbuah setahun sekali alias jarang.

Perbincangan dalam bahasa Inggris itu pun mengalir. Well yes well no. bla bla bla bla Mister! Madam! dan sehari kemudian saya harus berbicara di depan mahasiswa Strata 1 dan 2 Universitas Pelita Harapan.

2 Responses to "Sebuah renungan seorang buruh media"

hebat jadi dosen tamu….
kok bisa sih Goth?

gw jg ga tau ndut…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

October 2008
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
%d bloggers like this: