it’s about all word’s

Salute for Mitch Mitchell

Posted on: November 18, 2008

Hari ini sepekan kematian penggebuk drum, Jimi Hendrix Experience, Mitch Mitchell yang terkenal dengan tehnik bermain drum yang bertenaga dan pioner permainan fusion. Sebuah trah baru permainan drum jazz dan rock.

Seperti dikutip E! online tujuh hari lalu, pria kelahiran Inggris, 4 Juli 1947 itu ditemukan tak bernyawa di kamar hotelnya di Portland, Oregon saat sedang sibuk  menjalani tur ‘Experience Hendrix’. Tur itu sendiri masih tersisa lima hari lagi.

Mitchell diduga menyusul rekan-rekan se-bandnya karena faktor usia. Mitchell menutup mata untuk selamanya di usia 61 tahun alias paling tua. Rekannya, pemain bas Noel Redding tutup usia pada 2003 lalu.

Kematian Mitchell juga termasuk wajar dibandingkan Jimi Hendrix yang meninggal pada 1970 karena narkoba. Dengan kematian Mitchell, Jimi Hendrix Experience siap menghibur pecinta musik rock di alam baka.

Sepanjang karir Jimi Hendrix Experience setidaknya ada empat magnum opus permainan drum Mitchell yaitu Manic Depression, Voodoo Chile, Fire dan Third Stone from the Sun yang mendapatkan acungan dua jempol para musisi drum lain di era itu.

Sebut saja Ringgo Starr (Beatles), Bill Ward (Black Sabbath), John Bonham (Led Zeppelin), Ginger Baker (Blind Faith) yang mengakui permainan penuh semangat Mitchell.

Meski demikian perjalanan pria yang dilahirkan di Ealing, Middlesex, Inggris itu adalah musisi pengelana alias berpindah-pindah band a.l. Johnny Harris and the Shades, The Pretty Things, The Riot Squad and Georgie Fame dan Blue Flames

Kedekatan Mitchell dengan dunia hiburan sudah dimulai sejak dia menjadi seorang aktor cilik untuk iklan TV, sebelum memutuskan menjadi musisi pada saat remaja.

Dia sangat menyukai permainan drum dari Buddy Rich, Gene Kruppa, Elvin Jones, Max Roach, dan Joe Morello. Selain menjadi musisi, sebagian waktu Mitchell bekerja di took Jim Marshall, sang pencipta ampli legendaris Marshall di London.

Selain bermain bersama Jimi Hendrix, skill Mitchell yang komplit membuatnya laris diajak bekerjasama sama beberapa musisi terkenal seperti band The Dirty Mac yang bermain untuk The Rolling Stones Rock and Roll Circus di tahun 1968.

Proyek main-main ini tak sembarangan, Mitchell bermain bersama pentolan Beatles John Lennon (vokalis dan gitar ritem), legenda blues Eric Clapton (lead gitar) dan nyawa Rolling Stones Keith Richards (bas).

Mitchell memang bukan pemain drum pertama yang dikenal Jimi Hendrix. Dia baru bermain untuk band trio ini dari Oktober 1966 hingga pertengahan 1969. Penampilan sensasionalnya tentu saja di Woodstock, Agustus 1969.

Tahun 1970-an usai keluarnya pemain bas Noel Redding , Mitchell dan Jimi reuni bersama pemain bas Billy Cox dalam band bernama Cry of Love.

Perkenalan dengan Jimi

Proyek Mitchell dengan Keith Richards adalah langkah penting yang mempertemukannya dengan Jimi Hendrix yang baru saja menanggalkan band Jimmy James & The Blue Flames.

Keith yang mendengar permainan Jimi dari pascarnya, Linda mempertemukan Jimi dengan bassis grup Inggris The Animals, Chas Chandler. Chandler lalu mengusulkan mengganti nama Hendricks menjadi Hendrix.

Selain itu Chandler kemudian mengajak Hendrix mengembangkan karir di London. Chandler pula yang mempertemukan Jimi dengan penggebuk drum Mitch Mitchell yang baru keluar dari Georgie Fame’s Blue Flames.

Dia juga yang mengajak gitaris pelamar Animals yang gagal, David ‘Noel’ Redding untuk menjadi pemain bas. Skill Redding yang sebelumnya bermain untuk Modern Jazz Group dan Loving Kind memang cukup lumayan.

Jimi Hendrix Experience pun resmi terbentuk. Sebulan kemudian mereka masuk studio. Mereka merekam lagu Stone Free ciptaan Hendrix dan Hey Joe karya Billy Roberts dan pernah dinyanyikan oleh Tim Rose. Kedua lagu tersebut digarap di De Lane Lea Studio, London.

Memasuki Desember 1966, Hendrix menandatangani kontrak empat tahun dengan Yameta Company, suatu perusahaan manajemen artis. Akhirnya single pertama ‘Hey Joe’ dirilis oleh Polydor setelah sebelumnya ditolak oleh Decca.

Mereka bertiga lalu tampil di acara TV untuk pertama kalinya di penghujung tahun 1966 itu. Sayang pada malam Tahun Baru 1967, mereka tidak mendapat tawaran panggung.

Memasuki Januari 1967 keadaan sudah mulai membaik. Penampilan ketiganya sering ditonton oleh musisi terkenal seperti Paul McCartney (The Beatles), Pete Townsend (The Who) dan Mick Jagger (Rolling Stones).

Bintang-bintang top itu ternyata menyukainya dan mengakuinya kepada pers alhasil trio tersebut terkenal dan diundang main di Saville Theater, London sebagai grup pembuka The Who.

Pada bulan Februari, single ‘Hey Joe’ mendaki di nomor enam pada chart Inggris. Hendrix pun semakin terkenal dengan gayanya yang liar.

Pers juga sering mengekspos hal tersebut. Sementara itu mereka bertiga masuk studio lagi untuk menyelesaikan penggarapan album penuh. Album itu dikerjakan di Olympic Studios, Barnes, London.

Praktis setelah itu Jimi Hendrix Experience diperhitungkan mereka bahkan sempat sepanggung dengan Cat Steven, Walker Brothers dan Engelbert Humperdinck.

Puncak perjuangan mereka adalah ketika merilis tembang legendaris Purple Haze dan album perdana Are You Experienced? yang bertahan di posisi puncak musik dunia.

Sayang pada April 1969, ego Jimi Hendrix memuncak dan memutuskan untuk membubarkan trio tersebut. Jimi pulang ke AS dan menggandeng kawan lamanya, Billy Cox untuk menggarap proyek pribandinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

November 2008
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
%d bloggers like this: