it’s about all word’s

Quick Count dan skeptisme cerdas

Posted on: November 23, 2008

Judi adalah haram. Itu benar bagi sebagian orang dan golongan. Namun bermain kartu dan menebak kartu apa yang akan muncul dengan ilmu matematika, haramkah? Jawabannya bisa ambigu. Bisa ya bisa tidak.

Sutradara Robert Luketic sukses menuangkan buku Bringing Down the House: The Inside Story of Six M.I.T. Students Who Took Vegas for Millions karya Ben Mezrich dalam film 21 yang dibintangi Jim Sturgess, Kevin Spacey, Kate Bosworth dan Laurence Fishburne.

Kisah film ini menarik, karena dosen matematika Institut Teknologi Massachusetts, Micky Rosa (Kevin Spacey) mengumpulkan sejumlah mahasiswa jeniusnya untuk menguras duit di Las Vegas lewat permainan kartu.

Pada dasarnya ilmu menebak kartu adalah dasar dari penciptaan teori kemungkinan (probability theory) yang dikembangkan matematikawan dari abad ke-16 asal Italia, Gerolamo Cardano. Sahabat Leonardo da Vinci ini gemar berjudi.

Otak Cardano yang bekerja cepat mampu dengan cepat menebak hampir secara tepat kartu yang akan muncul dalam setiap permainan. Sejak kuliah Cardano dikenal piawai dan gemar pelajaran aljabar.

Aljabar berasal dari bahasa Arab: al-jabr yang berarti pertemuan, hubungan atau perampungan. Ilmu ini dikembangkan matematikawan Muslim asal Xorazm, Uzbekistan, Abu Ja’far Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi.

Teori kemungkinan ini kemungkinan dikembangkan dan dimanfaatkan ilmuwan besar di abad berikutnya seperti Pierre de Fermat, Blaise Pascal dan Christiaan Huygens.

Berkat teori kemungkinan banyak penciptaan ilmu dan teknologi. Sementara penerapannya banyak sekali. Mulai dari sistem antrian, lampu lalu lintas, perlintasan hingga tentu saja yang sedang seru saat ini teknik perhitungan cepat (quick count).

Quick count dimanfaatkan lembaga survei dalam melakukan metode perhitungan cepat adalah untuk memberikan gambaran awal, terkait dengan hasil pemilu/pilkada yang sedang berlangsung di wilayah tertentu.

Meski hasil akhir pemilu/pilkada tetap ditentukan oleh lembaga penyelenggara pemilihan umum (KPU/KPUD), biasanya hasil yang dikemukakan quick count berkorelasi positif dengan hasil akhir pemilu/pilkada yang sedang  berlangsung.

Bos Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA bahkan dalam iklannya berani menyatakan hasil quick count lembaganya selalu tepat bahkan mendekati kenyataan hasil akhir pemilu/pilkada yang dilangsungkan.

Hasilnya pembenaran Denny Januar Aly dianggap masyarakat sebagai kebenaran publik. Berbondong-bondonglah parpol peserta pemilu dan elit pilkada memanfaatkan kinerja lembaga yang berdiri tahun 2005 itu.

Harap diingat saat ini terdapat dua LSI yang pertama Lembaga Survei Indonesia yang didirikan Yayasan Pengembangan Demokrasi pada Agustus 2003. Penggagasnya a.l. mantan bekas Dekan FE UI dan Kepala Bappenas Djunaedi Hadisumarto, Kepala Badan Pertanahan Negara Joyo Winoto, serta pengusaha Theodorus Permadi Rahmat.

Dalam LSI itu, Saiful Mujani adalah peneliti utama atau orang yang bertanggung jawab terhadap semua survei LSI sementara Denny sebagai direktur eksekutif.

Sengketa LSI

Namun Mei 2005 Denny dan Saiful pecah kongsi. Musababnya, Denny dituding curang . Ketika itu LSI mengerjakan survei pesanan Depsos tentang persepsi korban tsunami.

Denny mengklaim sampelnya adalah warga Aceh yang kena tsunami, nyatanya kebanyakan responden LSI adalah warga Sumatera Utara.

Saiful, doktor politik yang menulis tesis tentang jajak pendapat itu yang mengaku tak mengetahui penelitian itu, keruan berang. Merasa kredibilitasnya dipertaruhkan. Denny membantah. Alasannya data itu tak curang karena Nias di Sumatera Utara juga terkena tsunami.

Namun apa lacur pengurus Yayasan Pengembangan Demokrasi telah
patah arang. Melalui sebuah penyelesaian “kekeluargaan” , pengurus LSI
akhirnya sepakat menjatuhkan talak tiga pada Denny JA.

Namun Denny bertindak cepat, aktivis mahasiswa tahun 1980-an itu lalu membentuk Lingkaran Survei Indonesia yang kemudian gemar mempromosikan metode quick count atau hitung cepat.

Sejak awal kemunculan LSI, saya yang pernah menjadi peserta Kursus Metodologi Polling Nasional-Fase II LP3ES tahun 1999,  mendapati sejumlah kekhawatiran peneliti sosial terkait kemungkinan hasil quick count dianggap sebagai kebenaran sah.

Saat itu jelang Pemilu 1999, Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial yang didirikan 19 Agustus 1971 menugaskan seluruh peserta kursus untuk melakukan uji sampling peserta pemenang pemilu tersebut yang ternyata memunculkan nama PDI Perjuangan.

Sebuah uji coba kecil-kecilan yang tidak dipublikasikan karena belum menjadi sebuah metode sahih ternyata benar-benar menghasilkan PDI Perjuangan sebagai pemenang pemilu pertama tersebut.

Satu hasil awal yang belum boleh disebut sebagai kebenaran mutlak karena polling, survei maupun quick count pada dasarnya dikembangkan dari teori kemungkinan yang harus disadari kemungkinan munculnya bias/kesalahan dari hasil yang ditunjukkan.

Sayang beberapa kebenaran akhir quick count di beberapa Pilkada membuat masyarakat kurang sadar dengan fakta keilmuan statistik dan politik di balik hasil-hasil qiuck count.

Apalagi sebagai sebuah jasa, sudah mejadi pengetahuan umum Danny JA yang ilmu politik di Ohio State University, AS selain menawarkan survei, juga menjajakan jasa tim sukses untuk pemilihan kepala daerah.

Dalam pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan, LSI Denny J.A. adalah tim sukses pasangan Syahrul-Agus. Di Banten, Denny sukses memenangkan Ratu Atut Chosiyah sebagai gubernur. Di Jakarta Denny menjadi tim sukses Fauzi Bowo.

Entah dengan lembaga survei yang lain. Tentu independensi mereka bisa terpengaruh oleh pengguna jasa survei yang tidak murah tersebut.

Ramalan yang meleset

Puncak pertaruhan lembaga survei terjadi di Jatim. Hasilnya mengejutkan karena hasil pilkada pada pemilihan gubernur dan wakil gubernur tak cocok dengan quick count yang dipublikasikan.

Dalam hitung cepat itu, kelima lembaga survei serempak menyatakan pasangan Khofifah-Mujionao (Kaji) unggul tipis atas pasangan Sukarwo-Saifullah Yusuf (Karsa).

Publik jadi geger ketika hasil akhir perhitungan manual oleh KPUD diumumkan justru menunjukkan kemenangan Karsa (PKS, Partai Demokrat, PKB, Golkar, dan PAN) mendulang 7.729.944 suara dan menyapu 22 kota/kab.

Sedangkan Kaji (PDI-P, PPP, 12 parpol nonparlemen, dan PKNU) meraih 7.669.721 dan meraup 16 kota/kabupaten.

Kontan saja kekalahan hanya 60.233 suara itu pihak Kaji merasa dicurangi. Mereka menolak menandatangani berita acara perhitungan, Khofifah juga mengajukan gugatan ke Mahkamah Agung (MA).

Pasangan Kaji seakan lupa sejak quick count Pilkada Jatim putaran II diumumkan, tak satu pun lembaga survei tak berani menyatakan bahwa mereka unggul atas Karsa.

Semua lembaga survei menyatakan margin of error survei mereka adalah 2%. Angka ini justru melebihi selisih persentase perolehan suara Kaji dan Karsa dalam quick count, di mana hasil survei dari lembaga ini rata-rata kurang dari 1%.

Publik awam mungkin tak mengerti. Begini dalam ilmu statistik dikenal istilah margin of error (toleransi kesalahan dalam menentukan sampel), hingga degrees of freedom (derajat kebebasan), apabila setidaknya dilakukan teknik korelasi antarvariabel dalam sebuah survei serta penelitian.

Dalam ilmu sosial batas sampling error dan degrees of freedom yang biasnya ditoleransi adalah 5%. Sayang publikasi edukasi terhadap metode statistik sangat kurang.

Proses menemukan taksiran dan penduga dari suatu proses dilakukan dengan melakukan pengambilan sampel (sampling). Sampling yang baik didesain dengan menetapkan berbagai kriteria dan berbagai pendekatan proses yang menjamin validitas dari penaksirannya.

Proses quick count juga dilakukan dengan mengambil sampel secara acak (random), artinya semua TPS dipilih sedemikian rupa hingga tiap TPS punya kesempatan sama untuk diambil, bahkan untuk menjamin kesalahannya tidak melebihi angka tertentu dilakukanlah perhitungan yang menjamin kesahihan.

Artinya untuk menjamin kesalahan tidak melebihi 1 % keluarlah n = 400. Artinya harus dilakukan pemilihan 400 TPS untuk menghitung persentase yang mencoblos no 1 dan nomer 5, misalnya.

Melalui proses yang matang ini setiap lembaga survey quick count menemukan suatu angka taksiran p, yakni persentase yang mencoblos di setiap TPS dari jumlah pemilih yang datang dan mencoblos di TPS.

Berapa besar kesalahannya? Tentu ada batas toleransi salahnya, karena jumlah sampel yang terbatas. Tetapi makin besar sampelnya tentu akurasinya menjadi makin tinggi. Atau resiko salahnya menjadi makin kecil.

Nah, menjelang sore tanggal 4 Nopember lalu beberapa lembaga hitung cepat ini secara independen melakukan pengumuman hasil perhitungannya. Hasilnya sebagai berikut :

Hasil quick count (dalam %)
Lembaga    Kaji        Karsa         TPS
LSI Denny     50,76        49,24        400
LSI Syaiful    50,44         49,56        400
Puskaptis     50,83        49,17        400

Secara independen hasil ketiganya bila dirangkum akan menghasilkan sebuah taksiran yang makin teliti karena jumlah sampelnya menjadi 1200 TPS. Sehingga kesalahan penaksiran menjadi makin kecil atau dikatakan risiko kesalahannya akan makin kecil.

Hasilnya pun sedemikian tipis yaitu munculnya angka 50,68% yang diambil dari interval ketiga hasil interval lembaga survei. Sementara Karsa memunculkan 49,32% dari interval 49.31- 49.34%.

Dari 1.200 data TPS ini dapat dipastikan bahwa hasil dan validitasnya makin meyakinkan bahwa kedua angka persentase secara statistik itu berbeda dengan ketelitian 0.03 (lebar interval untuk keyakinan 95 %).

Artinya realita di seluruh populasinya akan mempunyai kemungkinan dalam batas bawah dan batas atas tersebut, yang ternyata sudah saling asing. Dengan taksiran ini kemungkinan salahnya probabilitasnya 5 % dan peluang untuk sama p = 0.50 sudah tidak akan pernah terjadi.

Nah selanjutnya hasil perhitungan yang tidak konsisten dengan hasil sampling yang random ini bisa di interpretasikan sendiri. Ternyata memang keunggulan Karsa di Pilkada Putaran II hanya 60.233 suara atau di bawah 1% dari total suara yang masuk.

Kebesaran hati

Hasil akhir ini memang mengecewakan tim Kaji, maklum euforia sudah menguap ketika quick count diumumkan semua lembaga survei menunjukkan keunggulan Kaji tanpa pernah menyadari hasil quick count pun dimungkinkan bias/kesalahan.

Namun besar harapan digantungkan pada pihak yang kalah untuk bisa menerima hasil keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada awal Desember atau 14 hari sejak didaftarkan ke MK.

Depok sebagai salah satu daerah yang pertama menyelenggarakan Pilkada sampai saat ini masih menjadi contoh terbaik mencari solusi terbaik dan kebesaran hati menerima kekalahan sesuai putusan pengadilan.

Kasus Pilkada Depok menjadi perhatian utama di dalam negeri ketika pasangan Nurmahumudi- Yuyun Wirasaputra dinyatakan sebagai pemenang Pilkada Walikota Depok oleh KPUD Depok pada 6 Juli 2005 digugurkan kemenangannya melalui putusan PT Bandung.

Pasangan Nurmahmudi yang memenangkan pilkada dengan selisih suara hampir 26 ribu, dinyatakan kalah oleh PT Bandung. Pasangan Badrul Kamal- Syihabuddin Ahmad (Golkar) diputuskan mendapat 269.551 suara, sedangkan pasangan Nurmahmudi-Yuyun (PKS) hanya mendapatkan 204.828 suara.

Sengketa pilkada Depok menempuh waktu tujuh bulan di jalur hukum hingga akhirnya Departemen Dalam Negeri sesuai putusan Mahkamah Agung yang menerima PK yang diajukan KPUD Depok menjadi dasar bagi Mendagri untuk menetapkan pasangan Nurmahmudi- Yuyun Wisaraputra sebagai pemimpin Depok.

Hasilnya pada 26 Januari 2006, pasangan Nurmahmudi Ismail-Yuyun Wirasaputra resmi dilantik sebagai walikota-wakil walikota Depok terpilih oleh Gubernur Jabar, Danny Setiawan, di gedung DPRD Depok.

Pelantikan kepala daerah itu berlangsung aman, terutama setelah adanya pernyataan Badrul Kamal -pemenang pilkada berdasarkan putusan Pengadilan Tinggi (PT) Bandung – yang menyebutkan pihaknya menerima ikhlas putusan Mahkamah Konstitusi (MK).

Setelah melalui masa 14 hari, MK dalam amar keputusannya menolak permohonan Badrul Kamal untuk dilakukan pengujian undang- undang Pilkada terhadap UUD 1945 dan soal sengketa kewenangan lembaga negara.

Kita tunggu keputusan MA dan MK yang adil begitu juga kebesaran hati tim Kaji.

2 Responses to "Quick Count dan skeptisme cerdas"

ikut ngelink pak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

November 2008
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
%d bloggers like this: