it’s about all word’s

Unorthodox Joko Anwar

Posted on: November 23, 2008

Sineas Muda yang Tak Biasa

Anda penikmat film-film Indonesia? Pasti sudah tak asing lagi dengan judul Arisan, Janji Joni, Quickie Express, dan Kala. Tapi tahukah Anda siapa orang kreatif yang berada di balik deretan film laris Indonesia itu?

Jika belum, Monde akan mengajak Anda berkenalan dengan Joko Anwar. Sutradara muda sekaligus penulis naskah ini kerap kali menggagas film dengan tema-tema tak biasa yang jarang tersentuh.

Karirnya di dunia perfilman di Indonesia dimulai ketika awalnya ia bekerja sebagai kritikus film dan penulis lepas untuk harian The Jakarta Post. Saat ia tengah mewawancarai sutradara wanita Nia Dinata untuk The Jakarta Post, Nia merasa orang yang tengah mewawancarainya ini sangat berbakat.

Lantas, Nia mengajak Joko untuk bergabung dengannya sebagai penulis skenario untuk film Arisan. Prediksi Nia tepat, film yang diluncurkan 2003 ini meledak di pasaran. Mengangkat tema yang belum banyak dikuak orang, yakni tentang kehidupan kaum gay, tak menghalangi popularitas Arisan.

Film yang dibintangi Tora Sudiro, Cut Mini dan Surya Saputra ini dinobatkan sebagai Film Terbaik pada Festival Film Indonesia 2004. Sedangkan untuk penulisan skenarionya, meraih penghargaan sebagai Skenario Terbaik dalam Festival Film Bandung 2004.

Joko pun mulai menikmati karirnya sebagai seorang penulis skenario. Ia mengatakan untuk menjadi seorang penulis skenario atau scriptwriter diperlukan kepekaan untuk bisa merasakan beragam hal yang terjadi di sekitar kita.

“Seorang scriptwriter yang sukses bisa menginspirasi banyak orang, mengubah jalan hidup orang, dan tentunya bisa kaya,” ujarnya di sela-sela acara Scroundbites di Universitas Indonesia.

Tidak semua orang mampu menjadi scriptwriter. Seorang scriptwriter menurutnya harus memiliki sesuatu yang berbeda dari orang lain dan mampu memikat orang untuk tetap betah menyaksikan film yang dibuatnya hingga selesai.

“Pokoknya, gimana caranya tuh orang tetep betah nonton film kita sampe selesai dua jam,” kata pria kelahiran Medan ini.

Sukses yang diraih Arisan, membuat Joko mulai percaya diri dengan kemampuannya. Ia lantas menyutradari film komedi Janji Joni yang dibintangi Nicholas Saputra. JanJi Joni pun mendapat sambutan positif dari para Movie Buffers di Indonesia.

Ini dibuktikan dengan keberhasilan Janji Joni meraih penghargaan sebagai Film Terbaik di ajang MTV Indonesia Movie Awards 2005. Pada tahun yang sama Joko berhasil meraih penghargaan sebagai Best Emerging Director (Sutradara Baru Terbaik) di New York Asian American International Film Festival.

Torehan prestasinya bertambah saat ia menjadi official selection (penyeleksi resmi) di festival-festival film internasional bergengsi. Termasuk Sydney Film Festival  dan Festival Film Internasional Pusan.

Pria alumni Institut Teknologi Bandung Jurusan Aeronautika ini kian mencintai dunia film dan terus berfokus pada bagaimana menciptakan film yang berkualitas dan layak bagi bangsa.

Bagi pria berusia 32 tahun ini menjadi sutradara ataupun scriptwriter amatlah mengasyikan. Menurutnya, jika ingin membuat film yang berbeda, jangan membuat skenario yang klise. Mungkin inilah sebabnya mengapa ia begitu jeli menangkap selera penonton dengan membuat film-film yang tak biasa.

Mungkin tidak ada yang pernah menyangka bagaimana film seperti Arisan yang mengangkat kehidupan para sosialita di Jakarta dan potret kaum gay bisa “meledak” sedemikian hebat. Lain Arisan, lain pula Janji Joni, film yang mengisahkan tentang pengantar rol film ini mungkin terdengar janggal dan aneh.

“Sebelumnya saya tidak berekspektasi apapun, bagaimana juga, Janji Joni yang isinya cuma orang lari-lari ternyata bisa disukai,” ujarnya sambil tertawa. Ia menilai selera para penikmat film Indonesia masih baik dan mampu memberikan warna dalam dunia perfilman.

Filmnya yang dirilis 2007 yang berjudul Kala, lebih unik dan tak biasa lagi. Film yang muram dan cenderung “gelap” ini mungkin bagi orang awam terlihat aneh dan membingungkan. Film yang diperankan Fahri Albar dan Shanty ini berkisah tentang sebuah negeri antah berantah yang kondisinya demikian carut marut.

Ketika ditanya, makna apa yang ingin ia sampaikan melalui Kala, karena film ini terlihat begitu rumit dan sulit dimengerti bagi sebagian orang?

“Kala itu ekspresi ketidakpuasan saya terhadap segala bentuk pemaksaan di Indonesia,” tuturnya kepada Monde usai acara Scroundbites.

Keterpaksaan apa yang dimaksud? Ia menuturkan, bahwa banyak sekali organisasi ataupun kelompok yang ingin memaksakan satu ideologi atau paham terhadap orang lain.

“Tidak mungkin Indonesia bisa di sama ratakan seperti itu, karena kita adalah negara yang ber-Bhineka Tunggal Ika,” katanya.

Di mata pria yang pernah menuntut ilmu di negeri Paman Sam ini, Indonesia adalah negara yang kaya akan keanekaragaman. Sudah seharusnya keanekaragaman ini menjadi pemersatu bangsa, bukan malah mengkotak-kotakan dalam suatu paham atau ideologi tertentu.

Terkait dengan pembatasan atau pengkotak-kotakan, bagaimana makna disahkannya RUU Pornografi yang disinyalir akan membatasi ruang gerak budaya Indonesia, bagi seorang Joko Anwar?

“Jelas, ini pembatasan ruang bagi kami selaku insan perfilman. Tapi kami tetap akan bersuara bebas dan jalan terus,” ujarnya mantap.

Kini, Joko tengah merampungkan film terbarunya, Pintu Terlarang. “Ya, lagi finishing touch nih,” kata Joko antusias. Tentang film terbarunya yang bergenre thriller itu.

Dia menegaskan bahwa filmya kali ini takkan se “gelap” Kala. Apakah Pintu Terlarang lanjutan dari Kala karena masih memasang Fahri Albar sebagai bintang utamanya?

“Wah, bukan, Pintu Terlarang pokoknya lebih happy-happy joy-joy ga berdarah-darah,” katanya tertawa lepas sambil tak lupa berpesan pada Monde untuk menonton film tersebut yang mulai akan diputar perdana Januari 2009.

Lalu, apa pesan Joko bagi anak muda yang ingin mengikuti jejaknya menjadi seorang scriptwriter atau sutradara handal? Joko menegaskan untuk menjadi penulis naskah seseorang harus mampu menjadi seorang pengamat/ observer sekaligus.

“Harus peka melihat keadaan sekeliling. Perhatikan dan rasakan,” ujarnya. Menulis skenario film juga berarti harus bisa menguras emosi. Emosi disini adalah emosi sang penulis itu sendiri agar bisa mengekspresikan apa yang menjadi pandangan hidup atau visinya.

Joko memiliki komitmen serius tentang film-film berkualitas di Indonesia. Menurutnya, film yang baik tak hanya mengejar keuntungan semata. Kendati memang tak dapat dipungkiri materi juga memegang peran penting.

“Jika saya hanya mengejar materi, mungkin saya takkan membuat Kala yang bagi sebagian orang dinilai tak menjual,” katanya. Joko yakin, masih banyak hal yang bisa digali di Indonesia bila ingin membuat film.

Satu hal yang ia tekankan, jangan membuat film yang dimau penonton, tapi buat film yang menyuarakan suatu hal dan membawa perubahan berarti.

Pria kelahiran 3 Januari 1976 ini menyarankan bagi anak muda yang ingin meretas karir sebagai sutradara atau scriptwriter agar jangan membuat film yang membosankan. Ia memiliki tiga tips ampuh namun simpel yang bisa dipelajari.

“Pertama, cari input dari orang yang benar-benar mengerti dunia film. Kedua, terbuka sama kritik, terakhir menyadari kalau penonton adalah target utama kita,” ujarnya gamblang.

Soal masa depan seorang scriptwriter? “Jangan khawatir, jadi scriptwriter bisa kaya kok, honor untuk satu film bisa mencapai Rp150juta-200 juta,” ujarnya sambil mengedipkan mata menutup pembicaraan. (BHAKTI HARIANI)

CV
Nama Lengkap : Joko Anwar
TTL         : Medan, 3 Januari 1976

Filmografi        :
* Pintu Terlarang (2009) (penulis/sutradara)
* Fiksi (2008) (penulis)
* Kala (2007) (penulis/sutradara)
* Janji Joni (2005) (penulis/sutradara)
* Ajang Ajeng (2004) – serial TV (penulis/sutradara)
* Arisan! (2003) (penulis)
* Joni Be Brave (2003) (penulis/sutradara)

Pendidikan
* SD Negeri Inpres No. 060823 Medan (1987)
* SMP Negeri 13 Medan (1990)
* SMA Negeri 1 Medan (1993)
* Wheeling Park High School, West Virginia, AS (1994)
* Institut Teknologi Bandung, Teknik Penerbangan (1999)

1 Response to "Unorthodox Joko Anwar"

[…] The young guns Joko Anwar « it’s about all word’sTerkait dengan pembatasan atau pengkotak-kotakan, bagaimana makna disahkannya RUU Pornografi yang disinyalir akan membatasi ruang gerak budaya Indonesia, bagi seorang Joko Anwar? “Jelas, ini pembatasan ruang bagi kami selaku insan … […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

November 2008
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
%d bloggers like this: