it’s about all word’s

Travel warning ganjal showbiz musik

Posted on: November 26, 2008

Ekses dari eksekusi terpidana mati pelaku Bom Bali I Amrozi dkk berimbas pada rencana konser penyanyi R&B asal AS Rihanna yang harusnya digelar 14 November, kemarin di Istora Senayan Jakarta.

Konser itu batal, meski seluruh tiket sudah ludes terjual. Artis asing batal manggung di Indonesia bukan hanya kali ini. Sejak  travel warning dikeluarkan pemerintah AS, Australia dan negara Eropa pada1998 agar warganya tidak berkunjung ke Indonesia, showbiz seakan mendapat batu ganjalan.

Akibat kebijakan negara Barat itu, tidak sedikit promotor lokal yang menderita kerugian, bahkan diantaranya gulung tikar karena banyak artis asing takut mengelar pertunjukan di sini.

Namun demikian masih ada yang bertahan seperti Tommy Pratama dari Original Production dan Adrie Subono dengan Java Musikindonya. Mereka tetap eksis dan tidak kapok meski ada beberapa artis dari negara ‘travel warning’ itu, yang membatalkan pertunjukan meski sebelumnya sudah disepakati.

Kepada Bisnis, mereka pernah menyatakan bahwa travel warning itu merupakan tantangan yang harus dilawan dengan berbagai strategi bisnis. Tidak harus pasrah menerima keadaan.

Faktanya, melalui penjelasan kepada manajemen artis serta artisnya sendiri kalau Indonesia sebenarnya aman tidak seperti digambarkan media Barat, beberapa pertunjukan musik pun berhasil mereka gelar.

Masalah batal konser, menurut Adrie Subono, bukan hal baru. Sebab, sejak travel warning digulirkan pada 1998 oleh AS, Australia dan negara-negara Eropa, tidak sedikit pertunjukan musik meleset dari jadwal. Konser gagal dengan alasan keamanan di Indonesia kurang mendukung.

Pembatalan konser, lanjutnya, tentu saja sangat merugikan promotor dan sponsor. Apalagi dilakukan beberapa hari menjelang pertunjukan.

“Rugi memang, tapi itulah risiko yang harus dipikul promotor musik. Begitu juga sponsor, karena pembatalan sepihak itu jelas kurang menguntungkan,” ungkap Adrie yang pernah gagal memboyong The Coors, Blue, Fiveteen 50 Cent, Akon, Ricky Martin dan artis lainnya.

Dalam konteks pembatalan Rihanna, Adrie menilai manajemen artis itu tidak fair.

“Semua orang sudah mengetahui kalau Pemerintah AS telah mencabut travel warningnya bagi Indonesia. Lho kok, tiba-tiba muncul alasan itu. Nggak benar namanya.”

Hal senada juga dikatakan Tommy Pratama. Bahkan dinilai terlalu ekstrem, yakni pembatalan satu hari sebelum konser. Kasus yang jarang terjadi di dunia showbiz.

“Wajar kalau pembatalan satu bulan sebelumnya. Misal, grup musik rock Yess dan Dream Theater yang pernah akan saya boyong ke sini, dua bulan sebelumnya membatalkan,” katanya kepada Bisnis.

Menurut dua pelaku showbiz musik kawakan itu, pembatalan konser bagian dari penilaian sponsor terhadap promotor. Terutama soal kepercayaan.

Ditambahkan mereka, jika hal itu tidak ditanamkan dalam suatu kerjasama secara profesional, maka berikutnya sponsor akan kapok menjadi partner pertunjukan. Padahal, andil untuk promosi dan biaya-biaya lainnya cukup besar.

“Konser musik asing menjelang pemilu nanti, harus benar-benar bisa meyakinkan sponsor. Mengingat nuansa politik sering dikait-kaitkan dengan kondisi keamanan,” kata Adrie.

• Terbit di Bisnis Indonesia dan Harian Jogja 15 November 2008
• Bareng S. Hadysusanto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

November 2008
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
%d bloggers like this: