it’s about all word’s

Bunda Teresa dari Dupak, Surabaya

Posted on: November 30, 2008

Embun baru menguap sebagian di udara Puskesmas Induk Dupak, Surabaya. Riuh anak-anak SD di Jalan Dupak Bangunrejo gang Poliklinik no.6 nyaring terdengar, belasan pria-wanita sudah antri di depan puskesmas yang berhadapan dengan Masjid Nurul Hidayah.

Seorang pria mengerang di meja periksa. Dia korban tabrak lari. Tulang hidungnya melesak. Paramedis hanya bisa memberi sedikit bantuan. “Tunggu bu dokter Nurul ya pak,” ujar sang paramedis.

Belum sepeminuman teh saya menunggu, mobil Kijang Toyota milik dokter Nurul Lailah datang dan beringsut mengikuti petunjuk tukang parkir menembus kepadatan gang tersebut. Dokter Nurul Lailah adalah Kepala Puskesmas Dupak sejak 2004.

Kewenangannya luar biasa karena wilayah urban Kelurahan Morokrembangan dan Bangunsari itu berpenduduk sekitar 75.000 warga.

Sebagai daerah urban, komposisi etnis dan ekonomi di wilayah itu bhineka. Rumah petak kumuh harmonis berselang-seling dengan rumah mewah.

Yang istimewa, Morokrembangan dan Bangunsari adalah pusat jajan pria hidung belang di Surabaya terbesar setelah Gang Dolly. Sebagai sebuah simbiosis mutualisma, tempat pelacuran akrab bersisian dengan masyarakat santun nan saleh.

Adzan dan lonceng gereja pengingat Yang Maha Kuasa dengan entengnya bersambung dengan dentum musik disko ketika malam tiba.

Pelacur bisa dengan nyaman berkeleleran bersama ibu-ibu yang asyik ngerumpi di depan rumah mereka.

“Awalnya kaget juga kok pelacuran di tempat ini bercampur aduk. Tingkat permisifitas mereka begitu tinggi. Saya langsung khawatir dengan kondisi penyakit menular seksual,” ujar dokter lulusan Universitas Wijaya Kusuma itu penuh semangat.

Nurul tetap bersemangat meski dia dan sepasukan paramedisnya harus bekerja di rumah dinas dokter karena Puskesmas Dupak yang berdiri tahun 1969, itu sejak November 2007 dibangun agar lebih megah dan lega.

Keterbatasan tak membuat Nurul enggan tancap gas. Sejak 2005, setiap Selasa dan Rabu, Nurul menggelar mengadakan pemeriksaan rutin PMS kepada para PSK di wilayah itu.

Setiap Selasa di Puskesmas Induk (Puskin) dan untuk hari Rabu diadakan di Puskesmas Pembantu (Pustu), Jalan Tambak Asri gang XIII/7.

Rumah wajib kondom

Ada sekitar 400 PSK di wilayah Morokrembangan dan 400 lagi di Bangunsari. Yang hadir rutin di setiap jadwal pemeriksaan 70-80 PSK.Suara anak-anak mengaji dari masjid mengiringi kupu-kupu malam yang cantik dan wangi itu menjalani pemeriksaan.

“Ibu lurah [Dupak] karena ketidaktahuannya sempat berkomentar. Bu Dokter PSK nya kok dilayani. Nanti bertambah subur lho,” tutur dokter yang menjalani PTT di Tanah Grogot, Kab Pasir, Kaltim tahun 1997 itu.

Para PSK datang didampingi oleh Petugas Sebaya yang umumnya merupakan mantan PSK. Puskesmas Dupak juga dibantu oleh beberapa petugas lapangan yang datang dari beberapa LSM.

Pemeriksaan kepada para PSK itu dimulai dari pemeriksaan dalam, lalu konseling seputar keluhan yang dideritanya, penyuluhan tentang Penyakit Menular Seksual dan HIV/AIDS, terapi dan kemudian pemberian kondom kepada para PSK.

Dalam pemeriksaan itu Nurul juga mesti siap mendengarkan curhat para PSK itu. Banyak ditemukan mereka adalah korban perdagangan manusia dan terjerat utang.

Penggunaan kondom di wilayah tersebut masih dirasa kurang karena ada beberapa pihak yang menolak penggunaan kondom tersebut sebab mereka merasa yang memiliki uang.

Selain itu pekerja seks pun juga belum ada kesadaran akan pentingnya kondom dalam mencegah penularan penyakit HIV/AIDS. “Beberapa dari mereka malah nyeletuk ‘toh akhirnya saya juga matek [mati], dok’,” ujar Nurul menirukan ucapan frustasi PSK binaanya.

Bagi para mucikari dan masyarakat sekitar perihal HIV/AIDS, penyebaran leaflet seputar HIV/AIDS dan penyuluhan PMTCT kepada ibu hamil untuk menghindari penyebaran HIV/AIDS dari ibu ke anak yang sedang dikandungnya.

Sementara untuk para remaja diberikan informasi mengenai narkoba terutama pecandu narkoba suntik (Napza) di 5 SMP dan 2 SMA wilayah kerja Puskesmas Dupak.

Kerjasama juga dilakukan dengan RW yang kebetulan menjadi wilayah ‘khusus’ ini. Tak heran mereka langsung mengamini usulan Nurul untuk memajang kotak lampu bertuliskan rumah wajib kondom di setiap rumah bordil di wilayah itu.

“Tapi atas perintah ulama di jalan utama kotak-kotak lampu kondom itu diturunkan karena dianggap membuat citra gelap wilayah ini semakin kuat. Padahal wilayah ini bagaimana sudah jadi rahasia umum,” ujarnya sembari terkekeh.

Matahari sepenggalah kala Puskesmas Moro Krembangan padat pasien. Di tengah sorotan nyalang preman setempat, dari atas becak meluncur pelan saya melambaikan tangan. “Doakan saya dik! Terus berjuang,” ujarnya sebagai salam perpisahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

November 2008
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
%d bloggers like this: