it’s about all word’s

PT Adi Karya Visi (AKV)

Posted on: December 16, 2008

Membidik bisnis siaran masa datang

Sejatinya pebisnis sejati adalah pemilik kemampuan gabungan analis, penjudi sekaligus futurolog. Dengan kemampuan ini pebisnis akan selalu lebih maju dibandingkan kompetitornya.

Salah satu bisnis masa depan yang jadi incaran sejak tahun lalu adalah televisi Internet (IP-TV). Untuk mendapat layanan televisi digital tersebut konsumen harus terdaftar dalam sistem tersebut.

Pengiriman sinyal IP-TV memungkinkan dengan teknologi Internet Protocol melewati sebuah koneksi broadband. Biasanya digunakan dalam sebuah jaringan yang terorganisasi sendiri yang lebih baik daripada internet publik.

Kebanyakan layanan ini disediakan bersama dengan permintaan fasilitas video. Sebagai tambahan, terdapat ketentuan terhadap pemanfaatan layanan internet seperti akses web dan Voice over Internet Protocol (VoIP).

Satu pemain yang menyasar bisnis IP-TV untuk pasar Tanah Air dan Internasional adalah PT Adi Karya Visi (AKV) yang selama ini dikenal sebagai perusahaan penyedia konten siaran (content provider) siaran televisi berbayar Astro Nusantara di Indonesia.

“Meski masih menggunakan nama astroawani sebetulnya sejak awal kami bukan bagian intergral Astro. Kami hanya penyedia konten siaran. Soal nama sekadar strategi branding saja,” ujar News Director Astro Awani, Riza Primadi.

Sejak tahun 2006 hingga 19 Oktober 2008, AKV menyuplai konten channel untuk TV berbayar Astro Nusantara, melalui enam channel yaitu: Astro Aruna, Astro Awani, Astro Ceria, Astro Kirana, Astro Xpresi dan Astro Oasis.

AKV juga memproduksi program khusus untuk TV berbayar di Asia a.l Singapura, Vietnam, Brunei dan Malaysia. Selain itu, beberapa program yang diproduksi AKV disiarkan oleh saluran televisi di Belanda.

Berbeda dengan portal berita lainnya, yang mengutamakan teks atau narasi, situs berbasis IPTV dengan modal total US$32.000 ini menyajikan informasi dan berita berbasis video.

Riza mengakui sebagai layanan IP-TV pasar yang disasar saat ini masih kecil namun seiring peningkatan kualitas jaringan internet membuat pasar IP-TV di Indonesia makin membesar.

“Kita melihat bisnis bukan untuk setahun atau dua tahun kedepan tapi lima sampai 10 tahun ke depan. IP-TV adalah bisnis siaran masa datang,” ujar Riza.

Layanan IP-TV di Asia Pasifik melonjak dengan cepat. Pada akhir 2006, jumlah pengguna layanan ini mencapai 2,7 juta orang, naik 87,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pasar yang sudah berkembang, seperti Jepang dan Hong Kong, menyumbang sekitar 60% dari total pelanggan pada 2006. Para pengguna di dua negara tersebut diharapkan dapat terus memimpin proses perkembangan layanan IP TV di Asia Pasifik.

Hal ini didukung infrastruktur akses Internet pita lebar, harga layanan yang terus menurun, dan perluasan pelanggan ke kelas menengah membuat perkembangan IP TV China diperkirakan dapat terus meningkat.

Penetrasi layanan ini di Taiwan dan Singapura juga kian meninggi. Dua negara adalah negara pemula dalam hal adopsi teknologi baru. Khusus untuk Korea Selatan, regulasi yang sempat menghambat perkembangan bisnis IP-TV mulai jelas ttitik temunya.

Sementara layanan IP-TV di Indonesia dan Filipina kurang berkembang disebabkan oleh infrastruktur yang belum meluas. IP-TV diharapkan dapat beroperasi di seluruh wilayah Asia Pasifik pada 2009.

Menurut laporan lembaga riset Gartner per Oktober lalu jumlah pelanggan Internet protocol television atau IPTV di dunia diprediksi akan menembus angka 19,6 juta pada akhir tahun ini dengan peningkatan 64,1% dari 2007.

Pada tahun ini nilai pendapatan dari IPTV diproyeksikan mencapai US$4,5 miliar, atau tumbuh 93,5% dibandingkan dengan pendapatan pada 2007 yang sebesar US$2,3 miliar.

Gartner juga memperkirakan tahun ini sebanyak 1% dari jumlah rumah yang ada di dunia adalah pelanggan dari IPTV. Pada akhir 2012 penetrasi IPTV akan sebesar 2,8%, sedangkan pendapatan dari IPTV pada 2012 akan mencapai US$19 miliar.

Pasar ini yang dibidik AKV karena selain berkonsentrasi pada astroawani.co.id yang beroperasi sejak 19 November lalu AKV sudah menjadi penyedia konten bagi IP-TV Singapura yang digelar raksasa Singtel.

Selular dan efisiensi

Saat ini AKV tengah melakukan negosiasi dengan salah satu raksasa industri selular di Tanah Air untuk menggelar konten siaran yang dapat ditangkap oleh telepon genggam mulai 2009.

“Sayang kami belum bisa menyebut nama perusahaan rekanan kami tersebut karena kami masih melakukan negosiasi pembayaran hak cipta dalam setiap download konten,” papar Riza.

Menurut dia dengan menyasar pangsa media selular terdapat keuntungan dari segi biaya operasional yang efisien di berbagai lini seperti menggunakan jasa outsourching hingga leasing peralatan.

Hal ini berbeda dengan strategi yang diterapkan media televisi konvensional yang padat modal padat karya. AKV boleh dibilang minim SDM dan peralatan namun memiliki produktivitas tinggi. Dengan 300 staf lokal, AKV melayani kebutuhan tujuh channel.

Hal ini bisa ditempuh karena AKV menjalin kerjasama dengan sejumlah nama dan PH ternama a.l. Garin Nugroho, Pepeng, Indigo Entertainment, Avantgarde, Rapi Film, Multi Vision, Antonius Safei dan Abu Sangkan.

Total ada lebih dari 70 rumah produksi yang mempekerjakan 4.000 orang SDM lokal dan memproduksi 4.000 jam konten untuk hiburan, informasi dan pendidikan yang berkualitas dan sering menuai penghargaan.

“Kami tak punya komputer dan mobil operasional. Kami menggunakan jasa leasing. Aset yang kami miliki adalah SDM dan peralatan kerja yang memang mutlak diperlukan. Kami tekan cost seefisien mungkin,” jelas Riza.

Meski efisien sejak tahun lalu AKV tetap melakukan misi sosial dengan menjalin kerjasama dengan beberapa TV lokal, seperti: Padjajaran TV, BBS TV Surabaya, Megaswara TV Bogor, Makassar TV dan beberapa TV lokal yang tergabung dalam jaringan JPMC dan BTV.

Disebut misi sosial karena rata-rata TV lokal di Indonesia sangat terbebani jika harus membeli secara penuh konten produksi AKV. Untuk satu konten berdurasi 30 menit saja harga yang sebenarnya harus dibayar adalah US$250 atau sekitar Rp2,5 juta.

Sebagai perbandingan untuk satu episode ‘Mengukur Kinerja Presiden’ memiliki durasi sekitar 60 menit artinya sekali tayang satu TV lokal wajib menyetor dana Rp5 juta.

Padahal dari kontrak episode tersebut ada 13 episode yang harus ditayangkan. Jelas ini bukan uang yang kecil bagi TV lokal yang masih kembang kempis menaguk duit dari iklan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

December 2008
M T W T F S S
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
%d bloggers like this: