it’s about all word’s

Amir Syarifudin, opium dan perjuangan RI

Posted on: December 19, 2008

19 Desember. Hari ini. Enam dekade lalu. Belanda melakukan aksi militer menyerbu kasur kecil hasil perjanjian Persetujuan Linggarjati milik Republik Indonesia yang masih balita.

Hari itu pula Amir Syarifudin, Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan ditembak mati di dekat desa Ngalihan, Solo oleh seorang letnan Polisi Militer, sebuah satuan khusus dalam Angkatan Bersenjata Indonesia.

Anak Medan kelahiran 27 April 1907 itu dihukum mati karena mendukung pemberontakan PKI di Madiun yang gagal. Meski berkalang tanah tanpa nisan. Nama Amir Syarifudin gagah terpampang sebagai nama Gedung Departemen Pertahanan RI.

Dalam percaturan politik posisi Amir Syarifudin unik. Sebagai sosok di jalur kiri. Dia berseberangan dengan Tan Malaka. Amir mendukung komunis PKI/FDR sementara Tan Malaka mendirikan sosialis GRR yang didukung banyak tokoh garis keras nasionalis a.l. Jenderal Soedirman dan Dr. Moewardi.

Namun jika dilihat lebih ke belakang tentu ada ‘sesuatu’ hal yang tidak bisa dikatakan dalam hitam-putih sejarah sehingga membuat Amir begitu dikagumi dan menjadi ikon bagi Departemen Pertahanan RI.

Semua dimulai ketika Perjanjian Linggarjati, Cirebon yang diteken 15 November 1946 membuat RI terpasung karena hanya berkuasa atas Sumatra, Jawa dan Madura. Sisanya menjadi Republik Indonesia Serikat yang dimiliki Belanda.

Namun belum setahun perjanjian diteken, di malam 21 Juli 1947, Belanda melanggar perjanjian lewat Agresi Militer I. Aksi yang disebut sebagai aksi polisionil itu membuat sejarah Merah Putih secara resmi berjabat erat dengan opium.

Dalam buku The Indonesian Revolution and the Singapore Connection 1945-1949, karya Yong Mun Cheong, sejarahwan Universitas Nasional Singapura disebutkan
kesaksian Moekarto Notowidigdo.

Moekarto kepala perdagangan Asia Tenggara yang meliputi Singapura, Thailand, India dan Australia. Dia juga kasir untuk kantor misi diplomasi RI di penjuru dunia a.l. London, New York, Mesir, hingga Pakistan.

Menurutnya, Amir Syarifudin, Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan pengganti Sjahrir adalah sosok yang mengambil keputusan tersebut di luar sistem yang ada.

Alasannya jelas. Diplomasi harus dilakukan. Namun diplomasi itu tidak murah sementara Belanda memblokade perairan Indonesia. Barang ekspor seperti karet, gula dan tembakau sulit keluar.

Amir sejak akhir 1930-an akrab dengan dunia bawah tanah menentang Jepang tahu kalau ada sedikitnya 22 ton persediaan opium yang dikelola Lembaga Garam dan Opium yang dipimpin Moekarto sejak 1937-1945.

Opium berukuran kecil, mudah diperdagangkan dan mahal sehingga bisa menjadi sumber dana bagi Republik. Sekitar 8,5 ton digotong ke Yogyakarta seiring terdesaknya pemerintah RI.

Dijual ke Singapura

Perdagangan opium RI mulai dilakukan atas restu dan koordinasi Menkeu, Alexander Andries Maramis pada Mei 1948. Sedikitnya 2.017 kg opium dijual Moekarto kepada pengepul opium Singapura, Tjio Men Leong dan dihargai US$900.000.

Setelah itu pada 10 Juli 1948, Moekarto menjual 1.500 kg opium ke pada pedagang opium berkedok pedagang gula di Singapura, Lee Kwet Jin dengan harga US$575.000.

Sementara sekitar 500 kg dijual lewat jaringan Tony Wen, pedagang Singapura yang bersimpati pada perjuangan Indonesia. Dia dekat dengan Adam Malik. Opium itu dibayar Tony tak kurang dari US$225.000.

Republik beruntung karena opium yang diselundupkan dengan bungkus gula merek Kertas Merah dan Putih itu dihargai begitu tinggi. Per kg opium itu dihargai tak kurang dari US$450 kg bahkan pernah sampai US$1.600 kg. Jika ditotal, RI lewat perdagangan opium itu mendapat tak kurang dari US$308 juta.

Yang menarik penyelundupan opium RI ke Singapura dilakukan lewat udara menggunakan pesawat jenis Catalina. Pilotnya adalah tentara bayaran. Salah satunya Raymond Herbert Godwin Coombs, mantan pilot AU Inggris.

Paket-paket opium seberat 100 kg dibalur dengan karet ini dibawa terbang dari Jakarta atau Yogyakarta kemudian dibongkarmuat di perairan Kepulauan Karimun, Riau.

Aksi ini diawasi langsung oleh pebisnis Tanjung Balai, Gui Oh Nua. Gui yang akrab dengan kepolisian setempat juga mengoperasikan kantor pelayaran kapal Boat Quay yang melayari sungai Singapura.

Dari Karimun, 20-25 paket opium dibalur karet dipindahkan ke perahu-perahu kecil pengangkut karet menuju Telur Ayer, Singapura. Di tempat itu menunggu bos lokal, Chop Kim Yeng Kee yang merupakan jaringan Gui dan Tony Wen.

Sosok Tony wen memang menarik. Dia kelahiran Bangka dan belajar di Shanghai. . Selama masa penjajahan Jepang dia bekerja untuk Perserikatan Rakyat dan Buruh Tionghoa di Surakarta.

April 1946 dia merapat ke RI. Tony kemudian menjadi petugas penghubung untuk Depdagri RI sejak Maret 1947. Tanggung jawabnya komunikasi RI dan China. Dia juga penyiar di RRI Yogya.

Jadi pegawai negeri di jaman itu jelas miskin. Di waktu luang Tony membuka jaringan dagang dengan perusahaan Tio Siong Lim di Tuban yang melayani perdagangan tembakau dan gula dari Surabaya ke Belanda.

Jaringan Tony dengan pedagang di Surakarta juga kuat. Dia dekat dengan See Teck Soon, bos Victory Trading Company.

Tony lalu menetap di Singapura karena Surakarta dipadati pasukan Indonesia. Di Singapura dia tinggal bersama kakaknya, Boen Kin Kioen. Jaringannya yang kuat membuat Menkeu Maramis meminta jasa baiknya.

Kerapihan jaringan opium RI membuat intelijen Belanda dan Inggris kesulitan membongkar modus operandi penyelundupan ini. Belakangan jaringan opium RI ini terungkap setelah Moekarto tertangkap di 10 Agustus 1948.

Awalnya Moekarto tutup mulut namun sebulan kemudian Pilot Raymond tertangkap di Mitre Hotel di bilangan Killiney. Alhasil Tony Wen pun ikut dicokok. Namun Tony licin, begitu dibebaskan secara bersyarat dia kabur ke China pada 9 November 1948.

Sial bagi Moekarto. Untuk aksi ini, seperti umumnya operasi rahasia, dia tak diakui oleh Dr. Oetoyo, perwakilan RI di Singapura. Tapi seperti halnya Tony Wen, Moekarto berhasil meloloskan diri lewat Bangkok.

Belakangan seluruh operasi opium RI ini terbongkar ketika Belanda melakukan Agresi Militer II, 19 Desember 1948. NEFIS (Netherlands Expeditionary Forces Intelligence Service), instansi rahasia yang dipimpin Jenderal Van Mook menemukan segepok dokumen.

Disebutkan ada sekitar delapan ton opium yang diselundupkan Indonesia ke Singapura sepanjang Mei-Juli 1948. Berkat dokumen ini, pasukan Jenderal kelahiran Semarang itu berhasil menangkap lima ton opium yang rencananya diselundupkan ke Sumatera menggunakan kapan berbendera Australia.

Namun sampai kasus ini berakhir. Pertanyaan dimana sisa opium tak terjawab. Sebagian memercayai opium yang tersisa dari total 22 ton masih tersimpan di Jakarta dan dipersiapkan Amir Syarifudin sebagai modal ketika RI kembali.

Sebagian lagi yakin, sebagian kecil opium diamankan Sultan Hamengkubuwono IX yang visioner, dan sebagian kecil lagi dibawa serta pasukan yang menyertai Panglima Sudirman gerilya berbulan-bulan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

December 2008
M T W T F S S
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
%d bloggers like this: