it’s about all word’s

Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015

Posted on: January 7, 2009

Judul: Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015; Memperkuat Sinergi ASEAN di Tengah Kompetisi Global
Editor: Sjamsul Arifin, Rizal A. Djaafara, Aida S. Budiman
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Tebal: 338 Halaman

Derasnya paham globalisasi dan kesuksesan integrasi ekonomi Eropa dalam bentul pasar tunggal yang digodok sejak 1950-an sedikit banyak menginspirasi wilayah lain. Asia Tenggara menjadi wilayah yang kemudian mengikuti langkah ini.

Isu integrasi ekonomi ASEAN mulai dipelajari tahun 1997 ketika badai krisis ekonomi global menerpa. Negara-negara anggota ASEAN berharap Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) bisa menjadi fondasi kokoh ketika diwujudkan enam tahun mendatang.

Asean sangat berkepentingan membentuk pakta ekonomi yang kokoh, saling melindung dan bersifat timbal balik karena kawasan ini adalah pasar dan wilayah investasi terbesar dari negara-negara industri.

Tentu saja di luar kepentingan ekonomi, geopolitik Asean kini semakin penting karena menjadi kawasan perimbangan kekuatan Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Rusia dan China.

Satu negara yang bergantung namun terkesan gengsi melakukan pendekatan dalam taraf setara adalah Australia yang berada di utara. Tanpa Asean, Australia akan menjadi benua mini yang terasing.

Tahun 2007, di usia ke-40, 10 negara-negara Asia Tenggara menyepakati Piagam ASEAN dan Cetakbiru ASEAN menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, pada Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-13 di Singapura.

Penandatangan Piagam ASEAN ini akan menandai babak baru ASEAN menuju sebuah organisasi dengan komitmen bersama yang mengikat secara hukum. Sedangkan cetakbiru MEA akan memberikan arah bagi perwujudan ASEAN sebagai sebuah kawasan basis produksi dan pasar tunggal.

Pencapaian MEA ini dilakukan melalui lima pilar, yaitu: aliran bebas dari barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil, dan aliran modal yang lebih bebas.

Upaya mewujudkan ASEAN sebagai kawasan basis produksi dan pasar tunggal ini tentu saja memberikan banyak peluang sekaligus tantangan yang besar bagi Indonesia.

Tak optimistis

Buku setebal 338 halaman ini berusaha memberikan gambaran agenda besar ASEAN di bidang ekonomi dan perdagangan ini. Maklum waktu untuk mewujudkan hal ini termasuk singkat di tengah kendala ekonomi saat ini.

Namun ketiga editor buku ini Sjamsul Arifin, Rizal A. Djaafara dan Aida S. Budiman tak membuat buku ini sebagai referensi yang pesimistis. Sebaliknya buku ini mengajak pembaca belajar dari fakta dan realita.

Semua pihak tahu betul pesoalan mewujudkan MEA justru terletak pada institusi ASEAN yang ada tidak cukup memiliki kewenangan atau otoritas dalam menentukan berbagai kebijakan ekonomi.

Lewat studi kasus Uni Eropa, buku ini berusaha menyampaikan bahwa titik lemah MEA ada pada lemahnya koordinasi lintas sektoral terutama mekanisme fasilitasi perdagangan untuk memperlacar arus barang, mengurangi biaya tinggi serta meningkatkan efisiensi.

Dalam kaitan ini, sektor-sektor utama yang memerlukan pembenahan adalah transportasi dan komunikasi serta bea-cukai. Tanpa pembenahan ketiga sektor ini, upaya pencapaian target 2015 akan terasa amat sulit.

Satu contoh jelas adalah hambatan di sektor jasa yang gagal dipecahkan ASEAN Secretariat yang memang kurang diberi kewenangan dalam pengambilan keputusan untuk mendorong laju integrasi ekonomi.

Namun di tengah rencana besar ini, MEA juga menyimpan kegundahan bagi Indonesia untuk mampu bersaing sederajad dengan anggota ASEAN lain terutama kemampuan SDM Indonesia.

Apakah sudah siap para petani Indonesia untuk bersaing dengan para petani dari Thailand dan Vietnam yang sukses membanjiri pasar domestik dengan produk mereka yang murah dan lebih berkualitas.

Begitu juga industri tekstil Indonesia yang masih megap-megap digempur produk China. Sejauh ini industri tekstil Vietnam, Kamboja, dan Malaysia masih di atas angin.

SDM Indonesia secara umum diakui atau tidak masih tertinggal. Bahkan untuk sumber daya pembantu rumah tangga pun, Indonesia kalah dengan Filipina yang lebih profesional.

Buku ini bisa dengan dingin menganalisis dan menjelaskan apakah Indonesia akan menjadi sekadar penonton atau menjadi pemain yang diperhitungkan negara-negara lain ASEAN. Jelas dari statistik yang disodorkan termasuk menakutkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

January 2009
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d bloggers like this: