it’s about all word’s

Feminisme dan humanisme sosok Rosario Dawson

Posted on: January 8, 2009

“Baik lah. Tak perlu dipikirkan. Sulit bagi pria mengajak kencan gadis yang tengah sekarat!” ujar Emily Posa getir, si penderita gagal jantung kepada Ben, pria misterius yang membuatnya mabuk kepayang.

Namun sang penulis naskah Seven Pounds, Grant Nieporte tak membiarkan kedua insan itu berakhir happy ending.

Ben yang tengah frustasi dan mencoba menebus dosa, mengorbankan jantungnya untuk Posa dan banyak manusia lain yang kurang beruntung di sekelilingnya.

Sutradara Gabriele Muccino menyajikan romantisme dan tragedi berseling-seling. Kualitas akting Will Smith jelas tak usah dibicarakan saat memerankan Ben, namun sosok Rosario Dawson yang memerankan Posa menyimpan sisi unik.

Dilahirkan dari keluarga berdarah campuran Irlandia, Amerika Latin dan Afro-Kuba, menjadikan aktris Hollywood seksi berkulit sawo matang yang satu ini akrab dengan kehidupan serba keras.

Ibunya bernama Isabel, sehari-harinya berprofesi sebagai pekerja pipa, sedangkan sang ayah Greg Dawson adalah pekerja konstruksi kasar.

Beruntung, mereka dikaruniai Rosario Dawson, gadis cantik yang nantinya akan menjelma sebagaii aktris cantik nan eksotis dengan jumlah judul filmnya lebih dari jari kaki dan tangan.

Dawson dilahirkan dari hubungan di luar nikah. Ibunya kala itu masih berusia 17 yang akhirnya menikah saat Dawson sudah berusia setahun.

Dari perjalanan hidupnya yang jauh dari kesan mapan itulah, Dawson berusaha menggapai sukses. Apalagi sejak kecil dia sudah akrab dengan lingkungan keluarga dan teman-teman yang pengidap HIV positif.

Kesuksesannya ditunjukkan dengan sederet prestasi akting di lebih dari 20 judul film. Meski bukan pertamakalinya beradu akting dengan Will Smith dalam film layar lebar, ini menjadi bukti nyata jika aktris yang lahir dari strata keluarga menengah ke bawah bisa juga berprestasi di gemerlap industri film Hollywood.

Di saat banyak aktris dan aktor Hollywood jadi bintang karena keturunan, perempuan kelahiran New York 29 tahun lalu merasa menjadi artis adalah takdirnya.

Kerap tampil di Sesame Street kala masih belia, wajah eksotis Dawson muncul di layar lebar pertamakali lewat film kontroversial berjudul Kids yang menurut sang fotografer pencari bakat Harmony Korine, aktingnya dianggap sempurna.

Sejak saat itu, perempuan yang pernah berpacaran dengan pencetus Sex and the City Jason Lewis, kebagian banyak peran sebagai peran pembantu dalam beberapa judul film.

Sebut saja Rent, He Got Game, Men in Black II, Josie and the Pussycats, serta The Adventure of Pluto Nash yang berhasil menyabet delapan kategori dalam ajang Golden Raspberry Award.

Banyak film “keras” yang pernah diperankannya. Mulai dari Sin City yang memasangnya sebagai pelacur bernama Gail, hingga film garapan Rob Zombie yang sadis dan penuh adegan kekerasan berjudul The Devil’s Rejects.

Aktivis betulan

Namun prestasinya bukan sebatas akting. Bersama Talia Lugacy, teman yang dikenal di Lee Strasberg Academy, Dawson memproduseri sekaligus membintangi Descent, berlanjut kemudian Live Earth pada 2007.
Keterlibatannya dalam film itu tidak jauh dari kehidupan
sehari-harinya.

Mantan pacar bintang Dawson’s Creek Joshua Jackson ini bergabung dalam banyak kelompok sosial. Sejak lama, Dawson bergabung bersama gabungan marjinal bernama Lower East Side Gilrs.

Dia juga banyak terlibat dalam beragam kegiatan pecinta lingkungan seperti Global Cool, One Campaign, International Rescue Committee, Conservation International, National Geographic Society, dan The Nature Conservacy.

Kelompok organisasi dan yayasan keluarga juga menjadi minatnya, termasuk kelompok pendobrak seperti misalnya Families and Friends of Lesbians and Gays, Voto Latino, dan Vagina Monologues.

Bahkan sejak Oktober 2008 dia didaulat menjadi jurubicara sejumlah organisasi mulai dari program filantropi TripAdvisor.com, More Than Footprints, involving Conservation International, dokter tanpa tanpal batas (Doctors Without Borders), National Geographic Society, The
Nature Conservancy, hingga Save The Children.

Saat ini dia juga berkampanye melalui RESPECT!, gerakan melawan kekerasan dalam rumah tangga. Rekaman suaranya bisa didengarkan melalui situs giverespect.org.

Tak heran jika untuk film Seven Pounds ini Rosario bisa menangis betulan ketika membaca naskahnya untuk pertama kali dalam penerbangan ke Los Angeles bersama ibu dan neneknya. Dia mengaku tak berhenti menangis saat dia membacakan akhir ceritanya.

“Aku sangat menyukainya (naskah) dan lalu aku membaca akhirnya…Aku bukan tipe yang suka menangis di tempat umum, waktu itu ku sedang duduk di pesawat bersama banyak orang…Aku jadi cengeng,” ujar Dawson.

Namun Dawson tak perlu malu karena Will Smith pun ikut menangis ketika sesi screening film. Tak hanya mereka berdua kru lain pun melelehkan air mata sebut saja Woody Harrelson, Michael Ealy dan Barry Pepper.

Tak heran Seven Pounds banyak dibicarakan oleh pengamat film. Bahkan situs dokumentasi film terbesar, IMDB memberi nilai 7,5 untuk film ini.

Ajang penghargaan independen bergengsi yaitu Black Reel Award dan Satelite Award bahkan memberi penghargaan bagi film untuk kategori sutradara terbaik, gambar terbaik dan naskah terbaik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

January 2009
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d bloggers like this: