it’s about all word’s

Archie Roach

Posted on: January 11, 2009

Dedikasi di tengah deru industri Asia Putih

Pecinta film Indonesia pekan ini beruntung dapat menyaksikan Two Canoes, sinema Australia dengan segudang penghargaan, termasuk nominasi Film Berbahasa Asing Terbaik Oscar 2007 ini.

Lewat gulungan seluloid berdurasi 92 menit ini, sutradara Rolf de Heer mengajak penonton mengamati kehidupan suku anak dalam Australia di Arnhem Land di masa sebelum invasi kulit puith.

De Heer memang tak membuat film ini membanyol seperti halnya Jamie Uys ketika menyajikan kisah perjalanan Xi dari suku Bushmen, Gurun Kalahari di film The God Must Be Crazy.

Meski menggunakan jasa pencerita (disuarakan David Gulpilil ) Ten Canoes bercerita tentang pejuang suku Yolŋu Matha bernama Dayindi (Jamie Gulpilil) yang berburu telur angsa.

Ada percintaan, budaya saling terkam antar suku hingga tentu saja lanskap Australia yang mistis namun harmonis dengan nilai-nilai budaya tradisional yang belum dicampuri moral agama para pendatang.

Bagi peneliti antroplogi, Aborigin adalah eksotika suku anak dalam seperti halnya Dayak, Papua, Baduy yang bertahan di tengah laju deru mesin industri.

Namun nasib Aborigin jauh lebih sial. Budaya mereka sebagai peramu bukan petani adalah hama bagi gerakan ekstensifikasi industri kulit putih, mereka pun terpinggirkan dan sempat diburu.

Kebijakan operasi koteka di Papua tahun 1970-an ala Acub Zainal mungkin terasa menggelikan dibandingkan kisah dramatis nan traumatis Generasi Tercuri (Stolen Generation) anak-anak Aborigin yang dipaksa menjadi putih di era 1869-1969.

Meski kebijakan itu berhenti, Aborigin sama sialnya dengan Indian. Mereka dimarjinalkan dalam wilayah reservasi. Di luar itu, banyak aborigin berkeleleran di jalanan Australia. Kalau tidak mabuk ya mengemis.

Australia yang dibintangi Nicole Kidman dan Hugh Jackman adalah salah satu film yang mengingatkan dunia perihal nasib Aborigin. Sayang di dunia musik hanya sedikit musisi Australia yang secara konsisten memerjuangkan nasib Aborigin.

Musisi Stolen Generation

Salah satu dari sedikit artis itu adalah musisi blues dan country Archie Roach. Dia asli keturunan Aborigin yang sampai saat ini berjuang tanpa istirahat untuk membuat sukunya berdiri sejajar dengan suku kulit putih.

Pria kelahiran Mooroopna, Victoria tahun 1956 itu bersama partner rumah tangganya yang juga merupakan musisi Ruby Hunter dan penulis lirik Paul Kelly lewat band Altogethers menjadi corong kepdihan masyarakat Aborigin sejak tahun 1980-an.

Album mereka, Charcoal Lane (1992) tak hanya sukses dalam hal penjualan tetapi memberi mereka beberapa gelar a.l. ARIA Awards, Human Rights Achievement Award dan tercatat sebagai 100 rekaman terbaik tahun 1992 versi Majalah Rolling Stones.

Roach tahu betul bagaimana susahnya menjadi suku yang disia-siakan bangsa Australia. Tahun 1956 keluarganya digusur dari Mooroopna ke daerah misi gereja di Rumbularah. Namun keluarga itu menolak dan memilih menetap di Framlingham.

Dia dan adik perempuannya adalah saksi hidup Generasi Tercuri yang harus hidup dengan cara kulit putih di rumah panti asuhan. Belakangan Roach diadopsi keluarga asal Skotlandia bermarga Coxes yang tinggal di Melbourne.

Dalam keluarga Coxes, Roach diperkenalkan pada kibor dan gitar oleh Mary saudara kulit putihnya. Kebetulan Coxes senior penggila musik a.l. Billie Holiday, the Ink Spots, the Drifters dan Nat King Cole.

Namun Roach memilih kabur dengan bermodalkan gitar dia berkelana ke Sydney dan Adelaide. Alkohol adalah rekannya. Beruntung dalam perjalanan itu dia berjumpa perempuan berusia 16 tahun, Ruby Hunter.

Tahun 1980-an keduanya membentuk Altogethers. Paul Kelly melengkapi formasi band balada yang kemudian sering tampil sepanggung dengan musisi dunia a.l. Joan Armatrading, Bob Dylan, Billy Bragg, Tracy Chapman, Suzanne Vega hingga Patti Smith.

Sepanjang karirnya, Roach termasuk irit merilis album setelah Charcoal Lane (1992) yang sukses ada Jamu Dreaming (1993), Looking For Butterboy (1997), Sensual Being (2002) dan Journey (2007)

Namun dalam setiap albumnya selalu ada emosi yang pekat dan membuat pendengarnya terhanyut. Jadi bukan kebetulan jika salah satu film Rolf de Heer, The Tracker pernah mendapat sentuhan musik latar dari Roach.

Kini pasangan Roach and Hunter tinggal di daerah Berri, Australia Selatan. Pintu rumah mereka selalu terbuka bagi para pemuda-pemudi Aborigin yang ingin mengadu.

Kepada Karl Quinn, jurnalis harian terkemuka Australia, The Age, Roach menyatakan di rumahnya, anak-anak jalanan itu tidak dicekoki pemikirannya. “Kami anak jalanan. Kami persilahkan mereka menemukan jalan hidup mereka sendiri!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

January 2009
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d bloggers like this: