it’s about all word’s

Robin Hutagaol: in memoriam

Posted on: January 29, 2009

Duta besar Metal Merah Putih itu telah tiada

Akhir pekan lalu sepasang kakek dan nenek memukau ribuan metalheads dengan teriakan berulang kali, “Hidup Metal…Hidup Metal!!”. Penonton riuh tak sungkan membalas sahutan tersebut, “Hidup Metal!!”.

Kedua pasangan tua renta itu Albert Hutagaol dan Tianggur Rajagukguk, orang tua almarhum Robin Hutagaol, drummer band cadas beraliran grindcore Noxa yang meninggal dunia pada 17 Januari 2008.

Robin, kelahiran 8 September 1973 menjadi korban tabrak lari pada 12 Januari lalu. Dia sempat koma sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir pukul 03.30, 17 Januari.

Hari itu itu atmosfer haru membekap ribuan penonton yang datang ke GOR Outdoor Bulungan, untuk menghadiri konser yang diberi tajuk “United We Care In Loving Memoriam Robin Noxa” yang gelar promoter musik Solucites.

Sejumlah band memastikan tampil a.l. Noxa, Dead Squad, Purgatory, Getah, The Brandals, Thinking Staight, Netral hingga Naif. Semuanya manggung tanpa dibayar. Bahkan band sebesar Koil asal Bandung pun menyesal tak bisa manggung.

“Konser ini sebagai bukti bahwa Robin sangat dicintai dijagat musik independent Indonesia, tidak hanya metal tetapi hampir setiap aliran musik Robin sangat dikenal dan dicintai,” ujar Eben pentolan band metal asal Bandung, Burgerkill.

Hingga akhir konser, berhasil terkumpul dana sekitar Rp53.700.000 yang keseluruhannya diserahkan panitia kepada pihak keluarga Robin.

“Hasil dari penjualan tiket dan lelang nantinya 100% akan kami serahkan kepada pihak istri dan keluarga Robin,” ujar Pungky dari Solucites.

Robin terkenal dengan mobilitasnya di kancah musik metal. Memulai karir di scene musik underground Jakarta sejak 1988 dengan menjadi pemain drum band punk pertama di Indonesia, Antiseptic bersama Lukman (Waiting Room/The Superglad).

Antiseptic kerap memainkan tembang Black Flag, The Misfits, DRI sampai Sex Pistols. Selain manggung di Jakarta, Antiseptic juga menggebrak rockfest legendaris Bandung, Hullabaloo II di akhir 1994. Sayang, album Finally baru rilis pada 1997.

Selain bersama Antiseptic, Robin yang kerap nongkrong di daerah Blok M sempat bergabung dengan Jenazah, Defloration dan ikut membentuk Grausig pada 1992 bersama Yaya Wacked (gitar/vokal), Bay (bass) dan Djorghie (gitar).

Fase Sucker Head
Era 1990-an, Robin menancapkan kuku semakin dalam ke tubuh metal Indonesia ketika menggawangi grup band Sucker Head yang terbentuk dari komunitas Pid Pub pada 1987.

Nama Sucker Head diambil dari tulisan merk dagang sebuah kotak korek api batang cap koin, tulisan aslinya adalah Sakerhets-Tandstickor.

Bagi musik metal Tanah Air, Sucker Head yang terinspirasi pada Kreator adalah bagian dari generasi scene metal. Band ini didirikan Irvan Sembiring (gitar), Krisna J Sadrach (bass), Yaya Wacked (vokal) pada 1989 ditambah Nano (gitar) dan Doddy (drum).

Namun Irvan keluar dari Sucker Head dan membentuk Rotor yang menjadi band pembuka konser fenomenal Metallica selama dua hari berturut-turut di Stadion Lebak Bulus 1993 dan merilis album Behind The 8th Ball (AIRO).

Robin masuk menggantikan posisi drum Sucker Head yang ditinggalkan Doddy dan Alfredo untuk urusan sekolah. Pada 1995 Sucker Head teken kontrak dengan label Aquarius Musikindo untuk album perdana bertajuk The Head Sucker.

Album dengan personil Krisna J. Sadrach (bas/vokal), Nano (gitar), Untung (gitar) dan Robin Hutagaol (drum) mendapat sambutan baik. Maklum setelah Rotor hengkang ke negeri Paman Sam, musik cadas Tanah Air tanpa penguasa.

Album kedua mereka, Manic Depressive (1996) mendapat sambutan sama hangatnya. Sayang pada 1998, saat pembuatan album ke-3, Robin mengundurkan diri dan membentuk Brain The Machine.

Terakhir, pelopor tindik profesional (piercer) itu tercatat sebagai penggebuk drum Noxa yang telah mengeluarkan dua album yaitu Self Titled (2002) dan Grind Viruses tahun lalu.

Namun eksistensi Robin tidak sekadar pada aliran musik metal Indonesia, kiprahnya menjangkau dunia. Beberapa kali dia menghadiri beragam metalfest di berbagai belahan penjuru dunia, entah di benua Asia, Eropa bahkan Amerika.

Beberapa kisah perjalannya itu sempat beberapa kali dia tuangkan dalam tulisan di beberapa majalah musik terkemuka di Indonesia.

Sebagai bukti, akhir Juni 2008, Robin mengharumkan nama Indonesia lewat Noxa di ajang konser metal di Helsinki, Finlandia dan bersanding satu panggung dengan band legenda seperti Slayer dan Kreator.

Konser bertajuk Tuska Metal Fest 2008 tersebut merupakan salah satu konser terbesar di kawasan Skandinavia. Tak heran begitu ada kabar Robin tiada, banyak simpati datang dari seluruh penjuru dunia.

Oleh para pelaku industri musik independen dia diakui sebagai salah satu dari sedikit orang di Indonesia yang sangat percaya kalau musik metal bisa menjadi sandaran hidup.

Buktinya, sejak sepuluh tahun lalu Robin yang dibantu seorang rekannya membuka dan mengelola distro metalshop dan yang diberi nama Ish Kabible yang kini semakin berkembang dengan dibukanya outlet di Plaza Semanggi, Jakarta.

Robin kini telah tiada tetapi perjuangannya untuk membangun musik metal Indonesia tetap akan tertanam di seluruh benak kepala para metalheads, bahkan obsesi Robin untuk membawa band metal Indonesia dikenal di seantero dunia. Selamat jalan kawan!

* Bareng Wahyu Kurniawan

1 Response to "Robin Hutagaol: in memoriam"

selamat jalan kawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

January 2009
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d bloggers like this: