it’s about all word’s

Lhokseumawe memories

Posted on: February 18, 2009

Ketika waktu berhenti di Lhokseumawe

Lhokseumawe adalah miniatur Ibukota Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Sejarahnya yang panjang pernah menempatkan kota ini sebagai pusat jasa perdagangan karena letaknya strategis.

Saya mendapat kesempatan berkunjung ke Utara Aceh ini beberapa waktu lalu. Butuh waktu sekitar satu setengah jam untuk menuju ke tempat itu lewat udara setelah transit dari Medan.

Sayang penerbangan dengan pesawat kecil yang melayani ExxonMobil Oil itu bukan penerbangan umum. Jika tertinggal jadwal, terpaksa Anda harus menempuh enam jam perjalanan darat.

Lhokseumawe kota kecil. Lalu lintas di tempat ini termasuk lengang. Beberapa jejak konflik operasi militer masih tersisa. Keamanan di tempat ini juga belum terjamin. Pentolan GAM, Achmad Blang tak menampik, penculikan kadang masih terjadi.

Namun bagi saya, Lhokseumawe justru tempat yang nyaman. Waktu serasa berhenti. Tak ada keributan dan terburu-buru seperti halnya kota-kota di Jawa yang padat manusia pemburu rejeki.

Walikota Lhokseumawe Munir Usman mulai membangun pusat wisata kuliner, seperti pantai Semadu di Kecamatan Muara Satu atau pantai Ujong Blang di Kota Lhokseumawe.

Lagi-lagi jangan bayangkan Ujong Blang dengan pantai wisata lain. Selain hanya berupa deretan pantai bekas dihajar tsunami, sarana prasarana wisata di tempat in terbatas untuk duduk menikmati jajanan. Sisanya hanya kecipak air.

Topografi Lhokseumawe memang berbentuk daratan yang menjorok ke laut, sisi timur dan baratnya dikelilingi teluk dan arus sungai yang bermuara melalui jembatan Cunda.

Tahun lalu Dinas Perhubungan, Pariwisata dan Kebudayaan Lhokseumawe, hanya mendapat suntikan dana sebesar Rp140 juta untuk tahun 2008. Kabarnya untuk tahun 2009, alokasi malah semakin sedikit, hanya Rp 75 juta.

Jika ingin mengunjungi pantai berpasir putih, Anda bisa melancong ke Ulee Rubek di Desa Ulee Rubek Kec. Seunuddon, 50 km dari kota Lhokseumawe.

Atau jika bosan dengan pantai, bisa juga berkunjung ke pemandian Krueng Sawang. Tempat ini adalah sungai yang airnya sangat jernih penuh dengan bebatuan, tempat ini merupakan pemandian yang ramai dikunjungi wisatawan.

Udaranya yang sejuk, lingkungan yang masih alami, sangat layak dijadikan sebagai lokasi perkemahan. Daerah ini juga dikenal sebagai lokasi perkemahan. Daerah ini juga dikenal sebagai penghasil durian

Ada juga air terjun Blang Kolam di Desa Sidomulyo. Sayang butuh waktu khusus untuk menuju lokasi ini yang kabarnya dipenuhi burung-burung liar

Situs Pasee

Dari seluruh lokasi wiasata, rasanya kurang jika belum berkunjung ke situs kerajaan Samudera Pase. Kerajaan Islam di Aceh Utara itu adalah batu penjuru masuknya Islam ke Nusantara. Pengaruh kerajaan ini bahkan mencapai Asia Tenggara.

Jika menuju tempat ini Anda bisa melanjutkan ke lokasi Pantai Sawang yang terletak di Desa Sawang Kecamatan Samudera.

Matahari sudah tinggi ketika kami berkunjung ke situs Samudera Pase. Sama seperti kondisi Ujong Blang, hanya sepi dan terik matahari yang menyapa kami di tempat itu.

Padahal di situ terdapat makam Malikussaleh, Ratu Nahrisyah dan situs-situs makam petinggi kerajaan serta ulama ternama pada abad ke-13. Kejayaan yang dulu menjulang seakan pupus ditelan waktu.

Makam Malikulssaleh dan putranya Sultan Malikul Dhahir terletak di Gampong Beuringen Kec. Samudera ± 17 km dari Kota.

Tidak jauh dari tempat itu, terdapat makan Ratu Nahrisyah. Pemimpin Kerajaan Samudera Pasai tahun 1416-1428 M. Makamnya terletak di Gampong Kuta Krueng Kecamatan Samudera.

Hanya beberapa langkah ada makam Teungku Peuet Ploh Peuet (44) dikuburkan 44 orang ulama dari Kerajaan Samudera Pasai yang dibunuh karena menentang dan mengharamkan perkawinan raja dengan putri kandungnya.

Lagi-lagi, saya hanya bisa mengatakan sayang karena situs bersejarah ini kurang terawat. Jauh jika dibandingkan kondisi para makam Walisongo.

Usulan wakil rakyat hasil seminar adat dan budaya yang pernah digelar pada 2003 lalu di Aceh Utara untuk membangun monumen Pase juga pembangunan wisata Islami di Blang Kolam rasanya ide yang menarik.

Direncanakan di lokasi itu akan dibangun sejumlah sarana pendukung, seperti, pustaka, rumah Aceh dan perlengkapan dasar, mesjid, gerai-gerai dan lainnya dengan luas 7,5 hektar. Semoga rencana ini segera terlaksana.

Samudra Pasae yang terlupa

Berdasarkan berita Marcopolo pada 1292 dan Ibnu Batutah. Pada 1267 telah berdiri kerajaan Islam pertama di Indonesia, yaitu kerajaan Samudra Pasai. Ini dibuktikan dengan batu nisan makam Sultan Malik Al Saleh raja pertama Samudra Pasai bertahun 1297.

Kesultanan Samudera Pasai, juga dikenal dengan Samudera, Pasai, atau Samudera Darussalam, adalah kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatera, kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe, Aceh Utara sekarang.

Kerajaan Samudra Pasai berdiri sekitar abad 13 oleh Nazimuddin Al Kamil, seorang laksamana laut Mesir. Pada 1283 Pasai dapat ditaklukannnya, kemudian mengangkat Marah Silu menjadi Raja Pasai pertama bergelar Sultan Malik Al Saleh (1285 – 1297).

Makam Nahrasyiah Tri Ibnu Battutah, musafir Islam terkenal asal Maroko, mencatat hal yang sangat berkesan bagi dirinya saat mengunjungi sebuah kerajaan di pesisir pantai timur Sumatera sekitar tahun 1345 Masehi.

Setelah berlayar selama 25 hari dari Barhnakar (Myanmar), Battutah mendarat di sebuah tempat yang sangat subur. Perdagangan di daerah itu sangat maju, ditandai dengan penggunaan mata uang emas.

Pada masa Sultan Malikul Dhahir, Samudera Pasai berkembang menjadi pusat perdagangan internasional. Pelabuhannya diramaikan oleh pedagang Asia, Afrika, Cina, dan Eropa.

Selama abad 13 sampai awal abad 16, Samudera Pasai dikenal sebagai kota di wilayah Selat Malaka dengan bandar pelabuhan tersibuk. Bersamaan dengan Pidie, Pasai menjadi pusat perdagangan internasional dengan lada sebagai salah satu komoditas ekspor utama.

Selain lada komoditas lain a.l. kain sutra, kapur barus, dan emas yang didatangkan dari daerah pedalaman.

Pasai juga menjadi pusat perkembangan Islam di Nusantara. Kebanyakan mubalig Islam yang datang ke Jawa dan daerah lain berasal dari Pasai bahkan terjadi hubungan pernikahan.

Sebut saja Sunan Kalijaga memperistri anak Maulana Ishak, Sultan Pasai. Sunan Gunung Jati alias Fatahillah yang gigih melawan penjajahan Portugis lahir dan besar di Pasai. Laksamana Cheng Ho tercatat juga pernah berkunjung ke Pasai.

Sementara Fatahilah, ulama terkemuka Pasai menikah dengan adik Sultan Trenggono(raja Demak/adik Patih Unus/anak Raden Patah). Fatahilah berhasil merebut Sunda Kelapa (22 Juni 1522) berganti nama menjadi Jayakarta, juga Cirebon dan Banten.

4 Responses to "Lhokseumawe memories"

Sekali-kali main donk ke tempat “Mie Ayah” Namanya, ada mie udang, mie kepiting de el el deh yang penting semua makanannya “mmak nyus” kata Pak Bondan, ada juga tempat lain di kota lhokseumawe dengan menu special super nikmat……………..
nice trip yah ke lhokseumawe moga bisa dateng lagi…………

pecinta kuliner gt loh….

udah pernah ke “Mie Ayah” di bukit rata tempatnya, mak nyuss banget rasanya ga da lawan deh……..
ntar sekalikali dateng yah….rugi ntar kalo ga makan nyang namanya mie udang ma mie kepiting……pokoke mak nyuss deh…

kuliner lovers

nanti jgn lupa juga ke cafee kita ya hbs lebaran udh buka

alamat nya jln. Iskanadar Muda Sp. Hotel Vina Vira Lhokseumawe menunya sama.ada bakso.ada Mie Ayam,Kepiting,Tiram, Udang dan berbagai masaka lainnya bagi anda pecinta makanan kuliner ok………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2009
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  
%d bloggers like this: