it’s about all word’s

Catatan kurator perihal lukisan palsu

Posted on: February 25, 2009

Perihal lukisan palsu*

Baru-baru ini pelukis Srihadi Soedarsono mengabarkan kepada saya bahwa ia menemukan iklan penawaran lukisan di internet. Lukisan berjudul “Penari Kipas”, berukuran 141 x 95 cm.

Lukisan itu diklaim sebagai karya Sri Hadi Sudarsono, dan ditawarkan Rp400 juta disertai sertifikat Studio dan Gallery Lukisan Sri Hadi S, Jl. Buncit Raya 34, kav.18 Jakarta. (Sertifikat terlampir). Srihadi tentu terkejut melihat iklan itu.

“Itu jelas lukisan palsu, bukan lukisan saya”, katanya.

Pemalsu dan penjual lukisan palsu itu memang tidak teliti dan bodoh. Ia menuliskan nama “Srihadi” dengan “Sri Hadi”. Dan “Soedarsono” dengan “Sudarsono”.

Sementara alamat sertifikat yang juga palsu itu nampak disamarkan dengan alamat Srihadhy, pelukis yang lama tinggal di Den Haag sehingga dikenal sebagai “Srihadhy Den Haag”.

Sebuah sebutan yang sekaligus untuk membedakan dengan Srihadi Soedarsono yang tinggal di Bandung, sehingga disebut “Srihadi Bandung”.

Peristiwa di atas merupakan permulaan dari bangkitnya lagi pasar lukisan modern, setelah dalam 2 tahun ini pasar seni lukis diguncang oleh seni lukis kontemporer.

Seusai orang jenuh dan bingung dengan harga seni lukis kontemporer yang bombastis dan ngawur, itu diartikan salah oleh para art dealer maling. Saya yakin, Srihadhy, yang saya kenal jujur, juga dirugikan dengan iklan itu dicatut untuk bisnis kotor.

Menurut pengelola sejumlah biro lelang internasional, pemalsuan lukisan lebih banyak muncul di Indonesia daripada di negara lain membuat lembaga bisnis seni pusing. Mereka meyakini lukisan palsu dalam negeri muncul pada 1950-an.

Syahdan di paruh 1950-an di Jakarta muncul studio seni lukis yang didirikan Tjio Tek Djien. Pencinta dan sekaligus pedagang seni ini mengagas berdirinya studio itu atas saran Presiden Sukarno, yang sedang membina seni rupa Indonesia.

Di studio Tjio, di kawasan Cideng, berkumpul belasan pelukis yang siap bekerja sebagai commissian artist. Dengan bayaran Rp.1000,- per hari mereka diharapkan mampu melukis minimal selembar dalam 10 jam kerja.

Selain dipersilakan berkarya dengan kreasinya sendiri-sendiri, para pelukis itu ditugasi mereproduksi lukisan seniman terkenal Hindia Belanda dan mancanegara.

Lim Wasim, mantan pelukis Istana Presiden Sukarno yang pernah menjadi anggota studio Tjio bercerita dalam studio itu berpraktek belasan pelukis terampil, di antaranya Trubus.

Namun, seperti diceritakan Lim Wasim, para pelukis studio Tjio tidak pernah berhasrat mencipta lukisan palsu. Mereka menandatangani lukisan dengan nama sendiri.

“Semua karya yang dicipta itu sekadar benda komersial. Cuma untuk meramaikan khasanah seni rupa saja”, Wasim menegaskan.

Beratus lukisan itu, selain dipasarkan di Jakarta, didistribusikan lewat Galeri Pandy, milik expatriate James Pandy, mantan guide biro travel internasional Thomas Cook. Ini galeri pertama di Pantai Sanur, Bali, yang oleh Sukarno disarankan sebagai etalase seni rupa modern Indonesia.

Dari sini lukisan-lukisan itu tersebar. Konon, karya repainting yang tadinya diteken Wasim atau Asim, Thoyib, Trubus atau nama samaran lain, usai berputar berkurun tahun, berubah jadi nama pelukis aslinya a.l. Le Mayeur, Auke Sonnega, Kee van Dongen, Romualdo Locatelli, G.P.Adolfs, Jan Sluijter dan sebagainya.

Lantas beredar sebagai lukisan palsu. Lalu, siapa yang menghapus tandatangan asli itu, dan mengganti dalam tandatangan baru? “Mungkin para broker yang kurang-asem,” seru Lim Wasim.

Bagi saya, studio Tjio yang berkiprah pada era 1950-1960-an, tentu hanya kenangan kecil bila dibandingkan gelombang pemalsuan pada 1990-an.

Boom seni lukis pada 1987 yang seru mengakuisisi karya old master, jadi momentum merangsang orang berjiwa kecil jadi pencuri. Occcasio facit furem, orang sono bilang. Dari sini lahir berderet pelukis gelap alias pegel.

Bila 50 tahun lalu yang dipalsukan adalah tandatangan, sekarang yang dipalsukan adalah lukisan, gaya lukisan, plus tandatangannya. Jadi sejak awal penggubahan, lukisan itu memang disiapkan sebagai karya palsu.

Menurut saya, pemalsuan lukisan di Indonesia pada era boom lukisan, meski ada yang mengagumkan dalam sisi duplikasi, sebagian besar boleh dibilang masih bersifat amatir.

Indikasinya nampak dari kualitas pencapaian teknik dan artistik karya-karya palsu, secara sekilas sangat gampang dibedakan.

Meskipun amatirisme ini bisa saja tak gampang terlacak oleh apresian awam, yang kurang mendalami aspek penting dalam melihat keaslian lukisan a.l. aspek artistik, kode-kode, material, karakter, ikonografi, periodisasi sampai historiografi.

Saya memiliki sejumlah contoh kasus. Pada 1995 datanglah seorang broker menawarkan sebuah lukisan yang ia sebut karya Anton (Huang) Kustiawijaya. Lukisan itu bertarikh 1982.

Saya menolak lukisan palsu itu seraya asal berkomentar : “Lukisan Anton tahun 1982 semuanya sudah menggunakan prada emas”.

Selang enam bulan kemudian broker lain datang ke rumah saya. Ia menawarkan lukisan yang sama, sudah dengan prada emas. Padahal Anton yang lahir 1935, meninggal 1984.

Lalu seorang art dealer menawarkan lukisan S. Sudjojono berkode 106 (dalam lingkaran) di atas tandatangan. Si pegel mengira, tulisan 101 di tandatangan Sudjojono adalah nomer urut penciptaan, lalu ada lukisan nomor 102, 105, 106 dll.

Selain lukisannya sendiri jauh dari mirip, si pegel nampak tuna pengetahuan mengenai historiografi pelukis yang karyanya dipalsukan. Goblok dan menggelikan.

Pemalsuan lukisan tentu saja tak cuma di Indonesia. Di Eropa dan Amerika juga terjadi, bahkan tak kurang seru lantaran trick dan metodologi yang dipakai lebih piawai, bahkan menakjubkan.

Masyarakat seni rupa Eropa setelah Perang Dunia II sangat mengenal nama Han van Meegeren. Ia adalah seorang pelukis dan ahli restorasi peniru lukisan Jan Vermeer (1632-1675), seniman asal Delft, Belanda.

Tak cuma pada visualisasi karya Vermeer diimitasi, namun teknik pelapisan cat, pengelolaan pigmen dan formulanya. Sehingga Meegeren, yang di Eropa dijuluki “Master Forger”, memiliki laboratorium khusus untuk peniruan itu.

Namun sepandai-pandainya Meegeren melompat, akhirnya ia jatuh juga di tangan polisi.

Setelah Meegeren, sejumlah pemalsu lain menyempurnakan ilmu pemalsuan. Christian Goller dan Eric Heborn umpamanya, untuk mengelabuhi persoalan timah, segera menggerus timah lonceng-lonceng tua berusia ratusan tahun yang dibeli di toko-toko loak.

Gerusan timah yang isotopnya telah mati itu lantas dimasukkan dalam cairan cat. Formula lukisan pun jadi “kuno”

Christian dan Eric termasuk sukses sebagai pemalsu. Menurut pengakuannya hampir 1000 lukisan bikinannya sudah beredar di Eropa dan Amerika, bahkan konon ada yang masuk museum.

Namun belum sampai mereka pensiun, teknologi baru menangkap mereka. Alat scanning electron microscope yang bisa memperbesar detil lukisan sampai 20.000 menguak kepalsuan pulasan, sapuan dan goresan yang diciptakan.

Sampai di sini, persoalan palsu dan aslinya lukisan tak lagi cuma ditentukan unsur-unsur yang ada dalam bahan.

*Agus Dermawan T,
konsultan biro Christie’s Singapura sejak 1993.

14 Responses to "Catatan kurator perihal lukisan palsu"

boleh tahu alamat dan nomor telp pak agus darmawan T

lukisan asli trubus soedarsono gadis dan pura bali yang hening

membuat setivikat lukisan di mana ya

Mohon ijin mentautkan blog Bpk ke blog saya… Terima kasih.

Terima kasih sudah menampilkan tulisan Mas Agus ini dalam blog anda. Kalau ada infonya, apakah bisa sekalian diksh tau, sumbernya dari mana ya? Apakah dari majalah/media online? Terima kasih
–Amir

sumbernya Bisnis Indonesia…beliau menjadi narasumber laporan kami…terima kasih

Saya mempunyai lukisan Lee Man Fong dengan bahan sutera gambar ikan, lukisan S Soedjojono dengan gambar pemandangan (sayang sudah ada yang rusak). WG Hofker dengan gambar wanita Bali telanjang dada. ( waktu dia mengajar muridnya di Bali ). Lukisan B.Dullah abstrak bunga. Rhyx 1941 gambar hutan. Boleh dites keasliannya dan rencana mau saya jual dan masih banyak lagi. Terimakasih.

Boleh tau kontaknya..kalo original, mungkin saya bisa bantu jualkan..trimss (didit)) telp 0818 276 533

Ada 2 Lukisan Karya RIEN…. By Toro

Saya mempunyai sebuah lukisan perkampungan nelayan dengan tanda tangan “henk ngantung ’63”. Bagaimana saya bs mengetahui keasliannya? Karena saya cukup awam mengenai seni lukisan. Mohon petunjuk bapak dalam hal ini. Terima kasih.

Saya juga punya pertanyaan yang sama, saya punya lukisan dengan tanda tangan “Abdullah ’16”. Bagaimana cara mengetahui keasliannya? dan apabila itu lukisan asli bagaimana cara saya membuat sertifikatnya? terima kasih.

Saya di hadiai teman 3 lukisan karya Srihadi Soedarsono yang ditanda tangani oleh S.Soedarsono. Salah satunya adalah “Pantai Kuta”. Bagaimana mengetahui keasliannya?

Informasi yang sangat bermanfaat… Terima kasih, ijin share ya..

Pertanyaan 1: kalau kebetulan kita “beli” lukisan dari pelukis tapi tidak ada sertifikatnya (toh dia pun tidak menyediakan sertifikat), bagaimana?

Pertanyaan 2: Kalau seseorang dihadiahi satu/beberapa lukisan sebagai tanda mata, sedang secara kebetulan lukisan tsb adalah milik pelukis kenamaan, Seandainya “dijual” umpama dalam lelang resmi berbahayakah posisi orang tersebut?

Boleh saya minta nomor Bapak Agus Dermawan T? Trima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2009
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  
%d bloggers like this: