it’s about all word’s

Jejak Eropa di Penang

Posted on: February 25, 2009

Menyusuri jejak Eropa di Penang*

Ada adagium yang mengatakan bahwa negara yang dijajah Inggris akan lebih maju dari pada negara yang dijajah Belanda. Jika itu benar, maka dari tempat inilah kisah kemajuan Malaysia maupun Asia Timur dimulai.

Terletak di pintu masuk Selat Malaka dari arah utara, Pulau Penang ditemukan Inggris sebagai pintu masuk untuk melakukan penetrasi ke kawasan Malaka serta negara-negara Asia Timur lainnya.

Penang mulai dibangun menjadi pusat perekonomian oleh seorang berkebangsaan Inggris, Francis Light pada 1786 sebagai pos perdagangan Inggris yang kali pertama di kawasan Asia Timur.

Sebagai wilayah yang menyandang predikat strategis, Penang pada abad ke 18 berada pada posisi terdepan bagi berjalannya perekonomian di kawasan Malaka. Berbagai komoditas penting yang berasal dari kawasan sekitar Selat Malaka ditransaksikan melalui pulau ini.

Praktis, kondisi ini menjadikan Penang sebagai kota tersibuk di kawasan Selat Malaka. Penang yang sebelumnya hanya dihuni oleh warga yang berkebangsaan Melayu, lambat laun pulau ini juga dihuni oleh warga bangsa lainnya.

Warga negara India, China, Thailand, Birma, hingga keturunan Yahudi tercatat sebagai imigran yang menjajal peruntungan di pulau yang terletak di sebelah barat Semenanjung Malaka ini.

Semisal warga India, mereka masuk Penang untuk menjadi pekerja kasar, yaitu pengerat getah karet. Sementara warga dari China berimigrasi ke pulau ini untuk menjadi penambang timah serta pedagang. Sedangkan warga berkebangsaan Melayu lebih banyak menduduki posisi aristokrat di pulau ini.

Kendati Inggris sudah hengkang dari Penang, namun jejak negara kolonial itu hingga kini masih terasa kental. Tak hanya terlihat dari sisa-sisa bangunan tua yang banyak didirikan pada abad 18 lalu, namun juga struktur sosial yang unik, yang terbentuk di tempat ini.

Menurut Abdullah, seorang pemandu yang sempat mengantarkan saya berkeliling di pulau tersebut, masyarakat Penang terbagi dalam tiga strata.

Level paling atas ditempati oleh masyarakat keturunan Melayu, level kedua adalah masyarakat keturunan Cina, dan level ketiga adalah keturunan India yang bekerja sebagai tenaga kasar.

“Kalau tenaga kerja Indonesia, itu masih bingung mau dimasukkan ke level yang mana, ha..ha..,” guraunya dengan logat kental Melayu.

Terlepas dari kompleksitas sosial-kultural yang ada, Pulau Penang menawarkan banyak situs yang bisa didatangi oleh para wisatawan.

Salah satunya adalah benteng Fort Cornwallis yang dibangun oleh Sir Francis Light pada 1786 setelah sukses merebut wilayah ini dari Sultan Kedah.

Fort Cornwallis dibangun sebagai pertahanan menghadapi serangan tentara Perancis dan kawanan perompak yang mengganggu kekuasaan Inggris di wilayah ini.

Hingga sekarang, benteng yang terbuat dari batu bata ini masih bisa dinikmati oleh pengunjung. Di dalamnya tersimpan sejumlah peralatan perang yang banyak dipakai tentara Inggris pada abad 18-19. Selain bubuk mesiu, peninggalan yang tersisa dalam benteng ini adalah meriam buatan Belanda yang berlogo VOC.

Di George Town, pusat kota Pulau Penang, masih menyisakan begitu banyak bangunan tua yang semuanya masih dalam kondisi terawat. Bahkan, bangunan-bangunan itu tetap digunakan sebagai perkantoran.

Gedung-gedug itu rata-rata dibangun pada abad 19. Seperti halnya gedung Standard Chartered Bank yang mulai beroperasi pada 1875, HSBC pada 1885, serta ABN-AMRO (sekarang Royal bank of Scotland/ RBS) pada 1888.

Selain itu juga terdapat Eastern & Oriental Hotel yang dibangun pada 1885 oleh Sarkies bersaudara, yang disebut-sebut sejajar dengan Hotel Raffles di Singapura.

Dan yang paling penting, sebagai salah satu tonggak Inggris pernah menguasai wilayah Asia Tenggara adalah berdirinya Gereja Kristen Anglican St George yang dibangun pada 1816.

Gereja ini merupakan gereja Kristen Anglican tertua yang dibangun di kawasan Asia Tenggara.

Tua nan terawat

Berbeda dengan kawasan kota tua di utara Jakarta, bangunan kota tua di Penang rata-rata dalam kondisi yang masih asli dan cukup terawat. Arsitektur dengan gaya kolonial Inggris sangat mencolok di antara deretan gedung-gedung tua.

Dengan bermodal bangunan peninggalan kolonial inilah, pemerintah Malaysia belakangan ini mengusulkan kepada UNESCO agar Pulau Penang dijadikan sebagai cagar budaya.

Setelah berputar-putar di kawasan kota tua, saatnya menyinggahi sejumlah wisata budaya dan religi. Sebagai kota yang dihuni bermacam etnis, Penang juga dijejali oleh bangunan-bangunan tempat ibadah. Mulai masjid, kuil Hindu, maupun kuil Budha.

Seperti yang terdapat di Jalan Burmah, terdapat dua kuil dari komunitas Budha yang berbeda, yaitu Thailand dan Burma.

Komunitas Budha Thailand mendirikan kuil Wat Chaiya Mangkalaram, sedangkan pemeluk Budha dari Burma memiliki kuil Dhammikarama Burmese Buddhist Temple. Kedua kuil ini berdiri berhadapan antara satu dengan yang lain.

Bedanya, Kuil Dhammikarama mempunyai ciri khas pada atapnya yang terukir apik, khas negara tersebut. Di dalamnya juga terdapat patung-patung Budha yang berdiri berjajar.

Sementara itu kuil Wat Chaiya di dalamnya terdapat patung Budha sepanjang 33 meter dengan posisi tidur. Permukaan patung ini sebagian besar dilapisi emas.

Jangan lupa pula bahwa di Penang juga terdapat komunitas warga India dengan segala keunikannya. Saya sempat menjelajah di pelosok Little India alias perkampungan warga-warga India.

Toko-toko kelontong, rumah makan vegetarian, PKL penjual kembang untuk upacara plus kaset berisi puji-pujian untuk dewa bertebaran di sana-sini.

Kemudian layaknya masjid yang berdiri di setiap pojok kampung di Jakarta, kuil-kuil Hindu begitu mudah dijumpai di perkampungan India itu.

Di perkampungan ini juga terdapat sejumlah klinik praktik pengobatan mistik. Saya lantas iseng memasuki salah satu klinik itu, dan ternyata tabib yang membuka klinik pengobatan itu menggunakan mantra-mantra berbahasa Arab. Ya, mereka adalah bagian dari warga India muslim.

Eksistensi komunitas warga India muslim terlihat dari berdirinya masjid Kapitan Keling yang tidak jauh dari perkampungan India. Masjid yang didirikan pada 1801 ini dibangun oleh pendatang India muslim yang mulai menetap pada awal abad 19.

Kendati Pulau Penang tak lebih besar dari Jakarta, bukan berarti untuk menikmati keunikan pulau ini cukup hanya sehari-dua hari. Waktu yang cukup memungkinkan Anda benar-benar merasakan eksotisme kota yang dianggap sebagai gerbang kemajuan di Asia Timur ini.

pikat Hollywood

Penang memang bertabur bangunan tua dengan beragam arsitektur, mulai gaya kolonial Eropa hingga gaya Asia Timur.

Banyaknya bangunan tua ini menarik sejumlah produser membikin filmnya di daerah ini. Sebut saja film Anna and The King yang berseting pemerintahan Raja Mongkut, Thailand, ternyata pengambilan gambarnya dilakukan di Pulau Penang.

Selain itu film Prancis, Indochine yang berlatar belakang ibukota Saigon, Vietnam era ’30-an juga memanfaatkan landskap pulai ini sebagai tempat syutingnya.

Sejak 2000 lalu pemerintah Malaysia mengajukan Penang sebagai salah satu situs warisan dunia yang dilindungi UNESCO. Dan pada Juli 2008 lembaga pendidikan dan kebudayaan PBB ini menetapkan George Town sebagai situs warisan dunia dengan titel : Kota Sejarah Selat Malaka.

Kota tua yang telah berdiri sejak 500 tahun lalu ini merupakan pusat perdagangan dan pertukaran komoditas antara dunia timur dan barat. Pengaruh budaya timur dan barat sangat terasa pada kota ini.

Bentuk bangunan yang bercorak Eropa, kemudian India, China, serta model eklektik yang memadukan corak bangunan yang ada, dengan gampang dijumpai di hampir setiap sudut pulau.

Banyaknya sisa-sisa peninggalan kolonial dan pra-kolonial sampai-sampai membuat pemerintah Malaysia mengklain George Town (serta Malaka) tidak mempunyai bandingan di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara.

*Bambang P. Jatmiko

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2009
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  
%d bloggers like this: