it’s about all word’s

Geliat balap Tanah Air

Posted on: March 5, 2009

Sebagai sebuah siklus, sport racing di Tanah Air memiliki rentang waktu terlalu panjang. Tahun 1970-an di balap motokros ada Popo Hartopo yang malang melintang bersama tim Yamaha.

Sayang anak Bandung itu usai gagal menuai prestasi di Malaysia, menurut rekan satu tim, Noesanto, Popo tewas di luar sirkuit. Dunia motokros Tanah Air pun tidur panjang.

Dari ajang balap motor ber-cc besar atau Grand Prix, Indonesia ada Saksono Sosro Atmojo yang meraih runner-up di Zandvoort, Belanda. Sayang tikungan maut di sirkuit Zilge menamatkan pembalap muda Merah Putih itu pada 12 Agustus 1972.

Setelah itu balapan Indonesia tak bersuara. Kalau pun ada paling hanya seputar balapan liar. Soal prestasi saat ini? Nanti dulu. Bahkan di Asia pun hanya bisa dihitung dengan jari.

Baru tampak segelintir pembalap seperti Hannu Malherbe, Farhan Hendro, Denny Orlando, atau Aldi Lazaroni yang bersinar di tingkat Asia.

Hannu menyabet juara tiga Kejuaraan Motokros Asia FIM UAM Motokros, Puerto Princessa, Filipina, 2007. Sementara Asep Hendro juara International Supercross 2008 di Selandia Baru.

Minimnya daya saing pembalap Tanah Air di tingkat Asia membuat miris dua dedengkot dunia balap. Kroser senior Johnny Pranata dan mantan pembalap tim Suzuki Asep Yusuf Hendra angkat bicara.

Bagi Asep minimnya regenerasi pembalap sejak usia dini menghadirkan masalah tersendiri. Bibit-bibit bagus tidak datang dengan sendirinya, perlu penggemblengan khusus dan dukungan dari banyak pihak.

“Idealnya, anak yang memiliki hasrat membalap dilatih sejak usia 7 tahun.”

Sementara, Johnny yang dijuluki Si Kucing melihat kurang meratanya komunitas balap di penjuru Tanah Air sebagai penyebab keringnya prestasi balap Indonesia di tingkat regional. Komunitas balap kebanyakan memang tersebar di Pulau Jawa.

Terbatasnya sarana berkumpul menyebabkan pembalap daerah kurang terasah sehingga jurang prestasi terjadi.

“Komunitas balap kurang banyak sehingga persaingan antarpembalap kurang ketat. Makanya banyak pembalap yang belum mencapai prestasi puncak tapi sudah dapat sponsor. Akhirnya mereka terlena.”

Sekolah bagi pembalap disebut sebagai salah satu solusi bagi masalah ini. Belakangan, muncul satu lagi tempat penggemblengan pembalap, IMI Racing Academy yang dibentuk Pengurus Pusat Ikatan Motor Indonesia (PP IMI).

Menurut Oke D. Junjunan, Direktur Program IMI Racing Academy, sekolah dengan modal Rp10 miliar ini diampu para ahli. Johnny Pranata untuk motokros, Moreno Soeprapto pada touring car, karting oleh Nicky Tjohnnadi, dan road racing dipimpin Eddy Saputra.

Menurut mantan juara nasional junior motokros untuk masa datang akademi ini juga digelar di daerah-daerah bekerjasama dengan Pengda IMI.

Harapan Oke soal road race disambut oleh daerah. Sebut saja kakak beradik Irwan Ardiansyah dan Hendriansyah yang menekuni pembinaan pembalap motocross dan road race.

Dengan modal Rp200 juta Irwan mendirikan sekolahnya menyatu dengan bengkelnya PP Malela di Jl Parangtritis Km 4,5 Yogyakarta. Saat ini ada 12 orang yang berguru pada Irwan yang dibantu Teddy Ariwibowo, asistennya dan mekanik Dodix.

Pembinaan yang menjangkau daerah disambut gembira Asep dan Johnny. Khusus Asep, bos tim road race AHRS yang malang melintang di Tanah Air melihat pembinaan pembalap road race masih kurang

“Sejak dua tahun lalu pelatihan motokros itu leading [lebih maju]. Anak 5-6 tahun sudah memegang yang 50-60 cc.”

Johnny menuturkan sejauh ini jumlah peserta motokros dibatasi. Hanya 21 anak didik, padahal minat banyak berdatangan dari daerah agar jumlah peserta ditambah.

Para peserta tadi diwajibkan membayar uang pelatihan Rp2 juta-Rp4 juta per bulan untuk kelas pemula hingga menengah di kelas 50 cc-125 cc. Mereka berlatih 3-4 kali dalam sepekan di sirkuit Pondok Cabe, Jakarta. Peminat bertambah, per 7 Maret akan dibuka tempat latihan tambahan di Sentul, Jawa Barat.

“Sejauh ini syarat untuk masuk ya punya motor dan peralatan sendiri. Tempat tinggal di Jakarta mereka juga harus ada karena kami belum bisa menyediakannya,” ujar Johnny selaku Managing Director motokros IMI Racing Academy.

Menurutnya, biaya yang harus dikeluarkan para orang tua untuk membiayai pendidikan balap anaknya sepadan. Mengingat tingginya frekuensi latihan dan penggembelengan yang dilakukan instruktur.

Peserta yang ambil bagian berusia antara 5-17 tahun. Kebanyakan mereka berada di dalam kisaran usia 8-11 tahun.

“Hasil dipetik tergantung kemampuan dan bakat mereka. Kami berharap mereka main bagus di target terdekat, yakni di negara Asean,” tutur mantan kroser di tim Suzuki dan Yamaha era 1980-an itu bersemangat.

Sekolah serius

“Akademi ini bukan main-main. Tujuan kami adalah pembibitan, demi membentuk pebalap yang profesional, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujar Moreno.

Demi sekolah ini, Moreno menyumbang 4 unit Honda Jazz yang sudah berspesifikasi balap sesuai dengan regulasi di Indonesia. Perlengkapan balap pun disediakan, seperti helm, wearpack, dan lainnya.

Tidak sedikit dana yang digelontorkan. Moreno mengatakan angka Rp5 miliar pun belum bisa menutupi semua itu.

Penggunaan kata Academy bukan tanpa alasan karena adanya legitimasi dari Departemen Pendidikan Nasional. Lulusan berhak atas ijazah yang diakui.

Putra Tinton Soeprapto itu mengatakan fokus di IMI Racing Academy adalah
menempa siswa dalam 6 hari, agar bisa siap sebagai pebalap pemula. Kelas yang diajarkan terdiri dari dua yakni basic dan advance.

“Selain itu, ada satu lagi yaitu race day yang lebih ke sosialisasi ke masyarakat umum atau hobi. Kegiatan ini hanya dilakukan satu hari,” ujarnya.

Biaya yang ditawarkan pun diklaim cukup murah, yaitu Rp3,5 juta untuk race day, Rp12 juta kelas basic, dan Rp16 juta advance.

Moreno meyakini harga tersebut sangat kompetitif, apalagi IMI Racing Academy adalah satu-satunya sekolap balap yang memberikan paket lengkap: mobil, peralatan, serta jalur legitimasi.

Begitu lulus, siswa akan disalurkan ke tim balap touring car yang ada di Indonesia. Bahkan, ada beberapa siswa angkatan pertama akademi ini yang sudah dilirik salah satu tim untuk turun di Kejurnas.

“Tim tidak seperti membeli kucing dalam karung, karena siswa kami memiliki track record yang jelas selama pendidikan. Di angkatan pertama ada empat orang, semuanya masih berumur 16 tahun. Dari mereka ada beberapa yang sudah dilirik tim,” katanya.

Empat siswa tersebut, lanjutnya, merupakan pelajar di salah satu sekolah mewah di Ibu Kota. Ke depannya, Moreno ingin bekerja sama dengan institusi pendidikan lainnya agar IMI Racing Academy bisa masuk di kalender ekstrakurikuler.

Sayang untuk menjadi pembalap mumpuni yang bisa bersaing ke tingkat regional atau internasional IMI Racing Academy masih jauh. Oke mengakui, prosesnya masih panjang sebab yang dididik untuk sekolah balap seharusnya juga mekanik.

Satu contoh adalah keputusan Bos U Mild Yasin Tofani Sadikin, sponsor U Mild AHRS sampai mendatangkan duet mekanik Kenz Sport Jepang, Toshio Fujisawa dan Kenzaburo Kawashima untuk mendampingi pembalap supersport M. Fadli.

Bahkan April mendatang, F Fadli akan disekolahkan ke Superbike School d Jerez, Spanyol. Eddy Saputra bos road racing IMI Racing Academy akan ikut dalam sepekan pelatihan tersebut.

* kerja bareng Noerma Komalasari, Raydion Subiantoro, Jumali Harian Jogja

1 Response to "Geliat balap Tanah Air"

Kapan nich IMI ACADEMY BALAP datang ke UNIVERSITAS STIE MUHAMMADIYYAH CILACAP,jawa tengah.Saya pngen gabung…?terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

March 2009
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
%d bloggers like this: