it’s about all word’s

Tetirah ke Manila yang cantik

Posted on: March 5, 2009

Beberapa waktu lalu saya mendapat kesempatan berkunjung ke Manila atas undangan PT Astra Honda Motor (AHM). Jelas ini undangan yang sangat menarik. Beberapa sahabat ketika belajar di Curtin University of Technology adalah warga Manila.

Manila atau Maynila dalam bahasa Filipino adalah ibukota dari Filipina. Kota ini terletak di tepi timur Teluk Manila di Luson, pulau terbesar di utara Filipina tempat kekuatan Paman Sam sempat bertengger.

Selama setengah abad Manila terikat perjanjian keamanan dengan Washington dalam bentuk penyediaan pangkalan udara AS, Clark, dan pangkalan angkatan laut AS, Subic.

Pada penghujung 1991 perjanjian tersebut berakhir seiring dengan ketidaksetujuan Senat Filipina untuk memperpanjang perjanjian. Tak heran pesanan kaos militer bertuliskan dua tempat itu paling dicari sekaligus susah ditemukan.

Seperti pulang kampung! Itu kesan pertama ketika di pesawat dan mendarat di Bandara Ninoy Aquino. Maklum rombongan kami dipenuhi tenaga kerja asal Filipina yang pulang kampung untuk merayakan Natal.

Selain itu wajah dan perawakan orang Filipina tak beda dengan saya. Ngobrol pun mudah karena semua orang Filipina rata-rata lancar bahasa Inggris. Beberapa patah kata Tagalog yang sempat saya ucapkan efektif mencairkan suasana.

Kondisi jalan raya dari bandara menuju metropolitan Manila termasuk lancar. Kondisi Manila hanya beda tipis dengan Jakarta, tak terlalu superior sehingga membuat minder layaknya Singapura.

Meski demikian pemerintah Filipina memiliki kemauan menimbulkan kebersihan sebagai budaya. Tong-tong sampah terawat bertebaran di sepanjang jalan raya dan berbagai pusat keramaian-seperti mal, restoran dan tempat hiburan.

Kota Manila sendiri terletak di daerah rawa-rawa dan di atas genting tanah yang dilingkari anak-anak sungai, khususnya San Juan dan Marikina. Pusat daratan bagian utara Manila panjangnya sekitar 174 km (109 mil) dan luasnya 66 km (41 mil)

Tidak heran ada kepercayaan, Manila berawal dari sebuah pemukiman muslim di mulut Sungai Pasig sepanjang pesisir Teluk Manila. Nama manila berasal dari kata may nilad atau.

Nilad adalah tanaman bakau berbunga putih yang tumbuh di daerah itu. Sedangkan may berarti kata petunjuk ada, may nilad artinya ada nilad.

Berbekal panorama alam tersebut, pemerintah Filipina menjual keindahan tersebut sebagai daya tarik mendatangkan wisatawan manca negara.

Kalau Jakarta punya Kota Tua, Manila memiliki Intramuros yang berisi Manila Catedral yang dibangun tahun 1581, ada kubu pertahanan kota Fort Santiago. Untuk berkeliling bisa menggunakan jeepney atau angkot berbentuk jeep panjang.

Ada juga makam peringatan tentara AS korban Perang Dunia II, Istana Malacanang, Taman Jose Rizal, Gereja San Agustin, kawasan Pecinaan termasuk suasana kehidupan malam di Makati.

Jika suka sejarah dan sempat bisa mampir ke Ayala Museum di daerah Ayala Makati City.

Jika gemar membauu udara pantai dan bermain pasir, ada 4 lokasi wisata bahari yang layak dikunjungi yakni Boracay (Panay), Anilao (Batagas), Puerto Galera (Mindoro), Bohol dan Dumagueta City (Negros Oriental).

Cuci mata dan belanja

Namun seperti umumnya orang Indonesia yang gemar belanja Anda bisa berkunjung ke sejumlah mal besar a.l. Landmark, Glorietta, SM Makati, Greebelt, Ayala Center dan Robinsons Departmen Store.

Tidak seperti di Indonesia, di Manila demi memberi waktu bagi pelancong berbelanja banyak mal yang membuka belanja larut malam (midnite sale). Soal keamanan, dijamin.

Hanya saja jangan kecewa harga dan kualitas di Filipina masih di bawah atau sama dengan Jakarta, tapi khusus oleh-oleh khas Filipina bisa belanja di toko Kultura, di SM Makati yang sering menjadi rujukan belanja pelancong berkantong pas-pasan.

Toh wisatawan yang hilir-mudik di mal-mal adalah mereka yang berkulit kuning alias dari Korea Selatan, Jepang, Hong Kong dan Cina. Sebagian kecil saja yang berkulit sawo matang dari Indonesia dan Malaysia.

Soal pengamanan sudah standar. Sama seperti di Indonesia padahal di dalam mal umumnya tersedia konter penjualan senjata api. Asal punya uang, Anda bisa membeli pistol dan sejumlah peluru.

Pistol berbagai kaliber bahkan senapan laras pendek bisa Anda beli dan ditenteng seperti beli kerupuk karena Filipina menganut kebebasan membela diri seperti halnya Paman Sam.

Jadi khusus bagi pria, hati-hati saja kalau cuci mata. Jika melirik para magandang babay (perempuan cantik) Manila yang berparas rata-rata putih seperti gadis Manado. Salah-salah bisa berujung kepul mesiu.

Kewaspadaan wajib dipertinggi jika melancong malam di daerah Pasay City, Manila yang serupa daerah Kota Jakarta. Meski terkenal sebagai kawasan lampu merah. Jangan sembarangan main colek atau jahil bersuit-suit. Lebih baik duduk tenang sembari bernyanyi atau menegak San Miguel.

Berdempetan di Jeepney

Jakarta dan Mumbai boleh menyebut diri kosmopolitan tapi soal kendaraan yang jadi ikon kedua kota tersebut sama yakni bajaj. Raungan dan kepulannya asapnya sama seramnya dengan melintasnya Harley Davidson.

Manila dan kota-kota di Filipina pada umumnya memiliki sarana umum jeepney, modifikasi keterlaluan dari jip Willys yang hanya bisa ditemukan di Tahiland dengan nama Tuk Tuk.

Bagi saya jeepney sama uniknya dengan angkot khas Nabire, kendaraan double kabin (D-Cab) yang di Jakarta jadi lambang machoisme dengan seenaknya di bak belakangnya ditambahi bangku kayu.

Naik jeepney juga sama serunya dengan angkot di Padang yang keren mengilap dan dilengkapi sound system berdentum-dentum bagai kios musik berjalan.

Serupa dengan hal itu, jeepney adalah jeep Willys peninggalan tentara AS pasca Perang Dunia II yang sebetulnya macho itu dimodifikasi bahkan dipaksa lebih bongsor karena bodinya disambung agar bisa menampung penumpang lebih.

Tidak cukup itu, sekujur tubuh jeepney yang terbuat dari aluminium dan kaca depannya dipergenit dengan aksesoris. Mulai dari citra Yesus, Bunda Maria plus pesan-pesan religius.

Di luar ciri khas religius para supir jeepney yang didominasi umat Katolik Roma, banyak pula jeepney yang dipenuhi ‘tato’ kartun, wajah perempuan cantik, hingga idiom-idiom khas Tagalog.

Tak mau kalah dengan modifikasi Vespa ala Marlon Brando, moncong jeepney umumnya dipasang banyak lampu.

Soal konfigurasi tempat duduk jeepney serupa angkot di Jakarta namun lebih nyaman dibandingkan oplet atau bemo yang sempit. Maklum dengan bodi bongsor, satu jeepney sampai bisa muat 16 orang! Kesamaannya dijamin empet-empetan.

Urusan bayar membayar. Selamat bagi yang duduk persis di belakang sopir. Seab harus menjadi perantara ongkos kepada pengemudi jeepney atau uang kembalian ke penumpang secara estafet. Jangan lupa ucapkan selamat po (terima kasih) kepada penumpang di depan Anda.

Menumpang jeepney sama serunya dengan sarana angkotan umum di Indonesia. Ngetem sembarang dan nylonong sembarangan dengan bel berbunyi tat-tet-tot seenaknya. Mabuhay!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

March 2009
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
%d bloggers like this: