it’s about all word’s

Jean Jacques Kusni

Posted on: March 14, 2009

Jabat tangan ala Kusni

Tragedi Gerakan 30 September 1965 yang dipercaya dilakukan PKI telah lama berlalu. Banyak pelaku sejarahnya sudah menjadi tulang belulang. Namun luka sejarah sulit dihapuskan.

Sebut saja perseteruan abadi para sastrawan Lekra dan Manikebu. Meski umur sudah uzur, ego kedua pihak yang pernah bertarung itu masih kerap membuncah setiap kali keduanya bertemu.

Salah satu pentolan Lekra yang kemudian menyodorkan pipa perdamaian total kepada sastrawan Manikebu adalah Jean Jacques Kusni. Kepada Taufik Ismail yang meradang mengebu-gebu, Kusni menawarkan jabat tangan perdamaian setulusnya.

“Perseteruan Lekra dan Manikebu rasanya sudah lama harus dikubur. Semoga Taufik Ismail dan rekan yang lain mau berjabat tangan dan kembali membangun sastra Indonesia bersama-sama,” ujar Kusni kepada peserta narasi angkatan VI, beberapa waktu lalu.

J.J Kusni atau Kusni Sulang adalah seorang penyair, essais sekaligus penulis naskah pementasan yang sangat produktif. Keterlibatan mantan jebolan UGM ini dengan Lekra yang berujung pada pencekalan tidak membuatnya berhenti berkarya.

Justru pria kelahiran Kalimantan ini menjadi warga dunia yang komopolitan setelah pemerintah Indonesia pasca konflik 1965 mencabut kewarganegaraannya ketika berada Shanghai, China.

J.J Kusni atau J.J. Budhisaswati, nama penanya lahir di Kasongan, Kalimantan Tengah pada 25 September 1940 itu kemudian menyelusup ke Paris lewat Jerman Barat.

Di Paris jalan hidup Kusni tidak mudah. Dari menjadi supir truk, pelayan toko, sampai membuka restoran Indonesia. Semua dijalaninya dengan penuh ketegaran dan semangat hidup yang luar biasa.

“Jangan pernah mengaku revolusioner kalau soal kehilangan visa atau paspor mati mengeluh! Apalagi kalau sekadar perut kosong! Berpikir!,” ujar suami dari Andriani Salam JK itu.

Seluruh kesulitan itu ternyata membentuk Kusni menjadi pribadi yang tangguh sekaligus memiliki pengetahuan yang unik dan membuatnya dipercaya memberikan kuliah dan seminar di tingkal nasional maupun internasional.

Sebut saja Prancis, China, USA, Vietnam, Jepang, Australia, Malaysia, Indonesia dan masih banyak negara lainnya yang pernah mengundangnya berbicara.

Sebagai seorang penulis, Kusni mengaku selalu lapar ilmu pengetahuan. Di sela-sela mengarungi kehidupan dia belajar di Maîtrise: Economic Developement of l’Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (l’EHESS), Sorbonne, Paris, Prancis

Dari l’EHESS dia juga meraih gelar master antropologi dan doktor sejarah. Sementara ilmu hukum internasional diperolehnya dari New South Wales University, Sydney Australia.

Sebagai penulis dan esais yang dibekali banyak kemampuan menulis ekademik Kusni banyak melakukan penelitian tentang masalah-masalah budaya suku Dayak dan HAM di Tanah Air.

4 Responses to "Jean Jacques Kusni"

Salam, bung

Baru menemukan dan membaca tulisan tentang diri saya. Ada beberapa koreksi sebagai bahan verifikasi:

Koreksi untuk kalimat “J.J Kusni atau J.J. Budhisaswati, nama penanya….” Nama pena saya adalah Magusig O Bungai. Beberapa situs secara kurang tepat mencantumkan kalimat tersebut.

Tulisan bung ‘memabukkan’. Saya hanyalah “a pure dreamer dan pengembara 5 benua yang miskin” seperti yang selalu saya katakan pada istri saya, Andriani S. Kusni.

Koreksi kedua, saya tak mengatasnamakan LEKRA dalam hal perdamaian total dengan bung Taufik Ismail. Diskusi di TUK, hasil mediasi Andriani S. Kusni dengan mas GM dan bung TI melalui Andi Makmur Makka, pimpinan The Habibie Center, adalah kegiatan peluncuran buku saya berjudul MENOLEH SILAM MELIRIK ESOK dimana dalam buku itu saya merespon poin-poin yang ditulis Taufik Ismail dalam Prahara Budaya. Sayang sekali banyak hadirin belum membaca buku saya saat diskusi berlangsung sehingga berintepretasi bahwa dalam kegiatan tersebut, saya mengatasnamakan LEKRA.

Dengan ini saya meluruskan beberapa poin dari tulisan bung sekaligus menyodorkan salam kenal juga untuk bung.

Terima kasih.

JJ. Kusni
http://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

mas, aku masih istrimu lho
hukum prancis masih melindunginya
kalau mau korek mestinya namaku yang kau sebut sebagai istri
dan kalau mas merasa punya lebih dari satu istri, sebaiknya semua nama kau cantumkan
ini baru fair dan tidak menimbulkan rasa ketidak adilan seperti yang sering mas tuliskan

budhisatwati kusni

ok

terima kasih pak

semoga restoran laris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

March 2009
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
%d bloggers like this: