it’s about all word’s

Don’t be a politician

Posted on: April 5, 2009

Judul: Kalau Mau Bahagia, Jangan Jadi Politisi!
Penulis: Arvan Pradiansyah
Tebal: 126 Halaman
Terbitan: Penerbit Mizan, Maret 2009

Akhir pekan lalu, Arvan Pradiansyah yang suaranya biasa mengudara di talkshow Smart Happiness yang disiarkan di Smart FM Network setiap Jumat pukul 07.00-08.00 WIB berjanji menemui saya.

Jelas ini sesuatu yang tidak boleh dilewatkan. Maklum setiap menjelang akhir bulan saya bertugas mengejar Arvan untuk menulis kolom motivasi, apalagi dalam pertemuan itu Arvan akan membagikan buku terbarunya yang dia sebut “Pasti seru!”

Ternyata memang betul dari judulnya saja sudah provokatif: Kalau Mau Bahagia, Jangan Jadi Politisi! Diksi yang dipilih Arvan bagai sebuah perlawanan kaum Samin yang ditiru Arief Budiman untuk bergolput ria di Pemilu 1971.

Namun jangan salah sejak awal Arvan justru sepenuhnya menyatakan dirinya tidak anti politisi. Meski pada pengatar dia menceritakan bayangan-bayangan seram ketika menjadi politisi.

Bahkan si penulis The 7 Laws of Happiness ini justru berharap lewat buku ini politisi yang nanti meraih posisi—yang tentu saja membaca buku ini—mampu mengubah persepsi mereka terhadap politik.

Jika dulu politik adalah sebuah ruang jual beli imbal hasil maka panggung politik bisa berubah menjadi lebih manusiawi. Sebuah tempat mengabdi. Tempat memperjuangkan konstituen yang menitipkan asa dan mimpi untuk keadaan yang lebih baik ketika melakukan hak memilih mereka.

Arvan dengan gayanya yang asyik, sejak awal secara tidak langsung mengajak pembaca membuka mata lebar-lebar perihal tidak adanya politisi yang sepenuhnya jujur lewat sebuah talkshow di Metro TV.

Dalam sebuah acara ngobrol ngalur-ngidul perihal dana kampanye, para caleg tergagap dan berkilah. Hanya Meutya Hafid mantan jurnalis yang kini merapat ke Golkar yang lugas menjawab. Itu pun tidak sepenuhnya jujur.

Dengan runtut penulis bahkan mencerca Meutya dengan asumsi dan spekulasi yang bisa dikatakan nakal dan masuk akal. Uniknya perdebatan batin sang penulis berakhir pada kesimpulan sekaligus pertanyaan mengapa politisi berani bertaruh untuk sesuatu yang tidak jelas?.

Bahkan dilanjutkan pertanyaan yang cukup nakal. Bagaimana jika para politisi itu gagal, sebaliknya bagaimana jika mereka berhasil. Lagi-lagi asumsi dan spekulasi menggelitik yang disodorkan Arvan memancing geli bahkan bisa jadi senyum getir.

Harus diakui Arvan sangat tepat membidik tema sekaligus waktu peluncuran buku ini. Lagi-lagi, siapa sih yang tidak gembira atau sebaliknya bahkan sebal dengan pesta demokrasi lima tahunan yang selalu extravaganza ini?

Bahkan saya memuji Arvan yang lincah menjaga sisi aktualitas bahasannya. Mulai dari duit kampanye, tingkah anggota DPR yang—maaf saja lebih tepat norak—hingga permainan—maaf–para pelacur ilmu statistik dalam bungkus polling.

Satu kelebihan lain dari buku setebal 126 halaman ini adalah sangat personal. Arvan sangat percaya diri untuk membawa persepsi, asumsi bahkan gagasannya dengan gaya bahasa yang sangat intim.

Lihat saja ketika dia menulis ‘Tiga tokoh pilihan saya’ dengan akrab dia mengajak pembaca menimbang dan mencerna pilihan Arvan terhadap Amien Rais, Nurcholish Madjid dan Hidayat Nur Wahid.

Anda tidak akan merasa diintimdaasi dan digurui untuk setuju dengannya. Justru alur pemikiran Arvan yang logis mengajak pembaca untuk berpikir dan kritis. Pada beberapa paragraf penulis malah menantang Anda menjawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

April 2009
M T W T F S S
« Mar   May »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
%d bloggers like this: