it’s about all word’s

Buku baru Burhanuddin Abdullah

Posted on: May 14, 2009

Suara dari balik jeruji

Hampir tiga tahun saya tidak bersua Burhanuddin Abdullah dalam suasana santai. Terakhir berbincang santai adalah ketika dia meluncurkan buku Menanti Kemakmuran Negeri, bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-59 di Gedung Bank Indonesia.

Saat itu, Burhanuddin lebih sering tersenyum. Selain keluarga seperti ibu, isteri, anak, dan cucu hadir para ekonom seperti Faisal Basri, pengamat hukum perbankan Pradjoto, Bos Kompas Jakob Oetama, Direktur Pascasarjana UIN Jakarta Komaruddin Hidayat, budayawan Ajip Rosidi, serta para bankir.

Ya. Ketika itu pria asal Garut ini ada di puncak Republik ini. Sosoknya begitu penting sejak 17 Mei 2003, ketika jebolan Fakultas Pertanian, Universitas Padjajaran, Bandung resmi diangkat menjadi Gubernur BI.

Sayang, awal dan akhir karir Burhanuddin sebagai Gubernur BI sungguh pahit. Jika di awal pencalonannya dia diterpa gosip maka di akhir kekuasaannya jerat kasus aliran dana BI ke DPR yang mengirimnya ke jeruji.

Saya mencatat isu yang melingkari Burhanuddin a.l. kabar mark up rumah dinas di Sugarbush Lane dan town house, keduanya di Washington DC, backing Fuad Bawazier, isu poligami, hingga perseteruan dengan Miranda Gultom.

Sebagai isu, sampai saat ini kabar itu tidak terbukti. Justru sebuah kabar terakhir dari suami Ike Yuliawati ini yang membuat saya gembira. Pasalnya dikabarkan Burhanuddin sedang mempersiapkan buku terbarunya.

“Buku pak Burhanuddin segera diterbitkan. Sedang disiapkan. Dalam waktu dekat,” ujar salah satu sumber yang berprofesi sebagai novelis kepada saya baru-baru ini.

Kabar ini mengingatkan ucapan saya pada obsesi ayah dari Putik Rindu, Sultan Bestari, Arsy Syaikhan dan Rizki Firdaus ini sesudah menjadi Gubernur BI dia ingin menjadi novelis.

Pria yang pernah mengalahkan Jusuf Kalla dalam pemilihan Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (PP ISEI) memang seorang penggemar buku dan gemar menulis.

Santapannya mulai dari buku santai How to Win Friends and Influence People karya Dale Carnigie, Quick Fix karya Stephen R. Covey, Twilight-nya penulis Yahudi Elie Weisel hingga buku filosofi Cina karya Lin Yuntang.

Sementara soal tulis menulis Burhaddin malah sudah menulis sejak 25 tahun lalu. Dia bahkan pernah menulis dengan menggunakan nama samaran Han Tumanusa. Gaya menulisnya khas. Meski membahas hal-hal berat tapi tetap bergaya novelis.

Jadi sangat pantas jika publik menunggu buku terbaru Burhanuddin Abdullah. Akankah sebuah pledoi bergaya novel atau justru sebuah novel yang menyentuh ala Twilighti yang berkisah tentang perjuangan orang-orang yang tidak ingin dikalahkan oleh takdir. Kita tunggu saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

May 2009
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
%d bloggers like this: