it’s about all word’s

Mencari Shangri-La di Buddha Bar

Posted on: May 19, 2009

Nuansa tenang memang yang dijual Buddha Bar. Temaram dari pedar lampu atau kerlip lilin di lounge dan restoran menjadi bagian dari eksotika bar ini. Musik gedombrangan memacu adrenalin ala clubber dan partygoer tidak ada di tempat ini.

Republik saat ini sedang memanas oleh politik. Sebuah Shangri-La atau tanah dengan kedamaian total khayalan penulis Inggris, James Hilton saya dambakan. Tidak perlu jauh-jauh dicari hingga ke Himalaya, karena di Jakarta pun ada.

Tempat dengan kedamaian total itu adalah Buddha Bar. Letakknya di pangkal bilangan Teuku Umar, Menteng. Hanya sepeminuman teh dari Taman Suropati dan beberapa depa dari jalur kereta api Jabodetabek.

Buddha Bar Jakarta menempati bangunan antik berlantai dua Bataviasche Kunstkring. Gedung eks Imigrasi yang dibangun seorang arsitek Belanda, Pieter Adriaan Jacobus Moojen pada 1913 ini termasuk salah satu cagar budaya Ibu Kota.

Bangunan yang berdiri di atas lahan seluas sekitar 1.000 meter persegi itu tampak megah. Di balik pagar kayu setinggi 2 meter. Pada dinding muka lantai dua yang diapit kubah tampak tulisan “Immigasie Nst-Djawa N Immigrasi’.

Bau segar angin Jakarta sisa hujan deras siang hari masih kental di udara ketika saya tiba di muka di Buddha Bar. Manager Operasional Buddha Bar, Henry Marheroso hangat menyambut. Ini kunjungan kedua saya ke tempat ini.

Bar dengan konsep ramuan musik eksotis, mistik dan menenangkan ini awalnya dibuka Raymond Visan di Paris pada 1996. Sebagai sebuah merek, Buddha Bar sudah mengglobal.

Cabangnya ada di beberapa kota besar dunia. Mulai dari London, New York, Dubai, Sao Paulo, Kiev, Kairo, bahkan Beirut. Praktis, Jakarta adalah homebase Buddha Bar pertama di Asia-Pasifik.

Nuansa tenang memang yang dijual Buddha Bar. Temaram dari pedar lampu atau kerlip lilin di lounge dan restoran menjadi bagian dari eksotika bar ini. Musik gedombrangan memacu adrenalin ala clubber dan partygoer tidak ada di tempat ini.

Segelas mojito dingin menjadi pengantar kami mengobrol malam itu. Campuran rum putih, gula tebu, limun, air soda, dan aroma menthol dari daun mint segar menyiram kepenatan.

Tidak seperti kunjungan pertama yang cukup riuh gelak tawa pengunjung ekpatriat. Malam ini hanya ada meja lain tempat sekelompok pengunjung asal Singapura akrab mengobrol dalam intensitas suara pelan.

Alunan musik Buddha Bar yang membawa nuansa lounge music dan chill out temuan disc jockey (DJ) Claude Challe hingga DJ Ravin, DJ Sam Popat, dan DJ David Visan mengalun sedang.

Barat timur

Dinner kami malam itu cukup mewarisi citarasa barat dan timur. Namun, malam itu saya cenderung memilih makanan Asia. Semangkuk nasi putih Vietnam menjadi kudapan bagi Buddha Bar Chicken Salad, Spring Roll, Little Shrimp Tempura, dan Spice Barbeque Chicken, dan Wok Beef

Untuk penutupnya terdapat mango soup yang merupakan sup buah mangga dikocok dengan susu, potongan strawberry dan irisan daging kelapa. Aroma segar mangga terasa di langit-langit mulut.

Bagi saya makanan malam ini memanjakan lidah seperti pada kunjungan sebelumnya ketika saya sempat mencicipi beras mati yang punya rasa khas karena terbuat dari beras long grain India.

“Tentu saja rasa makanan sudah mengalami penyesuaian meski ada alokasi 30% boleh mengadopsi menu lokal namun itu tetap harus mendapat persetujuan terlebih dahulu,” ujar dia.

Menurut Henry sebagai sebuah waralaba, Buddha Bar Jakarta wajib mengikuti aturan yang telah diterapkan Buddha Bar Paris. Mulai dari suasana, interior hingga rasa makanan.

Tiga gelas mojito sudah saya habiskan. Saatnya bersantai di venue garden beratap langit di samping lounge. Secangkir kopi arabica Flores dengan aroma khas menjadi rekan berbincang. Dera hujan mulai turun menghempas.

Setiap sore dengan dikelilingi rimbunan tanaman, venue garden Buddha Bar menyediakan tempat minum teh dan cocktail bagi para pebisnis dan sosialista bercakap di sore metropol Jakarta yang sibuk.

Jarum jam sudah menunjuk penghujung malam. Rintik hujan belum mau berhenti. Beberapa tamu masih asyik berbincang. Ketenangan Buddha Bar meruap ke udara luar ketika saya melangkah pulang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

May 2009
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
%d bloggers like this: