it’s about all word’s

Giant Leap Nexian

Posted on: May 27, 2009

Menginjak tahun ke 4 keberadaan Nexian di Indonesia, produsen ponsel itu berhasil menjual lebih dari 3 juta unit telepon seluler di pasar domestik. Hal itu dilakukan produsen ponsel itu di tengah-tengah ketatnya persaingan penjualan perangkat telepon seluler.

Nexian merupakan pendatang baru di pasar telepon seluler di Indonesia. Pabrikan ponsel ini berasal dari China, dan dirakit di Indonesia.

Kendati produk ponsel ini belum “mengakar” sebagaimana seperti merek Nokia, Sony-Ericksson, Motorola, dan sebagainya, namun penggunaan ponsel merek ini sudah cukup masif. Penggunanya pun juga tidak merasa gengsi menggunakan produk ini.

Sebut saja Tomi. Laki-laki yang kesehariannya bekerja di sebuah percetakan ini dengan bangganya menunjukkan bahwa dirinya menggunakan ponsel bermerek Nexian.

“Pakai produk lokal ketimbang asing, dong. Lagian kualitas ponselnya juga bagus, nggak kalah sama yang lain,” ujarnya bangga.

Ya, sejak awal masuknya di pasar ponsel domestik, Nexian memang menggunakan “mantra sakti” sebagai produk lokal. Hal itu dilakukan di tengah-tengah serbuan ponsel produk asing di pasar Indonesia.

Salah satu prestasi yang dicatat saat itu adalah berhasil menjual 100.000 unit dalam jangka waktu enam bulan pertama. Tentu saja itu menjadi luar biasa untuk produk pendatang baru di di tengah ketatnya persaingan di pasar telekomunikasi seluler.

Beberapa cara yang ditempuh oleh Nexian untuk memperkuat brandnya sebagai produk lokal adalah dengan melakukan bundling atau penjualan satu paket dengan layanan operator telekomunikasi yang ada.

Semisal pada 2006, Nexian melakukan bundling dengan Esia yang merupakan layanan telekomunikasi dari PT Bakrie Telecom Tbk. Jenis ponsel yang dijual bundling dengan operator ini adalah NX 350.

Menurut Presiden Direktur PT Metrotech Jaya Komunika, Martono Jaya Kusuma, salah satu hal yang juga mendukung besarnya penjualan Nexian di pasar lokal adalah imigrasi frekuensi yang digunakan operator CDMA dari 1.900 Mhz ke 800 Mhz pada 2007.

“Kami menyediakan produk ponsel untuk frekuensi 800 Mhz, dan saat itu banyak operator CDMA yang membutuhkan ponsel dengan frekuensi tersebut,” ujar Marto.

Saat itu Nexian juga melakukan bundling dengan Flexi, yang merupakan layanan CDMA dari PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom). Dari hasil bundling tersebut, penjualan yang berhasil dicatat mencapai lebih dari 2 juta unit.

Pesatnya angka penjualan Nexian membuat produsen ponsel tersebut mendapatkan sejumlah penghargaan.

Salah satunya adalah dari Museum Rekor Indonesia (MURI), yang memberi penghargaan atas prestasi penjualan Nexian yang menembus angka 100.000 pada enam bulan pertama penjualan produk ponsel merek tersebut.

Penghargaan lainnya diperoleh dari KKG pada 2008 yang menobatkan Nexian sebagai CDMA favorit, serta Golden Ring Award.

Diakui oleh Marto Jaya Kusuma, faktor “sentimen” produk lokal cukup signifikan untuk mengangkat penjualan Nexian dalam waktu yang cukup singkat.

“Memang brand Nexian sebagai produk lokal mampu mengangkat penjualan produk ponsel ini, terutama juga ditunjang oleh bundling dengan operator telekomunikasi yang tepat,” tutur Marto.

Bundling yang utama

Kendati demikian, satu pendorong utama besarnya penjualan Nexian adalah melakukan bundling dengan operator telekomunikasi. Melalui cara itu, merek ponsel ini bisa meraih pasar sebesar yang dimiliki operator telekomunikasi yang bersangkutan.

Sejak masuk ke pasar Indonesia pada Februari 2006, Nexian sudah langsung menggandeng operator telekomunikasi. Setidaknya sudah ada tiga operator yang pernah digandeng Nexian.

Bahkan, 80% penjualan berasal dari program bundling. Sisanya, diperoleh dari penjualan melalui dealer.

Seperti halnya brand Esia yang merepresentasikan sebagai penyedia layanan telekomunikasi murah, Nexian sedikit banyak juga memperoleh pencitraan tersebut, di samping juga menawarkan produk yang berkualitas.

Demikian juga saat Nexian melakukan bundling dengan Telkom Flexi, penjualan produk ponsel tersebut ikut terangkat seiring dengan besarnya pangsa pasar yang diraup oleh operator CDMA itu.

Dan, yang tidak kalah fenomenalnya adalah saat Nexian melakukan bundling dengan PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) pada awal Mei lalu.

Pada saat launching produk ponsel yang di-bundling bersama XL, tak kurang sekitar 1.000 orang mengantre di lobby Plaza Ex Jakarta, untuk mendapatkan tiga buah ponsel program bundling dual on GSM XL dan Nexian.

Dalam kerjasama antara Nexian dan XL, diluncurkan tiga jenis ponsel bundling dengan berfitur dual on GSM. Ketiga tipe tersebut adalah NX-G700, NX-G800, NX-G900, yang masing-masing harganya, Rp 399 ribu, 699 ribu, dan 999 ribu.

Lebih dari 800 unit ponsel berhasil dijual kepada masyarakat pada hari pertama penawaran. Usut punya usut, besarnya minat masyarakat membeli ponsel Nexian yang dibundling XL lantaran terdapat feature Facebook, chating dan internet.

Ya, Facebook yang merupakan situs jejaring dunia maya yang belakangan ini sangat digandrungi oleh setiap pengguna internet di berbagai belahan dunia.

Nexian berhasil menawarkan feature Facebook dalam ponsel dengan harga yang jauh lebih murah jika dibandingkan dengan ponsel merek Blackberry.

“Meskipun fitur kami tidak selengkap mereka, tetapi kami yakin segmen pengguna Facebook sudah sangat luas,” kata Martono.

Berbekal keyakinan itulah, Nexian menargetkan pasar yang lebih luas dibanding pengguna BlackBerry, yakni 400 ribu unit penjualan, hingga pertengahan tahun ini.

Bundling tampaknya menjadi strategi jitu yang dipilih Nexian untukmendorong pangsa pasar di Indonesia. Martono mengakui pihaknya memilih operator telekomunikasi yang tepat untuk digandeng.

Seiring dengan bundling itu, Nexian juga berhasil membangun citra yang positif, sebagaimana seperti yang dibangun oleh operator telekomunikasi yang digandeng, seperti XL dan Telkom.

Sementara itu, Direktur Marketing Metrotech Jaya Komunika, Herbert Tobing menuturkan perseroan juga melihat trend yang berkembang di masyarakat. Facebook merupakan salah satu “wabah” yang sedang berkembang, dan Nexian menangkap potensi itu untuk menggenjot penjualan produk ponsel.

“Sebenarnya bukan hanya Facebook, tapi juga chating dan internet. Dengan menggandeng operator yang tepat, masyarakat bisa mendapatkan layanan tersebut dengan harga yang lebih rendah,” ujarnya.

Seperti saat memilih XL sebagai operator yang digandeng dalam bundling, Nexian menilai operator tersebut mampu memenuhi permintaan jaringan internet yang terjangkau oleh masyarakat, sekaligus menyediakan layanan yang memungkinkan untuk feature yang ada pada ponsel.

“Peluang yang ada cukup besar, dan kami akan memanfaatkan trend yang ada dalam masyarakat. Kami yakin, bisa menjual ponsel dengan memanfaatkan trend yang ada dalam masyarakat,” ujar Herbert.

Nexian meyakini selama memiliki strategi jitu dan pelayanan purna jual yang baik, ponsel lokal akan mampu melewati seleksi alam. Sama seperti tren penjualan sepeda motor China di awal tahun 2000 yang di awalnya ada puluhan merk dan hanya tinggal beberapa yang bertahan, hal ini juga bisa terjadi di penjualan ponsel ini.

Bagi Nexian, program bundling dengan operator telekomunikasi mampu mendongkrak penjualan sekaligus cocok untuk diterapkan saat daya beli masyarakat sedang menurun seperti saat ini.

”Kalau kita dipercaya oleh operator kan secara kualitas berarti kita sudah lolos uji kualitas yang mereka lakukan. Operator tidak mungkin kerja sama dengan vendor yang kualitasnya kurang baik. Kalau ada apa-apa kan operator juga akan terkena dampaknya,” kata Martono.

Selain dengan bundling, produk yang inovatif juga menjadi salah satu andalan. Selama ini, Nexian bermain di kelas entry level dengan harga di bawah Rp 300 ribu. Sejauh ini 90% produk ponsel ini ada di segmen harga tersebut.

Jaminan Pelayanan

Di pusat perdagangan ponsel kota Bandung seperti Bandung Electronic Center (BEC) dan ITC Kebon Kelapa, boleh dibilang sebulan dua kali muncul merek ponsel asal negeri Tirai Bambu itu. Apalagi di ITC Roxy Mas, Jakarta, yang lebih cepat menerima kehadiran produk baru ponsel.

Akan tetapi, gencarnya serbuan ponsel merek lokal buatan China itu bukannya tanpa masalah. Beberapa pembeli mengeluhkan layanan purna jual ponsel tersebut.

Sebut saja Roy yang ditemui di daerah Kebon Jeruk, Jakarta, pernah membeli ponsel merek lokal buatan China, justru menyesal membeli ponsel tersebut. Pasalnya, dia kesulitan memperbaiki setelah terjadi kerusakan ringan.

Masalah-masalah seperti itu disadari Nexian, kerap dialami oleh pengguna ponsel. Karena itulah, produsen ini menyediakan layanan perbaikan bagi ponsel yang diproduksinya.

Sekaligus, layanan itu mampu memperkuat penetrasi pasar di Indonesia dan meningkatkan kepercayaan pengguna ponsel ini.

“Semua layanan yang dibutuhkan masyarakat sudah kami persiapkan, mulai dari konten hingga masalah purna jualnya,” kata Herbert.

Kejelasan layanan ini pula yang menjadi salah satu persyaratan bisa diterima oleh operator telekomunikasi saat melakukan bundling.

Produk nasional?
Apa yang dialami Nexian tentu saja berbeda dengan kasus-kasus yang dialami oleh ponsel pendatang baru, terutama asal China saat masuk ke pasar lokal.

Hingga kini tak kurang dari 30 merek ponsel China dengan merek lokal ikut membanjiri pasar domestik alat telekomunikasi.

Sejauh ini jamak diketahui, produk-produk buatan negara Tirai Bambu itu berkualitas rendah dan diklaim sebagai produk jiplakan.

Namun, bagaimana dengan Nexian? Menurut Herbert, sejak awal Nexian sudah memosisikan diri sebagai ponsel merek lokal, kendati spare part ponsel tersebut berasal dari China.

Dengan langkah itu, ponsel tersebut berhasil menempatkan diri sebagai ponsel asal Indonesia.

“Pada awalnya, 2006, kami melakukan perakitan terhadap suku cadang yang kami datangkan dari China. Namun pada perkembangannya, kami bisa menciptakan suku cadang sendiri, terutama untuk ponsel yang low end,” ujar Herbert.

Untuk suku cadang dan perakitan ponsel Nexian generasi terbaru, kata Herbert, pihaknya memang masih mendatangkan dari negeri asal ponsel ini dibuat, China.

“Kami memang belum bisa merakit dan memproduksi ponsel yang high end. Sejauh ini produk-produk tersebut masih diambil dari China,” lanjut Herbert.

Guna mendukung kegiatan itu, Metrotech mempekerjakan sekitar 800 karyawan di bagian perakitan (assembling), dan 300 karyawan di bagian pemasaran. Saat ini Metrotech memiliki pabrik di daerah Karawang Jawa Barat.

Di perusahaan yang dibangun itu, pemegang saham terdiri dari PT Inti Pisma International (40%). Sisanya dimiliki PT J-Tech Manufacturing of Indonesia (11%), PT Airwave Technology (30%), dan PT Metrotech Jaya Komunika (19%).

Bagaimanapun, Nexian akhirnya berhasil mengembangkan produk ponsel dengan brand lokal, meskipun sebagian suku cadangnya berasal dari China.

Martono mengakui, mengembangkan ponsel dengan merek lokal sebenarnya cukup sulit. Di satu sisi pihaknya harus mengakomodasi “sentimen” kelokalan dalam sebuah produk ponsel.

Akan tetapi di sisi lain produsen ini harus menjawab permintaan konsumen terhadap layanan ponsel yang mengikuti trend kekinian. Karena itu lahirlah Nexian dengan berbagai variannya.

10 Responses to "Giant Leap Nexian"

Sebetulnya Nexian XL ini emg dijual sesuai promo gak sih???
Seperti dari harga,…ya walaupun beda kenyataannya tapi gak jauh2 bgt lah, mis.: dari Rp.399.000 malah jadi Rp.460.000 atau katanya tersedia dlm beberapa pilihan warna tapi kenyataannya hanya tersedia 1 warna saja. Belum lagi singkatnya waktu pembelian melalui XL, apakah hanya counter2 hp saja yg bisa membeli melalui XL???

Just sharing for info, terutama untuk wilayah bdg – survey di BEC:
Saat ini (tolong lihat tgl posting ya!) produk hanya tersedia di counter2 hp dgn harga:
-NX-G900 “si blackberry jadi2an” ini dijual dgn harga: Rp.1.380.000,-
-NX-G800 sliding dijual sesuai promo: Rp.699.000,- Tapi gak tau kenapa…kayanya brngnya numpuk alias kurang diminati.
-NX-G700 dijual dgn harga: Rp.460.000,- Tapi hanya tersedia warna ungu doang….

Kesimpulan: Harga, distribusi & keadaan produk yg sesuai promo,…tidak didapatkan

[…] buatan lokal itulah yang kini menjadi rebutan konsumen. Seperti Honda CBR 150, Nexian G900 pun mendapat julukan […]

om ….

Boleh nanya ga …??

Knp Ya Hp Nexian ku Ga Bsa Di cHaRge ??

uDa Nanya’in Tp kTanya aD appLikasi yG Rusak !!!

BoLe Mnta GaX …??

RepLy di bLog aQ

baterenya banyak nggak yang jual?

mestinya banyak…

sbetulnya, saya sedikit banyak kecewa sih dengan produk-produk pendatang baru asal China ini… pasalnya, saya pernah beli produk handphone merk mito… baru 6 hari, LCDnya tiba2 bergaris melintang kaya yang pecah, padahal gg saya apa2in… ketika saya konfirmasi ke pameran yang waktu itu ada di BEC, katanya gg bisa diganti baru… mesti diservis dan gratis… tp sampai sekarang handphone china saya masih bertanda garis di LCD nya… makanya saya kapok membeli ponsel jadi2-an… mndingan pilih yang sudah jelas kualitasnya… daripada kita ngeluarin uang banyak2 buat dibuang begitu saja…

ktnya hrga d’giant hnya 600 rbu z

Q jga krang tw nie lbih jlas z buk!!

kcewa klo kyk ginie….

gresyaadhindha@rocketmail.com

add jdi tmen u d’facebook

gk tw crnya tnya z ma a’e nma gresya (nma panggilan a’e)

wowow… keren gan..😀

kalau menurut saya ?
tetap pada nokia atau sony ericson.
soalnya kalau ada pelanggan minta game / applikasi hape Cina, saya nyerah. Belum ketemu nyarinya dimana

cassing nexian G901 ada gk??? klo ada saya mw pesen satu ajha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

May 2009
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
%d bloggers like this: