it’s about all word’s

Lola kurang pede nulis buku

Posted on: June 8, 2009

Lola Amalia memang seniman berbakat. Berangkat dari lomba model Wajah Femina 1997, Lola yang kemudian terjun ke dunia sinetron kini lebih dikenal sebagai sutradara dan produser film-film indie.

Gadis berdarah Palembang-Sunda ini sudah menjadi produser untuk film Novel Tanpa Huruf R (2004), kemudian membintangi dan menyutradarai Betina. Film ini meraih penghargaan ‘Netpac Award’ dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2006.

Betina juga menjadi salah satu film produksi Indonesia yang ditayangkan untuk pertama kalinya di luar Indonesia yaitu di Festival Film Internasional Singapura Ke-20.

Awal 2007, Lola pergi ke Taiwan untuk menyelesaikan syuting film produksi Detour to Paradise. Dalam film garapan sutradara Lee Ti-Tsai alias Andy Lee itu, Lola menjadi salah seorang bintang utama. Dia berperan sebagai tenaga kerja wanita dengan profesi pembantu rumah tangga (PRT).

Belakangan Detour to Paradise diganti judul menjadi Minggu Pagi di Victoria Park yang siap dirilis pada libur puasa tahun ini dengan menyasar segmen TKW dan keluarga mereka.

Victoria Park adalah salah satu taman terbesar di Hong Kong. Terletak di bilangan Pennington Street dalam kawasan Cause Way Bay yang menjadi pusat berkumpul para TKW Indonesia.

“Soalnya sudah ada film dengan judul serupa. Untuk menghindari kasus hukum ya kami ganti judulnya,” kata Lola.

Anak ketiga dari sembilan bersaudara ini menyebut film tentang TKW ini menantang karena harus belajar bahasa Kanton yang menuntut dialek yang lebih unik dibandingkan bahasa Mandarin.

“Bahasa Kanton ini lebih keras. Seperti tidak ada lembut-lembutnya. Aku diberi kesempatan belajar sekitar sebulan,” ujar satu-satunya ikon perempuan program A By Me yang digelar A Mild.

Maklum saja peran-peran Lola dalam sinetron maupun layar perak cukup unik. Lola pernah bermain dalam sinetron “Penari” garapan Sutradara Nan Triveni Achnas sebagai Sila, seorang penari erotis.

Sementara di layar lebar, Lola memulai debut dalam Tabir (2000), kemudian menyusul film berlatar zaman penjajahan Jepang, Dokuritsu (2000), Beth (2001) dan Ca Bau Kan (2002) yang dibintanginya bersama Ferry Salim.

Tidak tertarik membukukan perjalanan hidup? Lola langsung menggeleng. “Aku kurang pede kalau menulis. Kecepatan berpikirku tidak bisa diimbangi tangan. Tulisan jadi sering ngaco,” ujar kekasih sutradara Arya Kusumadewa. Arya itu sembari terkekeh.

Dalam waktu dekat Lola Amaria siap untuk mengarahkan film biografi dari Kangen Band. Alasannya Kangen merupakan grup band fenomenal dengan gebrakan musik Melayu Indonesia.

1 Response to "Lola kurang pede nulis buku"

blessings to you for writting a post on this.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
%d bloggers like this: