it’s about all word’s

Roti dari langit bagi Wimar

Posted on: June 23, 2009

Sebagai makhluk berkeinginan (homo volens), berpikir (homo sapiens), bermain (homo indens), curhat alias curahan hati bisa sekadar rekaman pikiran di buku harian yang tersimpan rapat atau dibagi luas lewat buku harian elektronik (blog).

Curhat di era manusia mesin (homo mechanicus) atau menurut Thomas Hobes manusia adalah pemangsa sesamanya (homo homini lupus), bisa membuat orang menderita. Dijebloskan dalam penjara atau kesulitan-kesulitan lain.

Lihat saja wartawan Mochtar Lubis yang dipenjara rezim Soekarno atau Pramoedya Ananta Toer yang dibui rezim Soeharto atau contoh paling aktual Prita Mulyasari yang diteralibesikan dengan alasan mencemarkan nama baik Rumah Sakit Omni International.

Hanya saja tidak sedikit curhat yang menjadi rezeki. Lihat saja curhat Andrea Hirata Seman yang menghasilkan Laskar Pelangi atau Raditya Dika dengan perenungan dahsyat Kambing Jantan.

Curhat pula yang membuat mantan aktivis 1960-an, presenter senior sekaligus mantan juru bicara kepresidenan di era pemerintahan Abdurraman Wahid, Wimar Witoelar meluncurkan More about Nothing (MAN).

Ini buku curhat kedua pria kribo bertubuh tambun. Tiga tahun lalu dia sudah merilis buku berjudul A Book about Nothing (2006).

“Orang bilang bahwa roti selalu berjatuhan dari langit dan keranjang untuk menangkap roti itu adalah sikap kita yang terbuka, siap sedia menangkap roti yang turun dari langit,” ujar suami dari Suvatchara Leeaphon itu.

Menurut calon presiden 1978 yang berujung penyerbuan militer ke kampus ITB itu, cerita dari bukunya berasal dari mana-mana. “Tinggal kita pasang keranjang, buka mata, telinga dan terutama hati.”

MAN berisi 27 tulisan dosen Magister Manajemen dan Bisnis Administrasi ITB, isinya tentang hal-hal yang dialami semua orang, namun dengan gaya dan caranya. Dengan demikian, menurut Wimar, itu bisa ditilik lebih dalam.

Hal yang tidak penting yang ternyata banyak pihak menganggapnya penting. Namun, tetap saja hal yang tidak penting jika dikemas lewat sudut pandang berdasarkan kekuatan referensi yang tajam bisa menjadi artikel yang tajam.

Maklum selain pernah jadi dosen, Wimar pernah menjadi konsultan, pengusaha real estat, keuangan, jual beli komputer, pelayanan audio visual yang menyuplai film ke sejumlah stasiun TV asing, termasuk bos perusahaan modal ventura yang sayang bubar.

Kelahiran MAN cukup unik. Awalnya tujuan Wimar menulis bukan untuk membuat buku. Namun, lama-lama semakin banyak tulisan yang dihasilkan. Diam-diam, asistennya mengirim secara rutin ke majalah Area dan dimuat.

“Ya, katanya sudah terbit di sana sini, saya nggak tahu. Honornya juga saya nggak tahu. Bercanda. Honornya ada kok, buat uang perusahaan,” ujar Wimar yang kini beraksi dalam talkshow politik Wimar Live di Metro TV.

MAN semakin unik karena diterbitkan oleh Gagasmedia, penerbit yang lebih eksis sebagai penerbit novel-novel remaja. Jadi sudah bisa ditebak arah komunikasi apa yang kini ditempuh Wimar lewat buku ini. Renyah namun bernas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
%d bloggers like this: