it’s about all word’s

Lets help Indonesian SME

Posted on: July 31, 2009

Menggulirkan roda ekonomi sebenarnya

Keberadaan Usaha Kecil Menengah dan Mikro (UMKM) belakangan ini menjadi salah satu “nafas” bagi perbankan nasional. Ketika perusahaan besar (korporasi) terengah-engah menghadapi kondisi perekonomian yang mulai, bank-bank di Tanah Air mulai berbondong-bondong ke UMKM.

Ya, ada sejumlah alasan bank-bank di Indonesia mulai melirik UMKM sebagai salah satu penopang pendapatan melalui penyaluran kredit.

Salah satunya adalah UMKM lebih kebal dari krisis perekonomian. Skala bisnis yang kecil dan pasar yang pasti, menjadikan unit usaha skala kecil tidak mudah tersentuh krisis global.

Selain itu, usaha kecil juga relatif mudah dikontrol. Selain melalui kinerja keuangannya, usaha kecil ini bisa dipantau secara sosial, lantaran keberadaannya menyatu dengan masyarakat keseharian.

Beberapa bank yang mulai melirik ke UMKM di antaranya adalah Bank Mandiri. Bank BUMN tersebut mulai mengembangkan kredit usaha kecil, karena potensi bisnisnya yang cukup besar.

Seperti diketahui sebelumnya, Mandiri merupakan bank spesialis pembiayaan korporasi. Kredit dengan skala besar digelontorkan bank pelat merah ini ke berbagai perusahaan raksasa di Indonesia.

Namun saat situasi ekonomi sedang mengalami guncangan, banyak korporasi yang mengalami guncangan. Akibatnya cicilan pembayaran utang ke kreditor menjadi tersendat.

Bank Mandiri mengalami kondisi ini pada awal 2000-an, saat kondisi ekonomi Indonesia belum pulih. Akibatnya, rasio kredit bermasalah (non performing loan/ NPL) melonjak hingga di atas 4%. Padahal, rasio NPL yang wajar adalah di bawah 3%.

Belajar dari pengalaman itu, Bank Mandiri lantas melirik sektor UMKM sebagai sasaran penyaluran kredit. Tak hanya Mandiri, Bank BUMN lain yaitu BNI juga mulai memberi porsi yang besar untuk UMKM.

Seperti diungkapkan Direktur Konsumer BNI Darwin Suzandi, perseroan akan meningkatkan porsi kredit UMKM dan konsumer hingga 60%, dan sisanya sebesar 40% untuk korporasi.

Sebelumnya, bank pelat merah ini mengalokasikan kredit untuk UMKM sebesar 55% dari total kredit.

“Kita menuju 40 persen korporasi dan 60 persen untuk UKM dan konsumsi. Itu untuk keseimbangan saja. Kita sudah belajar, yang strukturnya kuat kan sektor kecil dan menengah,” katanya.

Sementara itu, Direktur BRI Sulaiman Arif Arianto mengatakan ekspansi kredit BRI pada 2009 ditargetkan tetap tumbuh di kisaran 20%-25% dengan patokan margin bunga bersih sekitar 10%.

“Kami masih mengandalkan pertumbuhan kredit di sektor UKM yang masih tumbuh sesuai dengan target dan komposisi dapat dipertahankan minimal 80% dari total kredit,” katanya.

Ekspansi kredit tetap difokuskan ke sektor usaha kecil menengah terutama pelaku usaha yang berorientasi di pasar domestik dan tidak terpengaruh krisis global.

Sejumlah sektor usaha yang masih menunjukkan prospek cerah untuk dibiayai di antaranya agrobisnis yang bersifat single natural based. Program pembiayaan itu dilakukan melalui kemitraan seperti inti plasma sawit.

Sulaeman mengatakan penyaluran kredit di sektor UKM memiliki bobot aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR) yang rendah sehingga tidak membebani permodalan.

Ya. Potensi UMKM di Indonesia sebenarnya masih cukup besar, mengingat selama ini pelaku usaha kecil masih berkutat di pasar domestik, dan belum menjajal ke pasar ekspor.

Kalangan perbankan nasional juga tak banyak memberi perhatian khusus mengenai potensi yang bisa digali di UMKM. Selama masih memberikan keuntungan yang diharapkan, perbankan membiarkan pelaku usaha kecil menjalankan usahanya seperti saat ini.

Kondisi ini sangat berbeda dengan perbankan China, yang justru mendorong UMKM-nya menguasai pasar ekspor dengan memberikan kredit yang cukup besar untuk pengembangan pelaku usaha tersebut.

Sekedar referensi, hingga akhir Mei lalu, empat bank BUMN China menyalurkan kredit sekitar 6 triliun yuan US$ 878 miliar, atau sekitar Rp8.780 triliun kepada usaha kecil dan menengah (UKM).

Langkah pengucuran kredit itu merupakan tindak lanjut dari dorongan pemerintah negara tersebut telah berulang kali mendesak kepada perbankan untuk mendukung sektor UKM yang kekurangan modal.

Pemerintah China menilai sektor UMKM dianggap memiliki peran sangat penting bagi perekonomian RRT. Pasalnya, selain mampu menciptakan banyak lapangan kerja, UKM relatif tahan terhadap hantaman krisis ekonomi global.

Sementara itu, Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), bank terbesar di China telah menyalurkan kredit baru hingga hingga 325,4 miliar yuan kepada UKM dalam lima bulan pertama tahun ini, atau 61% dari total kredit yang disalurkan bank tersebut.

Agricultural Bank of China (ABC) telah meningkatkan kredit ke UKM hingga 240 miliar yuan pada 2009 atau setara dengan separuh total kredit baru bank ini.

Kredit baru Bank of China ke UKM melonjak 44% selama Januari-Mei lalu dibanding periode sama tahun lalu.

Postal Savings Bank of China (PSBC) telah menambah 70 miliar yuan kredit untuk UKM sejak bank ini mulai memberikan kredit ke sektor usaha tersebut sejak Juni 2008.

Salah satu bankir China menuturkan penyaluran kredit perbankan China ke UKM telah turut berperan menjaga pertumbuhan penyaluran kredit nasional. Tahun ini, tingkat penyaluran kredit ke sektor UKM lebih tinggi dibanding penyaluran kredit sektor usaha besar.

Perhatian terhadap UKM akan tetap besar dan dukungan bank-bank BUMN dalam penyaluran kredit ke sektor tersebut masih terus berlanjut

Sementara itu, profesor dari China Europe International Business School Xu Xiaonian berpendapat bahwa bank-bank kecil dan menengah seharusnya tetap menjadi kekuatan utama penyaluran kredit ke UKM. Pasalnya, bagi bank-bank besar, penyaluran kredit ke UKM tidak terlalu menguntungkan.

Tak hanya di pasar lokal, dengan bantuan pinjaman tersebut, pelaku UMKM China telah merajai berbagai pasar di dunia. Barang-barang buatan negara Tirai Bambu itu telah tersebar di mana-mana, dan menggusur produk domiestik dari negara yang dimasuki.

Di Indonesia, barang-barang China dengan mudah dijumpai di berbagai pusat perbelanjaan hingga infrastruktur vital untuk layanan publik. Mulai dari kaos dalam buah-buahan sampai alat pembangkit listrik.

Tentu saja, hal itu tidak lepas dari dukungan pendanaan bank di negara yang bersangkutan kepada pelaku usaha, terutama UMKM.

Di Indonesia, alih-alih menguasai pasar ekspor, berbagai produk UKM justru terancam oleh kehadiran barang-barang dari China. Selain itu, bank-bank juga dinilai kurang serius dalam menyalurkan pembiayaan ke UKM.

Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menangah, Suryadharma Ali sempat mengeluhkan kurang seriusnya bank pelaksana dalam penyaluran kredit usaha rakyat (KUR), yang notabene disalurkan untuk UKM.

Bank pelaksana tersebut terdiri dari lima bank BUMN yakni BRI, BNI, Bank Mandiri, Bank Syariah Mandiri, BTN dan satu bank swasta, Bukopin.

Menurutnya, semester I 2009, baru Rp2 triliun dari Rp 22 triliun dana KUR yang terserap. Padahal idealnya, setiap bulan dana KUR yang terserap tiap bulannya sebesar Rp 1,75 triliun. Sehingga pada enam bulan pertama tahun ini dana yang terserap sebesar Rp 10 triliun.

Dalam pandangannya, kendala terbesar dalam penyerapan kredit tersebut adalah peraturan BI checking. Yakni pihak bank akan melakukan pengecekan terhadap pelaku UKM yang mengajukan kredit.

Persyaratan yang diajukan bank dinilai terlalu ketat, sehingga banyak pelaku usaha kecil yang tidak bisa menerima pinjaman yang merupakan program pemerintah itu.

Padahal, kalau merujuk pada survey yang dilakukan HSBC baru-baru ini terlihat bahwa pelaku UKM di Indonesia masih optimis dan memiliki potensi untuk tumbuh pada tahun ini, kendati perekonomian global sedang lesu.

Head of Small Business Enterprises HSBC Indonesia Steven Miller menuturkan said bahwa dari hasil survey terlihat bahwa pelaku UKM di Indonesia masih cukup bagus ke depannya.

Pelaku industri kecil akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 2009.

“Para pelaku UKM akan mengambil langkah yang konservatif dalam berinvestasi. Dan secara umum mereka belum banyak melakukan promosi,” ujarnya.

Indonesia merupakan salah satu negara yang pelaku UMKM-nya masih berpotensi besar. Selain Indonesia, UKM yang juga memiliki prospek tumbuh pelaku di Hong Kong, China, Taiwan, Bangladesh, Singapore, India, Vietnam, Korea, serta Malaysia.

Bersama Bangladesh, Vietnam, dan India, pelaku UKM di Indonesia adalah yang paling optimis menghadapi pasar, ketika opada saat yang sama, pelaku UKM di negara yang tergolong “Macan Tua Asia”, Singapura, Taiwan and Hong Kong pesimis mengahadpi kondisi pasar.

Margaret Leung, Global Co-head of Commercial Banking HSBC menuturkan pelaku UKM merupakan salah satu solusi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dari berbagai negara yang saat ini dilanda krisis.

Dukungan Pemerintah

Namun jika dilihat di tingkat perbankan, upaya untuk mendorong UKM dengan masuk ke pasar ekspor hampir tidak ada. Padahal, pada saat yang sama pemerintah sudah mendorong sektor bisnis tersebut menguasai pasar luar negeri.

Beberapa waktu lalu, Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) menggandeng PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA), selaku mitra ekslusif alibaba.com, untuk mendukung ekspansi 250 pengusaha kecil dan menengah ke pasar global.

Pemerintah menilai perlu adanya terobosan yang inovatif untuk meningkatkan pemasaran produk di tengah krisis keuangan saat ini. Penggunaan jalur e-commerce dinilai efektif untuk mendapatkan akses ke pasar global.

SMMA akan menyediakan sistem terintegrasi dalam bentuk keanggotaan premium alibaba.com bagi sekitar 250 UKM yang diseleksi oleh BPEN.

UKM yang telah lolos seleksi tidak akan dipungut biaya dan akan dipromosikan produknya di global melalui website itu sehingga pembeli dapat melihat produk. Program itu akan dievaluasi secara periodik untuk mengetahui perkembangan transaksi.

Alibaba.com merupakan penyedia jasa global bisnis ke bisnis (B2B) e-commerce dengan lebih dari 40 juta anggota dari 240 negara.

Salah satu contoh yang lain yang diupayakan pemerintah adalah seperti yang dilakukan Kementerian Negara Koperasi dan UKM merintis ekspor UKM Indonesia ke negara-negara Eropa melalui Uganda.

Salah satu ekspor yang potensial untuk dikirim ke Eropa melalui Uganda adalah furnitur. Namun, ekspor produk tersebut sejauh ini masih menemui ganjalan dalam hal suplai bahan baku.

Komoditas lain yang akan dijajal untuk dikirim ke Eropa melalui Uganda adalah madu. Sejauh ini hampir sebagian besar madu yang dipasarkan di Indonesia dicampur dengan bahan lainnya. Oleh karena itu pelaku usaha madu diminta menyediakan madu murni sesuai dengan permintaan Uganda.

Bagian CSR

Saat ditanya mengenai dukungan perbankan terhadap UKM menembus pasar ekspor, Sekretaris Perusahaan BNI Intan Abdams Katoppo menuturkan sebenarnya pihaknya secara tidak langsung juga ikut mendorong UKM masuk ke pasar global.

Intan mengakui bahwa hingga saat ini pihaknya tidak memiliki program khusus untuk UKM agar bisa berekspansi ke luar negeri.

Selama UKM bisa mencatat pertumbuhan, hal itu sudah dianggap memiliki prospek dan bankable untuk dibiayai.

“Namun kami secara tidak langsung juga ikut mendorong UKM masuk ke pasar ekspor. Caranya, kami melakukan pelatihan-pelatihan untuk para pelaku UKM. Pelatihan meliputi pemanfaatan internet untuk memasarkan produk ke luar negeri,” ujarnya.

Menurut Intan, dorongan bagi pelaku UKM untuk masuk ke pasar ekspor itu merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/ CSR).

“Namun di sisi yang lain kami juga membantu dengan memberikan kredit bagi UMKM. Namun kami tidak memiliki program yang spesifik, bahwa pelaku UMKM yang akan masuk pasar ekspor akan mendapat prioritas untuk dibiayai,” tuturnya.

Hal yang hampir serupa juga terjadi di bank-bank nasional, bahwa dorongan bagi UKM untuk masuk ke pasar ekspor lebih banyak dilakukan melalui CSR dan bukan melalui hubungan bisnis murni, yaitu melalui penyaluran kredit.

Dukungan perbankan bagi UKM untuk masuk ke pasar ekspor sejauh ini memang lebih banyak dilakukan melalui kegiatan CSR yang relatif insidental, dan tidak berkelanjutan.

Wakil Ketua Kadin Bidang UMKM Sandiaga S. Uno menuturkan perbankan di Tanah Air saat ini sebenarnya sudah berlomba-lomba masuk ke UMKM, dan membangkitkan potensi yang ada pada pelaku usaha kecil dengan berbagai pembiayaan.

Dukungan yang lebih besar lagi dinilai penting, mengingat pasar Asean mulai terbuka, seiring dengan penghapusan bea masuk barang di antara negara-negara Asean.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

July 2009
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
%d bloggers like this: