it’s about all word’s

Angin segar untuk kaum indie

Posted on: August 23, 2009

Belakangan, komunitas musik indie Tanah Air dapat menarik nafas panjang. Eksistensi mereka di jagat permusikan lebih diakui dan mulai mendapatkan tempat yang layak di ajang internasional yang digelar di negaranya sendiri.

Salah satu acara yang menyorot identitas mereka adalah Java Rockin’land 2009. Rencananya diadakan 7 hingga 9 agustus di Pantai Karnaval Ancol, Jakarta Utara.

Penyelenggara acara Java Festival Production (JFP) menggabungkan puluhan band indie dalam negeri dengan band indie asing, juga band lokal dan asing yang sudah tergabung ke dalam major label.

Perhelatan ini jauh lebih besar dibandingkan Jakarta Pop Alternative Festival 1996 yang menghadirkan Foo Fighters, Beastie Boys, Sonic Youth untuk bertarung dengan pentolan musik cadas Tanah Air seperti Netral, Pas, dan Nugie.

“Band indie yang main di sini hampir 50% dibandingkan major label. Kenapa kami memperbanyak jumlah pendukung acara dari band indie karena melihat potensi mereka,” ujar Dirut JFP Dewi Allice Lydia Gontha kepada Bisnis beberapa waktu lalu.

Perempuan yang akrab disapa Dewi Gontha ini menilai potensi besar yang dimiliki band indie Indoensia. Sayangnye mereka tidak memiliki media promosi yang baik sehingga meningkatkan daya saing.

Para band indie akan bergabung diantara 75 artis pendukung total Java Rockin’land 2009. Selama 3 hari pertunjukan yang akan dimulai 15.30 WIB dan diakhiri sekitar pukul 01.00 WIB.

“Kami juga banyak terbantu publikasi yang dilakukan band indie di komunitasnya. Penjualan bagus lewat mereka, ada yang pakai sarana blog promosinya, macam-macam” paparnya

Idealego, salah satu band indie yang ikut meramaikan ajang tersebut tersenyum lebar. Mereka menilai sudah saatnya promotor besar memperhatikan potensi besar band indie.

Industri musik Tanah Air dinilai sudah jenuh dengan musik keluaran major label yang ada saat ini. Rama Soebardja, vokalis Idealego mengatakan kehadiran festival tersebut akan semakin membuat mereka lebih dikenal pasar dan mampu bersaing dengan produk major label.

“Bagus banget event ini, indie kan bukan buat indie aja tapi juga buat umum. Kalau event lain yang sebesar ini kan dimonopoli penampilan band major label, tapi ini tidak, mereka tidak diskriminatif,” kata Rama.

Incar mata dunia

Band yang berdiri 9 November 2005 berharap mereka juga mendapatkan imbas positif setelah bermain di Java Rockin’land. Semakin banyak media massa elektronik yang memainkan klip musik mereka sehingga dapat menghimpun pasar yang lebih banyak lagi.

Band asal Jakarta yang terdiri dari 5 personel ini akan menemani band indie nasional seperti Netral, The Adams, dan Pure Saturday. Tidak ketinggalan Koil, dan The Sigit.

“Harapan kami sih dapat masuk major label nantinya. Asalkan lagu yang kami buat bukan lagu pesanan, jadi kami masih bisa bebas berkreasi,” ujar pria yang akan manggung di Java Rockin’land pada 7 Agustus bersama band nya yang beraliran modern rock.

Vokalis Zeke and The Popo, Zeke Khaseli bernada sama dengan Rama. Band yang mengusung aliran musik rock alternatif ini menyambut gembira antusiasme promotor yang semakin gencar mengajak mereka bermain di gelaran akbar bertaraf internasional.

“Penyelenggara sudah melihat banyak yang suka musik indie, mereka melihat pasar indie sudah membesar dibandingkan 2 tahun lalu. Tadinya kami jarang sekali diajak main, event seperti Soundrenalin atau yang lain tidak sampai melibatkan band indie sebanyak ini,” kata Seke

Dia berharap ajang yang diarahkan menjadi perhelatan tahunan ini dapat menjaring lebih banyak lagi apresiasi konsumen musik lokal terhadap band indie lokal. Bersama 3 orang personel lainnya, pria yang sehari-hari berprofesi sebagai composer musik film ini dapat melecut berharap ajang ini membuka jalan bagi kesuksesan yang lebih besar bagi mereka di masa depan.

Harapan Zeke diamini Dewi Gontha. Pada dasarnya Java Rockin’land 2009 dibuat untuk menghibur pasar Indonesia sekaligus mendatangkan pecinta musik asing datang ke Tanah Air.

“Melalui Java Jazz kami sudah mendatangkan orang dari Eropa, target festival kali ini juga untuk dapat mendatangkan banyak orang asing ke Indonesia,” ujar putri Peter F. Gontha.

Salah satu kekuatan festival tersebut menurutnya adalah kehadiran artis pendukung yang memiliki penggemar fanatik di Indonesia. Sebut saja Mr. Big, Vertikal Horizon, dan Third Eye Blind yang menarik hati fans yang kebanyakan berusia 30-an.

Kendati berharap menjual 15.000 pengunjung di tahun pertamanya, JFP optimistis dapat meraih titik impas (break even point/BEP) pada tahun ketiga. Ini mengacu pada perhelatan tahunan Java Jazz yang digelar JFP.

Java Jazz pada tahun pertama hanya mampu menarik 47.000 orang untuk datang, angkanya berlipat ganda di tahun keliam menjadi 80.000 penonton.

“Risiko tahun pertama kedua dan ketiga sudah diperhitungkan. Tahun ketiga kami berharap dapat meraih 25.000 pengunjung, baru pada tahun keempat penyelenggaraannya kami berharap akan mendapatkan keuntungan,” tuturnya ringan.

Sayang Dewi enggan menyebut target keuntungan dan ongkos produksi dari ajang ini. Maklum urusan rahasia dapur.

Festival rock internasional Java Rockin’land yang digelar 7 hingga 9 Agustus di Pantai Karnaval Ancol dipadati sekitar belasan ribu penonton per harinya. Paul Dankmeyer, Direktur Java Festival production (JFP) merupakan tokoh kunci di balik kesuksesan tersebut.
Dia dipercaya JFP, selaku penyelenggara, melobi beberapa artis asing papan atas untuk datang bermain di ajang yang baru pertama kali digelar tersebut. Selain Mr. Big dan Third Eye Blind, festival juga dimeriahkan Mew, Melee, Vertical Horizon, dan Bagga Bownz.
Bisnis berbincang dengannya seputar hal itu dan juga sekelumit mengenai industri musik Tanah Air. Berikut petikannya:

Bisa diceritakan bagaimana mempersiapkan acara ini?

Kami mempersiapkan acara ini dari awal 2009. Mulai mencari sponsor, kebetulan sponsor kami menyukai konsep festival yang baru pertama kali digelar ini. Setelah itu mencari tempat pertunjukan, membuat whistlist, juga menghubungi artis yang akan bermain.

Apakah sempat mengalami kesulitan di tengah jalan?

Untuk Java Rockin’land kami awalnya mencoba mendatangkan band Stone Temple Pilots. Mereka sulit, jadwal mereka bentrok dengan acara lain. Mereka baru memberi keputusan cukup mendadak beberapa bulan sebelum hari H. Kami agak pusing pada waktu itu, tapi langsung kami menghubungi Third Eye Blind dan bisa, manajemennya lebih mudah diajak kerjasama.

Anda dikenal sebagai sosok yang pintar melobi artis asing datang ke Indonesia untuk setiap gelaran JFP, apa bagian yang paling menantang dari peran tersebut?

Yang paling menantang adalah bagian menyinergikan bujet dengan harga yang ditawarkan artis asing. Dari pihak mereka menginginkan harga yang mahal tapi pihak kami menginginkan harga yang lebih rendah. Saya senang kalau semuanya sesuai bujet.
Orang Indonesia menginginkan banyak artis ternama bisa didatangkan ke Indonesia. Misalnya Phil Collins atau U2, tapi kami masih berhitung. Semua bisa asal ada dananya…ha…ha…ha.
Untuk pertunjukan U2 saja, harganya saya taksir di atas US$1 juta. Kalau mau mereka datang ya harus siap dana.

Itu untuk mendatangkan satu grup musik, kalau untuk Java Rockin’land berapa ongkos produksi total yang harus dikeluarkan JFP?

Saya lupa…ha…ha…ha (katanya enggan membocorkan rahasia dapur). Ongkos produksi festival musik di Indonesia beragam. Untuk Java Jazz yang kami buat sebelum Rockin’land saja berbeda.

Anda juga dikenal sebagai musisi dunia yang juga sempat membuat gelaran seperti ini di negara lain. Bagaimana pendapat Anda mengenai bisnis pertunjukan yang menyemarakkan industri musik Indonesia belakangan?

Ya saya memang sudah 26 tahun ada di industri musik. Saya orang Belanda, dan lama kenal dengan Peter F. Gontha (bos JFP). Kami berkenalan sejak tahun 1980-an sewaktu saya masih memegang posisi Program Director North Sea Jazz.
Setelah kenal dia saya diajak bergabung untuk membuat festival di Indonesia. Lalu satu persatu kami lakukan, Java Jazz dan Rockin’land ini diantaranya.
Industri musik Indonesia masih kecil. Di Belanda, festival musik seperti ini (Rockin’land) saja ada setiap minggunya. Saya pikir bisnis hiburan akan selalu berkembang di Indonesia tidak terlalu kena efek krisis keuangan global.

Menyikapi pasar yang masih terbuka amat lebar, strategi apa yang dilakukan JFP untuk meningkatkan penetrasi pasar dan memenangkan kompetisi?

Kami memiliki tim yang solid, selain saya dan Peter F. Gontha, ada juga Dewi Gontha dan Eki “Humania” Puradiredja selaku program kordinator. Kami memiliki ahli di bidangnya masing-masing untuk selalu menyuguhkan musik yang berkualitas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

August 2009
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: